- BlackRock ingatkan minyak US$ 150/barel picu resesi dunia yang tajam.
- Kenaikan harga energi disebut 'pajak regresif' yang memukul kaum miskin.
- Negara diminta pragmatis pakai energi fosil sekaligus agresif ke EBT.
Suara.com - Raksasa pengelola aset global, BlackRock, melontarkan peringatan keras terkait stabilitas ekonomi dunia. CEO BlackRock, Larry Fink, menyebutkan bahwa lonjakan harga minyak mentah hingga menyentuh level US$ 150 per barel bukan sekadar angka, melainkan alarm bahaya yang bisa memicu resesi global yang tajam dan curam.
Berdasarkan kurs saat ini (Rp 16.886/US$), harga tersebut setara dengan Rp 2,53 juta per barel. Fink menilai kenaikan biaya energi ini merupakan pukulan telak bagi masyarakat ekonomi lemah.
"Kenaikan harga energi adalah pajak yang sangat regresif. Ini lebih memengaruhi kaum miskin daripada kaum kaya," tegas Fink sebagaimana dikutip dari BBC, Rabu (25/3/2026).
Liar dan tidak terprediksi. Itulah gambaran pasar keuangan saat ini akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Para pelaku pasar masih terus mengalkulasi dampak akhir dari ketegangan geopolitik tersebut terhadap biaya energi global.
Fink memetakan dua skenario ekstrem bagi masa depan harga minyak. Pertama, jika konflik mereda dan Iran kembali diterima oleh komunitas internasional, harga minyak berpotensi melandai ke level sebelum perang.
Kedua, jika ketegangan berlanjut tanpa solusi, harga minyak diprediksi terbang ke angka US$ 150. Skenario inilah yang disebut Fink akan menyeret dunia ke dalam resesi yang dalam.
Menghadapi ketidakpastian ini, muncul desakan di berbagai negara, termasuk Inggris, untuk memperkuat produksi minyak dan gas domestik guna mengurangi ketergantungan impor di tengah instabilitas global.
Namun, Fink menekankan pentingnya sikap pragmatis dalam bauran energi. Menurutnya, negara-negara tidak boleh terjebak hanya pada satu sumber. Ketersediaan energi murah tetap menjadi kunci utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan standar hidup.
"Gunakan apa yang Anda miliki tanpa ragu, tetapi juga secara agresif bergerak menuju sumber alternatif," pungkas Fink.
Baca Juga: Awal Retaknya Hubungan Trump - Netanyahu, Skenario Rahasia Mossad yang Gagal
Ia memprediksi, jika harga minyak tertahan di level US$ 150 selama 3-4 tahun ke depan, transisi menuju tenaga surya dan angin akan bergerak jauh lebih masif di seluruh dunia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Asosiasi Bisnis RI - Filipina Resmi Terbentuk, Fokus Atasi Hambatan Dagang
-
Apa itu Bond Stabilization Fund yang Mau Dikerahkan untuk Stabilkan Rupiah?
-
Kisah Bambang Jadi Agen BRILink Nomor 1 di Klaten, Dari Ngontrak hingga Antarkan Anak ke Jepang
-
Dikuras untuk Bayar Utang dan Jaga Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Capai Titik Terendah Sejak 2024
-
Langgar Aturan Penagihan, Indosaku Didenda OJK Rp875 Juta
-
Sebut Beda Karakteristik, IMA Ragukan Skema Migas Diterapkan di Sektor Tambang
-
Dampingi Presiden Prabowo di KTT ASEAN, Bahlil Fokus Bahas Diversifikasi Energi
-
Dukung Ekonomi Rakyat, Pegadaian Hadirkan Solusi Keuangan Inklusif di Timor Leste
-
Harga Pangan Hari Ini Naik? Cabai Rawit Tembus Rp65 Ribu per Kg, Telur Ayam Rp31 Ribu
-
Bukan Dihapus, Ini Alasan 13 SPBU di Jabodetabek Tak Lagi Jual Pertalite