- Konflik Timur Tengah menyebabkan gangguan signifikan pada industri penerbangan global, memicu pembatalan penerbangan dan kenaikan biaya bahan bakar jet.
- Sektor pariwisata global terancam penurunan jumlah wisatawan, dengan proyeksi kerugian besar pada kunjungan dan penginapan di luar kawasan Timur Tengah.
- Gangguan jalur pelayaran vital dan kenaikan biaya energi memengaruhi transportasi laut serta produksi dan distribusi pupuk dunia.
Rute pelayaran antara Asia dan Eropa serta Asia dan Afrika mengalami gangguan karena pelabuhan di Teluk dan Laut Merah berfungsi sebagai titik transit utama. Sejumlah kapal bahkan tertahan di kawasan Teluk.
Untuk menghindari risiko di Laut Merah dan Terusan Suez, beberapa operator memilih rute alternatif memutar Afrika, yang lebih panjang dan mahal, sehingga meningkatkan waktu pengiriman dan biaya logistik.
Di negara Timur Tengah, khususnya kawasan Teluk, merupakan produsen sekitar 30 persen pupuk dunia—komponen penting dalam meningkatkan hasil pertanian.
Gangguan produksi dan distribusi, ditambah lonjakan harga gas alam sebagai bahan baku pupuk, memicu kekhawatiran akan kelangkaan pasokan global. Sejumlah negara di Asia bahkan terpaksa menghentikan produksi pupuk domestik.
Di sisi lain, petani juga menghadapi kenaikan biaya operasional akibat harga diesel dan gas yang meningkat, termasuk untuk menjalankan alat pertanian dan pemanas rumah kaca.
Sektor barang mewah turut terkena imbas. Timur Tengah selama ini menjadi pasar penting sekaligus pusat distribusi melalui bandara utama seperti di Abu Dhabi, Doha, dan Dubai.
Penurunan jumlah wisatawan membuat penjualan produk mewah di kawasan ini diperkirakan anjlok hingga 50 persen pada Maret.
Secara keseluruhan, konflik Timur Tengah menunjukkan efek domino yang luas terhadap ekonomi global. Mulai dari lonjakan biaya energi, gangguan rantai pasok, hingga perubahan perilaku konsumen, semua sektor kini menghadapi tekanan.
Jika konflik berlangsung lebih lama, dampaknya diperkirakan akan semakin dalam dan meluas ke berbagai sektor lain di seluruh dunia.
Baca Juga: Garuda Indonesia Jalankan 11 Strategi Transformasi, Bidik Pemulihan Kinerja
Berita Terkait
-
Beroperasi 56 Tahun, Pelita Air Fokus Penguatan Layanan Berbasis Pengalaman Pelanggan
-
Ekonomi Global Bakal Melambat di 2026, Bagaimana Kondisi Indonesia?
-
Di Tengah Ketidakpastian Global, Bisnis Asuransi Masih Catatkan Torehan Positif
-
Bank Indonesia Pastikan Indonesia Bisa Hadapi Ombak Ekonomi Global yang Belum Mereda
-
Profil Pemilik Mukhtara Air, Maskapai Baru Ternyata Punya Jaringan Bisnis di Madinah
Terpopuler
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- 6 Rekomendasi Sepeda 1 Jutaan Terbaru yang Cocok untuk Bapak-Bapak
- 5 Bedak Tabur Translucent Lokal yang Bikin Makeup Tampak Halus dan Tahan Lama
Pilihan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
Terkini
-
Indri Wahyuni Juri LCC MPR Viral, Gaji dan Kekayaannya Bikin Publik Melongo
-
Harga Minyak Brent dan WTI Bergerak Tipis, Damai ASIran Kembali Gagal
-
Rekor Buruk, Rupiah Sentuh Level Rp17.500 per Dolar AS
-
Emas Antam Tiba-tiba Lompat Tinggi, Harga Tembus Rp 2.859.000/Gram
-
BEI Ungkap Risiko Saham Indonesia Keluar dari MSCI, Investor Diminta Siap Hadapi Pil Pahit
-
Jelang Pengumuman Rebalancing MSCI, IHSG Dibuka Menghijau ke Level 6.946
-
Saham-saham Paling Banyak Diborong dan Dijual Asing Jelang Pengumuman MSCI
-
Gegara MSCI dan Perang, IHSG Telah Merosot 20,14% Sejak Awal Tahun
-
Pamer Ekonomi Tumbuh 5,61 Persen, Purbaya Bandingkan Kinerja dengan Sri Mulyani
-
Jelang Pengumuman MSCI, Saham 'Gorengan' dan 'Konglomerat' Bisa Bikin IHSG Turun Kelas!