Bisnis / Makro
Jum'at, 20 Maret 2026 | 07:50 WIB
Petugas menyiapkan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola Jimmy Hantu di SPPG Mutiara Keraton Solo, Tamansari, Bogor, Selasa (16/12/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • SPPG jadi jantung ekonomi desa lewat serapan 85% pangan lokal dari petani.
  • Riset RISED 2026: Program MBG buat anak lebih ceria dan jarang sakit.
  • Bukan cuma dapur, SPPG pemicu semangat sekolah dan revolusi tani daerah.

Suara.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menunjukkan dampak nyata yang melampaui sekadar pemenuhan nutrisi. Di berbagai daerah, Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) bertransformasi menjadi katalisator ekonomi lokal sekaligus penyuntik motivasi belajar bagi anak-anak di pelosok negeri.

Di tengah pengetatan standar mutu oleh BGN, sejumlah SPPG justru berhasil membangun ekosistem perekonomian yang saling menguntungkan dengan warga sekitar. Salah satunya adalah SPPG Kadi Wano di Wewewa Timur, Sumba Barat Daya.

Edwin Putra Kadege, pemimpin SPPG Kadi Wano, mengungkapkan bahwa kehadiran program ini menjadi solusi bagi anak-anak yang kerap berangkat sekolah tanpa sarapan karena keterbatasan ekonomi.

"Guru-guru melaporkan anak-anak kini jauh lebih bersemangat sekolah meskipun jarak rumah mereka sangat jauh," ujar Edwin dengan nada haru.

Klaim tersebut diperkuat oleh temuan Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) dalam laporan "Dampak Awal Program MBG Terhadap Kesejahteraan Anak" yang dirilis Februari 2026. Direktur RISED, M. Fajar Rachmadi, menyebutkan dari 1.800 responden orang tua di Jawa Tengah, sebanyak 50% menilai anak mereka lebih ceria dan 48% menyatakan anak menjadi lebih jarang sakit setelah menerima asupan MBG.

Dampak ekonomi yang paling signifikan terasa pada sektor pertanian. SPPG Kadi Wano, misalnya, menyuplai kebutuhan nutrisi bagi 2.000 siswa di 15 sekolah dengan memberdayakan kelompok tani setempat sebagai pemasok utama sayur-mayur.

Kondisi serupa terjadi di SPPG Cibuntu, Kecamatan Taraju, Tasikmalaya. Dengan tingkat pemenuhan pangan lokal mencapai 85%, SPPG ini menggandeng petani, pedagang pasar, hingga karang taruna.

Mitra SPPG Cibuntu, Tino Rirantino, menyebut kehadiran program ini memicu "revolusi pertanian" kecil-kecilan. Petani yang dulunya enggan menanam buah, kini mulai bersemangat menanam secara mandiri karena adanya kepastian pasar (offtaker) dari dapur SPPG.

"Kami memfasilitasi petani agar hasil bumi mereka memiliki pasar yang jelas dan memberikan kontribusi positif bagi kesejahteraan warga desa," jelas Tino.

Baca Juga: Semua Kementerian Akan Efisiensi untuk Jaga Defisit Anggaran, Kecuali MBG

Keberhasilan SPPG kini tak hanya diukur dari angka ekonomi, tapi juga kedisiplinan menjaga standar higienitas dan kreativitas porsi nutrisi yang sesuai selera lokal.

Di Taraju, SPPG Cibuntu bahkan melangkah lebih jauh dengan menjalankan program CSR berupa bantuan sarana sekolah bagi anak yatim piatu. Sinergi antara pengelola, guru, dan masyarakat ini membuktikan bahwa MBG telah menjadi denyut nadi baru bagi sosial-ekonomi wilayah setempat.

Load More