Bisnis / Keuangan
Jum'at, 20 Maret 2026 | 16:00 WIB
Iran hujani Israel dengan serangan rudal buntut meninggalnya Ali Larijani. (Ist)
Baca 10 detik
  • Israel serang ladang gas South Pars Iran, abaikan peringatan keras Donald Trump.
  • Netanyahu bergerak mandiri tanpa lapor AS, picu risiko gangguan energi global.
  • Trump ancam hancurkan fasilitas tersebut jika konflik makin meluas ke negara lain.

Suara.com - Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru. Mengabaikan peringatan keras Presiden Amerika Serikat Donald Trump, militer Israel (IDF) meluncurkan gelombang serangan udara besar-besaran ke fasilitas energi vital Iran di South Pars dan sejumlah titik di Teheran, Jumat (20/3/2026).

Langkah nekat ini menandai babak baru perang terbuka, di mana infrastruktur energi utama Iran kini menjadi target langsung. Serangan ini diprediksi bakal mengacak-acak stabilitas pasokan energi global dan memicu lonjakan harga minyak dunia.

Serangan ini terjadi hanya berselang 24 jam setelah Presiden Donald Trump mengeklaim telah menekan Israel untuk menahan diri. Trump sebelumnya menyatakan telah berkomunikasi dengan PM Benjamin Netanyahu agar tidak menyentuh ladang gas South Pars.

"Saya bilang kepadanya, 'jangan lakukan itu', dan dia tidak akan melakukannya," ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih, sehari sebelum serangan terjadi.

Namun, fakta di lapangan berbicara lain. Netanyahu justru menegaskan bahwa serangan ke South Pars dilakukan secara mandiri. Israel memilih bergerak tanpa memberikan notifikasi sebelumnya kepada Washington, sebuah langkah yang dinilai sebagai bentuk "pembangkangan" diplomatik terhadap sekutu utamanya.

Juru bicara militer Israel mengonfirmasi bahwa gelombang serangan terbaru menyasar pusat infrastruktur rezim Iran. "IDF baru saja memulai gelombang serangan terhadap infrastruktur rezim Iran di jantung Teheran," ungkapnya dikutip dari Reuters.

South Pars sendiri merupakan ladang gas terbesar milik Iran yang menjadi urat nadi ekonomi negara tersebut. Penyerangan terhadap fasilitas ini dianggap sebagai eskalasi paling berbahaya karena langsung menghantam sektor energi yang selama ini menjadi "garis merah" bagi banyak negara.

Merespons serangan tersebut, Trump melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, kembali mengeluarkan peringatan keras. Ia menegaskan tidak boleh ada lagi serangan ke South Pars, kecuali Iran menyerang Qatar.

Tak hanya itu, Trump juga melontarkan ancaman yang tak kalah ngeri. Ia memperingatkan bahwa Amerika Serikat sendiri yang akan menghancurkan fasilitas tersebut jika konflik meluas dan mengancam kepentingan energi yang lebih besar.

Baca Juga: Krisis Lebanon Memanas: Korban Tewas Akibat Serangan Israel Lampaui 1.000 Jiwa

Dunia kini menanti reaksi balasan dari Teheran. Jika Iran membalas dengan menutup jalur logistik energi, maka krisis ekonomi global yang lebih dalam tak lagi bisa dihindari.

Load More