- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menolak anggapan bahwa ekonomi Indonesia saat ini memasuki krisis atau resesi.
- Meskipun Rupiah melemah dan IHSG turun, Menteri Keuangan menyatakan ekonomi Indonesia masih dalam fase ekspansi.
- Pemerintah berkomitmen menjaga daya beli masyarakat dan investor pasar saham diminta tidak perlu merasa khawatir.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah kalau kondisi ekonomi Indonesia memasuki masa krisis hingga resesi akibat perang geopolitik Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Menkeu Purbaya mengklaim kalau fenomena mata uang Rupiah lemah hingga Rp 17 ribu dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 3,27 persen ke 7.337 tidak serta merta membuat daya beli masyarakat hancur.
"Rupiah Rp 17.000, IHSG anjlok, karena sebagian teman-teman ekonom bilang katanya kita sudah resesi, 1998 lagi, ya gitulah. Daya beli sudah hancur. Tidak seperti itu," katanya saat melakukan inspeksi mendadak di Tanah Abang, Jakarta Pusat, dikutip Selasa (10/3/2026).
Bendahara Negara menilai kalau ekonomi Indonesia justru sedang ekspansi. Pemerintah dinilainya sedang menjaga daya beli masyarakat.
Ia juga menegaskan kalau kondisi saat ini bukanlah krisis ataupun resesi. Purbaya meminta investor pasar saham untuk tidak takut dengan keadaan ekonomi RI.
"Ekonomi sedang ekspansi. Daya beli kita jaga mati-matian. Dan boro-boro krisis. Jangankan krisis. Resesi saja belum, melambatnya saja belum. Kita masih ekspansi, masih akselerasi. Itu yang kita jaga terus dalam beberapa minggu ke depan. Jadi yang investor di pasar saham, tidak usah takut. Fondasi kita jaga betul," paparnya.
Menkeu Purbaya menyinggung soal krisis 1998, di mana Pemerintah sudah belajar dan berhasil melewati masa krisis di 2008-2009. Begitu pula di periode 2020 yang bertepatan dengan Covid-19.
"Jadi teman-teman tidak usah takut. Kita sudah punya pengalaman dan pengetahuan yang cukup untuk memitigasi segala gejolak yang terjadi. Tentunya dengan langkah yang diperlukan, kalau diperlukan. Yang jelas kalau pengalaman 2008, 2020, 2015, kita bisa menjaga momentum pertumbuhan ekonominya," jelas dia.
Baca Juga: Sentuh Rp16.949 per Dolar AS, Rupiah Berpotensi Tertekan jika Konflik Timur Tengah Berlanjut
Berita Terkait
-
Sentuh Rp16.949 per Dolar AS, Rupiah Berpotensi Tertekan jika Konflik Timur Tengah Berlanjut
-
Purbaya Pastikan Anggaran MBG Tak Dipotong, Tapi Belanja Diperketat
-
Purbaya Salahkan Ekonom soal Rupiah Lemah ke Rp 17 Ribu hingga IHSG Jeblok
-
Aneka Kue Kering Mulai Diburu Warga di Pasar Jatinegara
-
Terjepit Banjir dan Tren Belanja Online, Nestapa Pedagang Pasar Cipulir Menjelang Idulfitri
Terpopuler
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
- 4 HP realme dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- HP Rp1,5 Jutaan yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik David GadgetIn
- Berapa Harga Sepatu Lari Ortuseight Ori? Ini 5 Pilihan Bagus untuk Daily Run
Pilihan
Terkini
-
Dorong Kenyamanan Wisata Bali, BTN Ekspansif Dorong Bale Untuk Permudah Transaksi
-
RUPS PT Telkom Setujui Dividen Rp21,9 Triliun dan Buyback Saham Rp4 Triliun
-
Hak Ekspor CPO Milik Eksportir Masih Berlaku, Tak Direbut PT DSI
-
OJK dan CFX Dorong Inovasi dan Regulasi Adaptif di Industri Aset Kripto
-
CFX Gandeng Sejumlah Perguruan Tinggi Perkuat Literasi Aset Kripto dan Blockchain Nasional
-
IDRX: Stablecoin Rupiah Penting untuk Menjaga Kedaulatan Digital Indonesia
-
Regulasi Kripto Sudah di Level UU, DPR Sebut Indonesia Selangkah Lebih Maju
-
OJK Siapkan Tiga Kebijakan Strategis, Dorong Tokenisasi Aset dan Stablecoin Nasional
-
Masuk Tahun Ketiga, CFX Fokus Perkuat Pilar Kepercayaan Industri Kripto Nasional
-
Sepakat Bayar Denda Rp 97,49 M, Purbaya Buka Lagi Gerai Tiffany & Co Usai Disegel Bea Cukai