Bisnis / Energi
Senin, 23 Maret 2026 | 07:30 WIB
Kasus dugaan penipuan yang menjerat perusahaan Presiden AS, Donald Trump serta anak-anaknya memasuki babak baru. [Tangkap layar X]

Suara.com - Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ancaman untuk "melenyapkan" infrastruktur energi Iran.

Ultimatum ini muncul hanya berselang sehari setelah ia sempat menyinggung rencana untuk meredakan perang yang kini memasuki minggu keempat.

Melalui unggahan di media sosial pada Sabtu (21/3/2026), Trump memberikan batas waktu 48 jam bagi Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz sepenuhnya tanpa ancaman.

"Jika tidak, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, dimulai dari yang terbesar!" tegas Trump.

Ancaman Meluas ke Infrastruktur Sipil

Langkah Trump ini menandai eskalasi signifikan karena target serangan kini diperluas ke infrastruktur yang berdampak langsung pada kehidupan warga sipil Iran.

Pembangkit listrik raksasa seperti Damavand (2.868 MW), Kerman (1.910 MW), hingga PLTN Bushehr (1.000 MW) kini berada dalam bidikan militer AS.

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah memicu guncangan energi global. Jalur sempit ini merupakan urat nadi bagi seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Pekan lalu, harga gas di Eropa bahkan melonjak hingga 35% akibat tersendatnya jalur distribusi ini.

Baca Juga: Abaikan Ultimatum Trump, Israel Nekat Hajar Jantung Energi Iran di South Pars!

Balasan Mematikan dari Teheran

Merespons ancaman tersebut, Dilansir via Reuters, markas komando militer Khatam al-Anbiya Iran pada Minggu menyatakan tidak akan tinggal diam.

Jika AS menyerang infrastruktur energi mereka, Iran bersumpah akan menargetkan seluruh infrastruktur energi, teknologi informasi, hingga instalasi desalinasi air milik AS di seluruh kawasan Timur Tengah.

Konflik ini juga memasuki teritori baru yang berbahaya setelah Iran dilaporkan menembakkan rudal balistik jarak jauh untuk pertama kalinya sejak perang pecah pada 28 Februari lalu.

Kepala militer Israel, Eyal Zamir, mengungkapkan bahwa dua rudal Iran dengan daya jangkau 4.000 km meluncur ke arah pangkalan militer AS-Inggris di Diego Garcia, Samudera Hindia.

"Rudal-rudal ini bukan hanya ancaman bagi Israel. Jangkauannya mampu mencapai ibu kota Eropa seperti Berlin, Paris, dan Roma," ujar Zamir dalam pernyataan resminya.

Load More