Bisnis / Ekopol
Rabu, 25 Maret 2026 | 17:23 WIB
Arab Saudi dan Uni Emirat Arab disebut diam-diam membantu AS dan Israel memerangi Iran. Foto: Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman. [Shutterstock]
Baca 10 detik
  • Arab Saudi dan UEA mulai mendukung AS dan Israel menekan Iran karena terancam secara ekonomi dan kontrol Selat Hormuz.
  • Saudi mengizinkan AS menggunakan Pangkalan Udara Raja Fahd untuk serangan, sementara UEA menutup aset dan mengancam membekukan dana Iran.
  • Negara Teluk menghadapi dilema besar: terlibat perang langsung atau sandera ekonomi jika Iran menguasai jalur krusial minyak.

Saat ini para pemimpin negara-negara Teluk sedang berada dalam dilema. Jika negara-negara Arab terlibat langsung dalam perang melawan Iran, maka mereka akan berhadapan dengan musuh yang lebih digdaya secara militer yang berada tepat di hadapan teritori mereka.

Apa lagi jika Presiden Donald Trump memutuskan secara sepihak untuk menyudahi perang, maka mereka akan terjebak dalam konflik jangka panjang dengan Iran.

Tapi di sisi lain, jika rezim di Iran bertahan maka negara-negara Teluk akan menjadi sandera setidaknya secara ekonomi karena posisi Selat Hormuz yang kini secara de facto berada di bawah kendali Iran. Aliran minyak dari negara-negara Arab akan dikendalikan sebagian besarnya oleh Iran.

Apa lagi Teheran kini mempertimbangkan untuk menarik tarif untuk kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz dan bercita-cita menjadikan selat sempit itu seperti Terusan Suez di Mesir - kapal-kapal yang melewati Suez harus memberikan upeti ke Kairo.

Tidak heran jika Pangeran bin Salman disebut terus mendorong Trump untuk tak berhenti memerangi Iran, hingga rezim yang berkuasa di Teheran saat ini lengser. Dorongan yang sama juga disebut disampaikan oleh pemimpin UEA.

Anwar Gargash, penasehat diplomatik Presiden UEA, pada Selasa kemarin (24/3/2026) mengkritik Liga Arab dan Organisasi Kerja sama Islam (OKI) karena diam saja melihat negara-negara Teluk diserang Iran.

Ia mempertanyakan efektivitas dua organisasi itu ditengah gempuran Iran ke negara-negara Arab. Di saat yang sama ia juga menilai kritik terhadap keberadaan pangkalan militer AS di Teluk tidak relevan lagi, di saat negara-negara Arab dan Islam diam saja saat Iran melancarkan serangan.

"Dengan kealpaan dan ketidakberdayaan ini, maka pembicaraan tentang kemunduran peran Arab dan Islam serta kritik terhadap kehadiran Amerika dan Barat tidak lagi bisa diterima," kata Gargash di media sosial X.

Baca Juga: Mulai Nego dengan Trump, Iran Buka Selat Hormuz Tapi Tetapkan Tarif Rp34 Miliar per Kapal

Load More