-
Pasukan perempuan Kurdi bersiap menyerang Iran dari markas rahasia di bawah tanah Irak.
-
Donald Trump menyatakan enggan memperumit konflik dengan melibatkan etnis Kurdi dalam perang darat.
-
Kelompok PJAK menuntut kebebasan dan berakhirnya penindasan rezim Iran melalui jalur revolusi bersenjata.
Suara.com - Spekulasi mengenai keterlibatan kelompok bersenjata Kurdi dalam perang Amerika Serikat dan Iran kini semakin menguat.
Kondisi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya pertempuran lintas perbatasan dari wilayah Irak menuju tanah Iran.
Pemerintah Teheran merespons situasi tersebut dengan melancarkan serangan rudal balistik ke markas kelompok Kurdi.
Aksi militer tersebut dilaporkan telah memakan korban jiwa dari pihak petempur yang berada di sana.
Meskipun situasi memanas, kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap suku Kurdi tampak masih mengalami ambivalensi.
Donald Trump sempat memberikan pernyataan yang memicu diskusi luas terkait peran etnis Kurdi tersebut.
"Saya pikir itu luar biasa jika mereka ingin melakukannya," ungkap Trump dalam sebuah wawancara telepon, dikutip dari BBC.
Namun, hanya berselang dua hari, ia menunjukkan sikap yang lebih berhati-hati kepada para jurnalis.
Ia menegaskan tidak ingin melibatkan pasukan Kurdi secara langsung dalam pertempuran darat di wilayah Iran.
Baca Juga: Menghitung Amunisi Perang AS, Israel dan Iran, Siapa Duluan Habis?
"Kami tidak ingin membuat perang ini semakin rumit," ujarnya untuk memperjelas posisi Amerika Serikat.
Di balik ketegangan politik, terdapat batalion petempur yang seluruh anggotanya merupakan perempuan pemberani asal Iran.
Mereka mendiami kompleks gua dan terowongan bawah tanah yang sangat sulit untuk dijangkau publik.
Kelompok ini menjalankan sistem komunikasi yang sangat tertutup demi menghindari deteksi intelijen musuh mereka.
Persiapan matang telah dilakukan selama bertahun-tahun untuk menghadapi kemungkinan pecahnya perang besar di kawasan.
Para petempur ini mendapatkan pelatihan intensif mulai dari ideologi hingga pengoperasian teknologi drone modern.
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
Terkini
-
Tito Mohon-mohon ke Purbaya Minta Cairkan Tambahan Anggaran Rp 6 T buat Pemulihan Sumatra
-
Viral Kasus Pelecehan Seksual Konsumen Paylater, Kredivo Putus Kerja Sama Debt Collector
-
Shin Tae-yong Maklumi Persija Kalah di Laga Perdana Piala Presiden 2026
-
Industri Kreatif Bergeser, Strategi Kampanye Tak Lagi Cukup
-
Ekonom UGM Endus Pola Penggusuran 'Orang Jokowi' di Balik Mundurnya Gubernur BI
-
RI Lobi AS Agar Sawit Bebas Tarif Section 301, Airlangga: Kami Minta Dikecualikan
-
KPK Periksa SF Hariyanto, Eks Ketua KPID Riau hingga Anggota Dewan
-
Teka-teki Kematian Sutrimo, DPR Minta Polisi Tak Sisakan Spekulasi
-
Ketimpangan Relasi Kerja: Mengapa Loyalitas Hanya Berlaku Satu Arah?
-
Perahu Mahasiswa KKN Terbalik di Muratara, Begini Kronologi hingga Satu Korban Hilang