Bisnis / Energi
Jum'at, 10 April 2026 | 08:40 WIB
Ilustrasi Selat Hormuz [Suara.com/AI-HD]
Baca 10 detik
  • Harga minyak dunia meningkat pada Jumat (10/4) akibat ketegangan di Selat Hormuz yang masih melumpuhkan jalur pelayaran tangker.
  • Penyusutan kapasitas produksi minyak Arab Saudi terjadi setelah infrastruktur energi utama dihantam serangan rudal dan drone Iran.
  • Gangguan pasokan global ini memicu kekhawatiran kenaikan harga BBM yang berpotensi membebani pertumbuhan ekonomi dunia secara signifikan.

Suara.com - Harga minyak mentah dunia terpantau merangkak naik pada perdagangan Jumat (10/4), menyusul ketegangan yang kian mendalam di Selat Hormuz.

Meskipun kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran sudah diteken, jalur pelayaran paling vital di dunia tersebut nyatanya masih lumpuh dan tertutup bagi sebagian besar kapal tangker.

Kenaikan harga ini mencerminkan kecemasan investor yang melihat bahwa "janji damai" di atas kertas belum berwujud nyata di lapangan.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik 0,55% ke level US$ 98,33 per barel. Sementara itu, patokan internasional Brent untuk pengiriman Juni melonjak lebih dari 1% hingga menyentuh US$ 96,91 per barel.

Harga Minyak Mentah 10/4/2026 [trading Economics]

Dikutip via CNBC, Presiden AS Donald Trump tidak tinggal diam melihat kemacetan di Selat Hormuz.

Melalui platform Truth Social, Trump melontarkan peringatan keras kepada Teheran agar segera menghentikan praktik yang menghambat jalur perdagangan tersebut.

Isu yang beredar menyebutkan bahwa Iran diduga mulai menarik pungutan bagi tangker yang ingin melintasi selat sebagai bentuk perlawanan terhadap serangan AS-Israel yang belakangan terus menyerang Iran.

Israel sendiri justru melakukan penyerangan total ke wilayah Lebanon dengan ratusan orang menjadi korban. Sementara, iran menegaskan perdamaian Lebanon sebagai syarat gencatan senjata.

Dalam unggahannya yang tajam, Trump menulis, "Iran melakukan pekerjaan yang sangat buruk, bahkan bisa dibilang tidak terhormat, dalam mengizinkan minyak melewati Selat Hormuz.." Ia juga memperingatkan Iran untuk “stop now” jika tidak ingin menghadapi konsekuensi lebih lanjut.

Baca Juga: Sekutu AS Kecam Israel, Desak Gencatan Senjata dengan Iran juga Berlaku di Lebanon

Kekhawatiran Trump bukan tanpa alasan. Selat Hormuz adalah urat nadi ekonomi dunia yang menangani sekitar 20% pasokan minyak global sebelum konflik pecah.

Penasihat ekonomi utama Gedung Putih, Kevin Hassett, menegaskan betapa krusialnya jalur ini. Menurutnya, berhasil meloloskan satu tangker minyak saja melintasi selat tersebut akan memberikan “sebagian besar dari apa yang hilang” bagi stabilitas pasokan energi dunia saat ini.

Krisis tidak hanya terjadi di laut, tetapi juga merembet ke daratan. Kapasitas produksi minyak Arab Saudi dilaporkan ikut terpangkas setelah serangkaian serangan menghantam infrastruktur energi utama mereka.

Berdasarkan laporan Saudi Press Agency yang mengutip sumber Kementerian Energi, serangan ini telah memotong kapasitas output minyak sekitar 600.000 barel per hari.

Lebih parah lagi, serangan rudal Iran dilaporkan menghantam stasiun pompa di sepanjang pipa East-West Pipeline. Jalur pipa ini merupakan "jalur ninja" bagi Riyadh untuk mengangkut minyak mentah dari Teluk Persia menuju terminal ekspor di Laut Merah (Yanbu) guna menghindari Selat Hormuz yang berbahaya.

Akibat serangan tersebut, aliran minyak melalui pipa ini menyusut sekitar 700.000 barel per hari.

Load More