Bisnis / Keuangan
Kamis, 12 Maret 2026 | 13:10 WIB
Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman dalam Ramadhan Market Update BNI Sekuritas (Suara.com/Tantri Amela Iskandar)

Suara.com - BNI Sekuritas mengungkapkan proyeksi pasar saham Indonesia masih memiliki peluang penguatan meskipun dibayangi berbagai tantangan eksternal. Melalui paparan riset terbaru, perusahaan menargetkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di kisaran 7.200 hingga 7.800 poin  dalam satu tahun ke depan, dengan sejumlah sektor dinilai memiliki prospek menarik bagi investor.

Inilah pandangan yang diberikan dalam acara Ramadhan Market Update BNI Sekuritas, di kantor BNI Sekuritas, IndoFood Tower Sudirman Plaza, Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menjelaskan bahwa secara valuasi, pasar saham Indonesia saat ini masih tergolong murah jika dibandingkan dengan rata-rata historis. Hal ini tercermin dari rasio price to earnings (PE) IHSG yang berada hampir dua standar deviasi di bawah rata-rata jangka panjang, kondisi yang jarang terjadi dalam dua dekade terakhir.

“Kalau kita lihat dari segi PE maupun PBV, valuasi IHSG masih cukup murah. Bahkan dari sisi PE, posisinya masih dekat dengan minus dua standar deviasi di bawah rata-rata, level yang hampir tidak pernah terlihat dalam hampir 20 tahun,” ujar Fanny.

Selain itu, indikator earnings yield spread terhadap obligasi juga menunjukkan tren meningkat, yang berarti investasi di saham mulai terlihat lebih menarik dibandingkan instrumen obligasi.

Untuk strategi investasi jangka dekat, BNI Sekuritas lebih merekomendasikan investor mencermati sektor komoditas serta sektor yang terkait dengan konsumsi masyarakat.

Sektor Komoditas dan Konsumer Jadi Pilihan

Sektor komoditas dinilai menarik seiring kenaikan harga sejumlah komoditas global seperti emas, tembaga, dan nikel. Kenaikan harga emas, misalnya, didorong oleh meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik global serta potensi siklus penurunan suku bunga.

“Untuk jangka dekat, kami lebih melihat peluang pada sektor komoditas dan sektor yang berkaitan dengan konsumsi, terutama karena kenaikan harga emas, tembaga, dan nikel,” kata Fanny.

Baca Juga: Lentera Perempuan Berdaya, Ketika Usaha Mikro Menyalakan Harapan: Dari Iftar Bersama PNM

Selain itu, permintaan logam industri seperti tembaga dan nikel juga meningkat, didorong oleh pertumbuhan sektor baterai kendaraan listrik dan industri stainless steel.

Sementara itu, sektor konsumsi diperkirakan mendapat dorongan dari meningkatnya consumer confidence index (CCI) serta momentum musiman menjelang Ramadan dan Idulfitri yang biasanya meningkatkan belanja masyarakat.

“Dengan meningkatnya kepercayaan konsumen dan dukungan pemerintah terhadap daya beli masyarakat, sektor konsumsi berpotensi mendapatkan keuntungan dalam jangka dekat,” jelasnya.

Di tengah dinamika global, BNI Sekuritas tetap mempertahankan pandangan optimistis terhadap pasar saham domestik. Stabilitas fiskal pemerintah, peluang masuknya kembali dana asing, serta valuasi pasar yang relatif murah menjadi faktor utama yang menopang prospek IHSG di masa mendatang.

Dengan kombinasi faktor tadi, investor disarankan untuk tetap selektif dalam memilih saham, terutama pada sektor yang didukung tren komoditas global dan pertumbuhan konsumsi domestik. ***

Load More