- Harga minyak dunia melonjak dipicu ancaman Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons ultimatum AS.
- Minyak Brent naik menjadi USD 114,09 per barel, Goldman Sachs prediksi harga tinggi bertahan hingga 2027.
- Konflik mengganggu pasokan global; harga bensin AS naik signifikan, diperkirakan menembus USD 4 per galon.
Suara.com - Harga minyak dunia semakin meroket pada perdagangan Minggu (Senin pagi waktu Indonesia) setelah Perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS) terus berkecamuk. Lonjakan ini dipicu ancaman Iran yang akan menutup Selat Hormuz tanpa batas waktu.
Kenaikan terjadi setelah Iran merespons ultimatum Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut.
Melansir CNN, Minyak mentah Brent yang menjadi acuan global naik 1,69 persen ke level sekitar 114,09 dolar AS per barel pada pembukaan perdagangan. Sementara itu, minyak mentah AS menguat 2 persen menjadi 100,29 dolar AS per barel.
Bahkan, Goldman Sachs pada Jumat memperkirakan harga minyak tinggi ini berpotensi bertahan hingga 2027.
Pada akhir pekan, Trump menyampaikan ancaman keras terhadap Iran. Ia mengatakan Amerika Serikat akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak kembali dibuka pada Senin malam.
Menanggapi hal tersebut, Iran memberikan peringatan balasan. Mereka menegaskan akan menutup total Selat Hormuz jika ancaman tersebut direalisasikan.
Iran juga menyatakan tidak akan membuka kembali jalur tersebut sampai seluruh pembangkit listrik yang hancur dibangun ulang.
Selain itu, Iran mengancam akan menargetkan infrastruktur energi dan komunikasi milik Amerika Serikat dan Israel di kawasan tersebut.
Perang di Iran yang kini memasuki minggu keempat telah mengganggu pasokan minyak global secara signifikan. Penutupan efektif Selat Hormuz, yang merupakan jalur pengiriman minyak tersibuk di dunia, menjadi faktor utama terganggunya distribusi energi.
Baca Juga: Minyak Dunia Memanas: Brent Tembus USD 112 di Tengah Eskalasi Perang Iran-AS
Kenaikan harga minyak turut berdampak langsung pada harga bahan bakar di Amerika Serikat. Harga rata-rata bensin mencapai 3,94 dolar AS per galon pada Minggu, naik hampir satu dolar sejak awal konflik.
Bahkan, harga bensin diperkirakan bisa menembus 4 dolar AS per galon pada Senin.
Patrick De Haan, kepala analisis perminyakan di GasBuddy, memperingatkan bahwa pemulihan harga tidak akan terjadi dalam waktu cepat.
"Prosesnya akan berjalan sangat lambat selama ini terus berlanjut, karena dibutuhkan waktu lebih lama bagi pasar global untuk pulih," katanya.
Di sisi lain, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut masyarakat Amerika kemungkinan akan menerima kenaikan harga sementara demi stabilitas jangka panjang di Timur Tengah.
Ia menyampaikan hal tersebut saat tampil dalam program 'Meet the Press' NBC.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
- Pakai Paspor Belanda saat Perpanjang Kontrak 2025, Status WNI Dean James Bisa Gugur?
- Pajaknya Nggak Bikin Sengsara: Cek 5 Mobil Bekas Bandel di Bawah 70 Juta untuk Pemula
Pilihan
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
-
Dean James Masih Terdaftar sebagai Warga Negara Belanda
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
Terkini
-
Trump Ungkap Nego Perang Berjalan Mulus, Iran Bantah: Awas 'Manipulasi' Pasar!
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
-
Timur Tengah Hadapi Kiamat Kecil Jika Iran Serang Instalasi Desalinasi Negara-negara Arab
-
Anggaran Dana Pensiun DPR-Pejabat Diusulkan untuk Guru Honorer hingga Nakes
-
Perhatian Pemudik! Rest Area KM 52B Bisa Ditutup Sewaktu-waktu Saat Arus Balik
-
Purbaya Yakin Pertumbuhan Ekonomi RI 5,7% di Q1 2026 Meski Ada Perang AS vs Iran
-
Pertumbuhan Ekonomi RI Bisa Capai 5,6 Persen Berkat Mudik Lebaran 2026
-
285 Ribu Kendaraan Bakal Padati Jalan Tol Trans Jawa pada 24 Maret
-
LPEI Ungkap Risiko Konflik Timur Tengah ke Kinerja Ekspor Indonesia Masih Terbatas
-
Harga Minyak Dunia Bisa Tembus 120 Dolar AS per Barel Sepanjang 2026, Naik 2 Kali Lipat