- Rupiah melemah menjadi Rp16.893 per dolar AS pada pembukaan Kamis (12/3/2026), turun 0,05% dari penutupan sebelumnya.
- Pelemahan nilai tukar rupiah diakibatkan oleh meningkatnya ketegangan perang di Timur Tengah yang mengancam pasokan minyak.
- Sebagian besar mata uang Asia lainnya juga terpantau melemah, terkecuali yen Jepang dan dolar Hongkong yang menguat.
Suara.com - Pergerakan nilai tukar rupiah masih melanjutkan pelemahan pada pembukaan hari ini. Mata uang garuda pun sudah melemah pada penutupan kemarin.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar Kamis (12/3/2026) dibuka ke level Rp16.893 per dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Indonesia pun melemah 0,05 persen dibanding penutupan pada Rabu (10/3/2026) yang berada di level Rp16.886 per dolar AS.
Sedangkan, kurs Jisdor Bank Indonesia tercatat di Rp16.867 per dolar AS. Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah disebabkan oleh tensi perang di Timur Tengah (Timteng)
"Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS di tengah kembalinya kekuatiran seputar disrupsi pasokan minyak mentah dunia," katanya saat dihubungi Suara.com.
Namun, mata uang Garuda masih diprediksi akan tertekan lebih lama. Sebab,masih ada kekhawatiran harga minyak yang melonjak.
"Harga minyak mentah dunia kembali melonjak walau ada harapan dukungan dari rencana perlepasan cadangan minyak besar-besaran oleh anggota-anggota IEA. Range 16.800-16.950," jelasnya.
Sementara itu, mata uang Asia bergerak melemah. Salah satunya, peso Filipina menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah ambles 0,65 persen. Disusul, baht Thailand yang anjlok 0,27 persen.
Selanjutnya ada ringgit Malaysia yang tertekan 0,19 persen dan won Korea Selatan terkoreksi 0,16 persen. Lalu dolar Taiwan yang terdepresiasi 0,05 persen. Berikutnya, dolar Singapura yang turun 0,04 persen dan yuan China yang melemah tipis 0,006 persen.
Sementara itu, yen Jepang menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah naik 0,05 persen. Kemudian, dolar Hongkong yang menguat tipis 0,01 persen terhadap the greenback di pagi ini.
Baca Juga: Rupiah Ditutup ke Level Rp16.886 per Dolar AS, Analis: BI Tak Bisa Terus Intervensi
Berita Terkait
-
Rupiah Ditutup Melemah Tipis ke Level Rp16.872
-
Intervensi BI Manjur, Rupiah Berhasil 'Rebound' Tipis ke Rp16.861
-
Kena Sentimen Perang AS-Iran, Rupiah Ambruk ke Rp 16.868/USD
-
Perang AS-Israel Vs Iran, Rupiah Terkapar ke Rp16.830 per Dolar AS
-
Rupiah Berpotensi Anjlok dan Ancaman Krisis Energi Indonesia Imbas Perang Iran
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
- Syifa Hadju Anak Siapa? Ayah Kandung Dikabarkan Siap Jadi Wali Nikah
Pilihan
-
Rekam Jejak Jenderal Dudung Abdurachman: Dari Pencopot Baliho Kini Jadi Tangan Kanan Presiden
-
Reshuffle Kabinet: Qodari Geser dari KSP ke Bakom, Dudung Ambil Alih Peran Strategis di Istana
-
Profil Mohammad Jumhur Hidayat, Aktivis Buruh yang Kini Jadi Menteri Lingkungan Hidup
-
Prabowo Kocok Ulang Kabinet: Jumhur Hidayat Dilantik Jadi Menteri LH hingga Dudung Jabat Kepala KSP
-
Jumhur Hidayat Tiba di Istana Dikabarkan Jadi Menteri LH: Banyak Tugas, Harus Kerja Keras
Terkini
-
Dana Asing Keluar Rp 2 Triliun dari Pasar Saham RI Hari Ini, Paling Banyak di BCA
-
Terpusat di Jawa dan Tergantung Musim, Masalah Stabilitas Stok Pangan Indonesia
-
Purbaya Ultimatum Asosiasi Reksa Dana: Sekarang Saya Ikut Awasi, Macam-macam Saya Hajar!
-
Cegah Diabetes hingga Hipertensi, Pemerintah Siapkan Label Khusus di Makanan
-
Bahlil Ngaku Tak Bisa Tidur Mikirin Pasokan LPG
-
Purbaya Dibilang Gila Usai Sebut IHSG Bisa Tembus 28.000 di 2030
-
Pemerintah Wajibkan Dapur Makan Bergizi Gratis Kantongi Sertifikat Higiene
-
Industri Budaya dan Kreatif Sumbang 3 Persen PDB Global, Peluang Identitas Lokal RI Mendunia
-
Putusan KPPU Tuai Kritik, Metodologi Denda Pindar Dinilai Tak Jelas
-
Tiru India, OJK Ingin Investor RI Lebih Punya Banyak Reksa Dana