- Aktivitas ekonomi India melambat pada Maret 2026; PMI Komposit turun menjadi 56,5 akibat tekanan inflasi dan permintaan domestik melemah.
- Sektor manufaktur dan jasa menunjukkan perlambatan signifikan, terutama produksi barang yang terdampak langsung volatilitas pasar Timur Tengah.
- Konflik Timur Tengah berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan dan menekan nilai tukar rupee India ke titik terendah baru.
Suara.com - Perekonomian India mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan akibat dampak konflik di Timur Tengah. Aktivitas sektor swasta tercatat melambat pada Maret 2026, seiring melemahnya permintaan domestik dan tekanan inflasi yang meningkat.
Melansir CNBC, Selasa (24/3/2026), Berdasarkan data Indeks Manajer Pembelian (PMI) kilat HSBC yang disusun S&P Global, PMI Komposit India turun menjadi 56,5 pada Maret dari 58,9 pada Februari. Angka ini juga berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 59,0.
Meski masih berada di atas level 50 yang menandakan ekspansi, perlambatan ini menjadi yang terlemah sejak Oktober 2022.
S&P Global mencatat bahwa konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang menekan kinerja ekonomi India, di tengah kondisi pasar yang tidak stabil dan lonjakan inflasi biaya.
Aktivitas manufaktur bahkan mengalami penurunan lebih tajam. PMI sektor pabrik turun ke 53,8 dari sebelumnya 56,9, jauh di bawah perkiraan analis. Sementara itu, sektor jasa juga melambat ke level 57,2.
Penurunan paling signifikan terjadi di sektor produksi barang, yang terdampak langsung oleh volatilitas pasar, kenaikan biaya, serta melemahnya permintaan.
Gangguan juga dirasakan di sektor jasa, terutama akibat terganggunya perjalanan internasional imbas konflik di kawasan Teluk.
"Permintaan domestik yang lebih lemah membebani pesanan baru, yang meningkat pada laju paling lambat dalam lebih dari tiga tahun, meskipun terjadi lonjakan rekor dalam pesanan ekspor baru," kata Pranjul Bhandari, kepala ekonom India di HSBC.
Ia menambahkan, banyak perusahaan terpaksa menahan kenaikan harga dengan mengorbankan margin keuntungan demi menjaga daya beli pasar.
Baca Juga: BI: Sektor Perbankan dalam Kondisi Prima di Tengah Krisis Akibat Konflik Timur Tengah
Perdana Menteri India Narendra Modi turut menyoroti dampak konflik tersebut. Dalam pidatonya di parlemen, ia menyebut situasi global saat ini sebagai hal yang mengkhawatirkan.
"Kondisi global yang sulit akibat perang ini kemungkinan akan berlanjut untuk waktu yang lama," kata Modi.
India dinilai menjadi salah satu negara yang paling rentan terhadap dampak konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Ketergantungan terhadap energi impor membuat negara ini terdampak langsung oleh lonjakan harga minyak dan gangguan jalur perdagangan.
Kenaikan harga energi juga berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan India, yang turut menekan nilai tukar rupee hingga menyentuh titik terendah sepanjang masa dalam beberapa hari terakhir.
Padahal sebelumnya, sentimen bisnis sempat membaik setelah India berhasil menjalin kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa. Namun, konflik geopolitik kini kembali membayangi prospek ekonomi negara dengan pertumbuhan tercepat di dunia tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- 5 Motor Irit tapi Bukan Honda BeAT, Mesin Awet untuk Jangka Panjang, Cocok untuk Pejuang Nafkah
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Bos Go Ahead Eagles: Dean James Masih Gunakan Paspor Belanda!
Pilihan
-
Heboh Wanita Muda Hendak Akhiri Hidup di Depan Istana Merdeka, Untung Ketahuan Paspampres
-
Kasus Dean James Memanas, Pundit Belanda: Efeknya Bisa Guncang Eredivisie
-
BTS ARIRANG Pecahkan Rekor Netflix! Comeback Global Tak Terkalahkan di 77 Negara
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
-
Dean James Masih Terdaftar sebagai Warga Negara Belanda
Terkini
-
7.131 Bus Ditemukan Tak Layak Jalan Saat Mudik Lebaran
-
Arus Balik Lebaran, KAI Catat 253 Ribu Kursi Masih Tersedia hingga Awal April
-
Arus Balik Mulai Padat, Jumlah Penumpang Kereta ke Jakarta Lampaui Keberangkatan
-
Perang di Timteng Memanas Bikin Premi Asuransi Meningkat
-
Arus Balik Mulai Menggeliat, Penumpang Bakauheni Tembus 91 Ribu di H+1 Lebaran
-
BI: Sektor Perbankan dalam Kondisi Prima di Tengah Krisis Akibat Konflik Timur Tengah
-
Menhub Minta Truk Logistik Tahan Operasi Saat Puncak Arus Balik Lebaran
-
PLN Berhasil Amankan Pasokan Listrik Nasional Saat Salat Idulfitri 1447 H
-
KB Bank Gelontorkan Rp500 Miliar untuk Akses Pembiayaan UMKM
-
Contraflow Diterapkan di Tol Jakarta - Cikampek Siang Ini