-
Mojtaba Khamenei mengklaim kemenangan Iran atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.
-
Iran berencana meningkatkan pengendalian strategis di Selat Hormuz sebagai tahap baru pascaperang.
-
Gencatan senjata diambil untuk mengonsolidasikan kekuatan nasional Iran di meja negosiasi global.
Suara.com - Momentum penting terjadi saat pemimpin tertinggi Iran yang baru saja menjabat memberikan pernyataan resminya.
Mojtaba Khamenei muncul memberikan pesan tertulis di tengah situasi panas antara Iran dengan blok Barat.
Kemunculan perdana ini dilakukan pasca kesepakatan penghentian kontak senjata yang mulai berlaku pada Selasa lalu.
Pernyataan ini terhitung sebagai pidato kedua sejak eskalasi militer gabungan pecah pada akhir Februari 2026.
Pesan emosional tersebut dirilis tepat saat peringatan 40 hari wafatnya Ali Khamenei di masa perang.
Dalam siaran televisi nasional, Khamenei menyatakan negaranya tetap kokoh menghadapi serangan bertubi dari pihak lawan.
Ia memandang ketahanan nasional Iran sebagai bukti keberhasilan melawan dominasi militer Amerika Serikat serta Israel.
“Rakyat Iran telah mencapai kemenangan dalam perang melawan Amerika Serikat dan Israel,” ujarnya, seperti dikutip Chosun.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa posisi tawar Iran tidak goyah meskipun situasi di lapangan sangat sulit.
Baca Juga: Nuklir Iran Panas Lagi, Ambisi Pengayaan Uranium Teheran Tak Akan Bisa Dihentikan Amerika Serikat
“Kami tidak mencari perang, tetapi kami tidak akan melepaskan hak-hak sah kami dalam keadaan apa pun,” katanya.
Pemerintah Iran kini mulai mengalihkan fokus mereka pada pengamanan aset strategis di wilayah perairan internasional.
Selat Hormuz menjadi target utama dalam rencana jangka panjang Teheran untuk memperkuat pengaruh ekonomi global mereka.
Khamenei mengindikasikan adanya transformasi besar-besaran dalam hal pengawasan jalur distribusi minyak mentah dunia tersebut.
“Kami pasti akan memajukan pengelolaan Selat Hormuz ke tahap baru,” ujarnya.
Hal ini diprediksi akan menjadi babak baru dalam peta persaingan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
Terkini
-
Imbas Konflik Timur Tengah: Harga Plastik di Jakarta Melonjak 40 Persen, Penjual Makanan Menjerit!
-
Selat Hormuz Ditutup Lagi Akibat Israel Serang Lebanon, Iran Murka Gencatan Senjata AS Dilanggar
-
Anak Urus Anak: KPI Bongkar Fakta Pahit di Balik Maraknya Pernikahan Dini di Indonesia
-
Sekutu Mulai Pecah Kongsi? Inggris Kecam Trump dan Tuntut Gencatan Senjata di Lebanon
-
TNI AL Latih UMKM Pesisir Olah Hasil Laut dan Kedelai, Dorong Kemandirian Ekonomi
-
Awan Gelap Gencatan Senjata Perang AS - Iran
-
KPI Konsolidasikan Gerakan Perempuan Jelang Kongres VI, Soroti Kepemimpinan dan Keadilan Iklim
-
Korupsi Petral Bikin Harga Premium Melejit, Kejagung Gandeng BPKP Hitung Total Kerugian Negara!
-
Nuklir Iran Panas Lagi, Ambisi Pengayaan Uranium Teheran Tak Akan Bisa Dihentikan Amerika Serikat
-
Iran Ancam Batalkan Gencatan Senjata dengan AS Jika Israel Terus Bombardir Lebanon Tanpa Henti