- Harga minyak dunia anjlok dipicu sikap Presiden Trump mengenai Iran, tetapi belum menurunkan harga BBM konsumen di AS.
- Normalisasi harga BBM memerlukan pembukaan Selat Hormuz dan pemulihan produksi energi global yang memakan waktu.
- Faktor distribusi, asuransi, serta pemulihan infrastruktur energi yang rusak menghambat penurunan harga BBM di SPBU.
Suara.com - Harga minyak dunia memang anjlok tajam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengubah sikap terkait konflik dengan Iran. Namun, penurunan ini belum berdampak langsung pada harga bahan bakar minyak (BBM) di tingkat konsumen.
Menukil CNN Business, Selasa (24/3/2026), di Amerika Serikat, harga rata-rata bensin masih bertahan di kisaran 4 dolar AS per galon atau setara Rp 68.000 (kurs Rp 17.000). Bahkan, harga solar sudah melampaui 5 dolar AS per galon, yang turut mendorong kenaikan biaya distribusi barang.
Penurunan harga minyak yang terjadi belum cukup untuk menekan harga BBM. Pasalnya, ada sejumlah faktor penting yang harus terpenuhi agar harga bensin benar-benar turun, mulai dari pembukaan kembali Selat Hormuz hingga normalisasi produksi minyak global.
Presiden Trump sendiri menyatakan bahwa jalur vital tersebut berpotensi segera dibuka jika negosiasi dengan Iran berjalan lancar.
"Saya dan Ayatollah," kata Trump.
Namun, situasi di lapangan masih jauh dari kepastian. Iran hingga kini masih memegang kendali atas Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sebagian besar pasokan minyak dunia.
Penutupan selat tersebut memberikan tekanan besar pada pasar energi global sekaligus menjadi alat tawar bagi Teheran.
"Dibutuhkan dua orang untuk TACO. Trump Selalu Mengundurkan Diri. Saya tidak percaya ini adalah awal dari akhir," kata Helima Croft, kepala strategi komoditas global di RBC Capital Markets,.
Di sisi lain, ketidakjelasan pihak yang bernegosiasi dari Iran juga menjadi kendala. Menteri Energi AS Chris Wright mengakui bahwa situasi kepemimpinan di sektor energi Iran masih belum jelas.
Baca Juga: Ekonomi India Mulai Terpukul, Konflik Timur Tengah Bikin Aktivitas Bisnis Melambat
"Terjadi banyak pergantian kepemimpinan di bidang energi (Iran). Itulah salah satu hal yang akan kita pelajari di dialog-dialog ini: Siapa yang berkuasa?" kata Wright.
Bahkan jika Selat Hormuz kembali dibuka, dampak penurunan harga minyak tidak serta-merta langsung dirasakan di SPBU. Kerusakan infrastruktur energi akibat konflik, termasuk fasilitas gas alam cair di Qatar, membutuhkan waktu lama untuk pulih.
Selain itu, banyak fasilitas produksi yang sempat berhenti juga memerlukan waktu berminggu-minggu untuk kembali beroperasi normal.
"Menghidupkan dan mematikan keran minyak tidak sama dengan menghidupkan dan mematikan lampu. Ini adalah prestasi teknik yang sederhana," kata Joe Brusuelas, kepala ekonom di RSM US.
Para analis memperkirakan butuh waktu hingga tiga hingga empat bulan setelah konflik mereda sebelum produksi energi kembali ke level normal.
Tak hanya itu, faktor lain seperti asuransi kapal tanker, distribusi energi, hingga kebijakan harga di SPBU juga memperlambat penurunan harga BBM. Industri bahkan menyebut fenomena ini sebagai 'roket dan bulu'.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- 5 Motor Irit tapi Bukan Honda BeAT, Mesin Awet untuk Jangka Panjang, Cocok untuk Pejuang Nafkah
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
Pilihan
-
Puncak Arus Balik dari Jogja Pertama Terlewati, Gelombang Kedua Diprediksi Akhir Pekan
-
Bocor! China Bikin Peta Laut hingga Indonesia untuk Hadapi AS di Perang Dunia III
-
Iran Angkat Mohammad Bagher Zolghadr sebagai Pengganti Ali Larijani
-
Heboh Wanita Muda Hendak Akhiri Hidup di Depan Istana Merdeka, Untung Ketahuan Paspampres
-
Kasus Dean James Memanas, Pundit Belanda: Efeknya Bisa Guncang Eredivisie
Terkini
-
Jumlah Motor Sebrangi Bakauheni Meroket, Naik 85 Persen di H+2 Lebaran
-
Arus Balik Membludak, 128 Ribu Orang Menyeberang dari Sumatera ke Jawa di H+2 Lebaran 2026
-
Legislator: Negara Rogoh Kocek Rp 6,7 T Setiap Kenaikan Harga Minyak 1 Dolar AS
-
Dapat Rating Negatif dari Moodys dan Fitch Ratings,OJK Pastikan Industri Perbankan Tetap Solid
-
Aktivasi Coretax Meningkat, DJP Ingatkan Wajib Pajak Segera Laporkan SPT Tahunan
-
Harga Pangan Nasional 25 Maret 2026: Cabai hingga Daging Sapi Masih Mahal
-
Rupiah Konsisten Melemah usai Liburan Panjang ke Level Rp16.919 per Dolar AS
-
Setelah Libur Lebaran, Harga Emas Antam Mulai Naik Dibanderol Rp 2,85 Juta/Gram
-
Setelah Libur Panjang, IHSG Bergerak Dua Arah Rabu Pagi ke Level 7.100
-
Daftar Saham Lepas Gembok BEI, Bisa Diperdagangkan IHSG Hari Ini