- Harga beras naik saat puncak panen raya Maret 2026, sebuah fenomena tidak lazim.
- Produksi capai 5,21 juta ton, terdapat surplus 2,62 juta ton yang gagal tekan harga.
- Cadangan beras Bulog tembus 4,3 juta ton, namun stabilitas harga belum terwujud.
Suara.com - Di tengah guyuran panen raya dan tumpukan stok di gudang pemerintah yang mencapai rekor, harga beras di pasaran justru merangkak naik.
Fenomena ini dinilai tidak lazim dan mencerminkan adanya mata rantai yang tersumbat dalam tata kelola pangan.
Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori, menyebut situasi ini sebagai paradoks yang mengkhawatirkan. Menurutnya, secara hukum ekonomi, lonjakan pasokan seharusnya menjadi katalisator penurunan harga.
“Fenomena tidak biasa karena, pertama, Maret 2026 adalah puncak panen raya,” ujar Khudori kepada wartawan, Kamis (9/4/2026).
Merujuk data Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS) amatan Februari 2026, produksi beras nasional diproyeksikan menyentuh angka 5,21 juta ton. Dengan tingkat konsumsi nasional sebesar 2,59 juta ton, seharusnya terdapat surplus sebesar 2,62 juta ton beras di pasar.
Tak hanya produksi petani yang melimpah, benteng cadangan pangan pemerintah juga dalam kondisi sangat kokoh. Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog dilaporkan menembus angka 4,3 juta ton.
“Stok cadangan beras pemerintah yang dikelola BULOG juga amat besar. Ada paradoks, stok CBP melimpah kok harga beras malah naik atau tetap tinggi?” pungkas Khudori heran.
Keanehan ini terlihat nyata di lapangan. Alih-alih melandai karena melimpahnya gabah, harga beras justru mengalami tren kenaikan di berbagai lini, mulai dari tingkat penggilingan hingga pedagang eceran.
Kondisi ini memicu pertanyaan besar mengenai efektivitas distribusi dan dugaan adanya gangguan dalam mekanisme pasar. Jika surplus jutaan ton tidak mampu menekan harga, maka ada yang salah dengan instrumen stabilisasi pangan nasional.
Baca Juga: Imbas Konflik Timur Tengah, Pengiriman 2.200 Ton Beras Bulog untuk Jemaah Haji Terancam Gagal
"Ketika produksi melimpah, harga biasanya turun," tegas Khudori mengingatkan prinsip dasar pasar yang kini seolah tidak berlaku di Indonesia.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- HP Vivo yang Bagus Seri Apa? Ini Rekomendasi Seri X, V, dan Y Sesuai Kebutuhan
- 4 Rekomendasi Sampo Urang-Aring untuk Menghitamkan dan Menyuburkan Rambut
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Pelindo Lakukan Soft Launching Layanan Kepelabuhanan di Perairan Nipa
-
Setelah Sah Jadi BUMN, Danantara Mulai Audisi Direksi DSI
-
Danantara Punya Yayasan Filantropi, Fokus Benahi Kesehatan dan Pendidikan
-
BRI Salurkan KUR Perumahan Rp9,2 Triliun, Menteri PKP Maruarar Sirait Ungkap Manfaat untuk UMKM
-
Viral Pantai Kartika di Konawe Selatan Hancur Digempur Tambang, Ini Perusahaan Pemilik Konsesinya
-
Qita by BRI Diluncurkan, Permudah Pengelolaan Finansial dan Gaya Hidup Digital
-
Pegadaian dan ANTAM Perkuat Sinergi Strategis untuk Kembangkan Ekosistem Emas Nasional
-
Industri Keramik Mulai Bangkit, Utilisasi Industri Naik ke 75 Persen Tahun Ini
-
Prabowo Siapkan Pelatihan Industri Semikonduktor untuk 15 Ribu Anak Muda
-
PLTS Berkapasitas 71,9 MW Resmi Dibangun, Terbesar di Sektor Semen RI