- Amerika Serikat dan Iran melakukan negosiasi di Pakistan pada Sabtu (11/4/2026) untuk membahas normalisasi operasional Selat Hormuz.
- Kegagalan kesepakatan tersebut berpotensi menaikkan harga minyak dunia di atas 100 dolar AS per barel bagi seluruh negara.
- Kenaikan harga minyak dunia akan membebani APBN Indonesia akibat membengkaknya biaya subsidi bahan bakar minyak bagi masyarakat.
Suara.com - Negosiasi antara Amerika Serikat dengan Iran dijadwalkan berlangsung hari ini, Sabtu (11/4/2026) di Pakistan.
Negosiasi antara kedua negara diharapkan menemukan titik temu, karena akan berdampak terhadap kestabilan stok dan harga minyak dunia.
Meski Selat Hormuz telah dibuka kembali, setelah adanya kesepakatan gencatan senjata, namun jalur utama pasokan minyak dunia tersebut belum dapat dilalui secara normal.
Salah satu penyebabnya, seperti yang disampaikan pejabat Amerika Serikat, Iran tidak mampu untuk mengambil kembali ranjau yang mereka pasang sebelumnya.
Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Fahmy Radhi, menyebut jika negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran tidak menemukan titik temu, dan Selat Hormuz tidak dapat dilalui secara normal, akan berdampak terhadap harga minyak global.
Dia memperkirakan, harga minyak akan kembali naik menyentuh angka di atas 100 dolar AS per barel. Padahal, pasca-gencatan senjata, harga minyak dunia sudah mulai turun ke level rata-rata 90 dolar AS per barel.
Kenaikan harga itu dipastikannya akan berdampak kepada seluruh negara, tak terkecuali Indonesia. Konsekuensinya bagi Indonesia biaya subsidi yang harus ditanggung oleh APBN akan membengkak.
Sebab asumsi harga patokan minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 ditetapkan sebesar 70 dolar AS per barel.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, sebelumnya memang mengatakan bahwa harga BBM subsidi dipastikannya tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun.
Baca Juga: Selat Hormuz Masih Tertutup, Ranjau Laut Iran Ganggu Pasokan Energi Global
Menurutnya, kebijakan subsidi BBM telah diperhitungkan secara matang untuk berbagai skenario, termasuk jika harga minyak dunia mencapai 100 dolar AS per barel hingga akhir tahun. Dengan asumsi tersebut, defisit APBN dipastikan tetap aman di kisaran 2,9 persen.
Namun dengan dinamika harga minyak dunia yang fluktuatif, Fahmy mempertanyakan sampai kapan APBN dapat menanggung defisit yang terjadi.
"Nah pertanyaannya sampai kapan itu bisa bertahan?," katanya saat dihubungi Suara.com pada Sabtu (11/4/2026).
Di samping itu, Fahmy juga menyoroti upaya pemerintah yang mengalihkan pasokan minyak mentah dari Timur Tengah ke negara lain seperti Amerika Serikat. Tercatat impor minyak mentah dari Timur Tengah mencapai 20-25 persen dari total kebutuhan.
Fahmy menilai bahwa langkah yang ditempuh itu juga memiliki konsekuensi, yakni biaya logistik dan kecocokan spesifikasi minyak dengan kilang pengolahan di Indonesia.
"Karena yang pertama apakah minyak mentah yang dibeli dari Amerika itu cocok dengan cocok dengan kilang kita?" ujar Fahmy.
Berita Terkait
-
Selat Malaka Milik Siapa? Bikin Singapura Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz
-
14 Hari Penentu Nasib Dunia: Perundingan AS-Iran Gagal, Ekonomi di Ambang Kehancuran
-
Mimpi Besar Prabowo Terancam, World Bank Beri Catatan Ini
-
Berapa Tarif yang Dikenakan Iran untuk Lewati Selat Hormuz?
-
Harga Minyak Dunia Mendidih Lagi, Tapi di Bawah USD 100/Barel
Terpopuler
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- 6 HP Snapdragon Paling Murah RAM 8 GB untuk Investasi Gadget Jangka Panjang
- Sabun Cuci Muka Apa yang Bagus untuk Atasi Kulit Kusam? Ini 5 Pilihan agar Wajah Cerah
- 5 HP Infinix Termurah dengan Fitur NFC yang Canggih, Mulai Rp1 Jutaan
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
Iran Mau Buka Selat Hormuz, AS Sepakat Cairkan Dana Iran yang Dibekukan Qatar
-
Ekspor IKM Surabaya Tembus 2,73 Juta Dolar AS, SIL Festival 2026 Serap Ribuan Tenaga Kerja Lokal
-
Mengapa WFH di Jumat Akan Kurang Efektif Tekan Konsumsi BBM?
-
Apindo dan KSPSI Bahas RUU Ketenagakerjaan Bersama-sama
-
Pasokan Gas Jawa TimurJateng Stabil, BPH Migas Pastikan Energi Industri Aman dan Optimal
-
Isu Penggeledahan Kejati, Menteri Dody Tegaskan Transparansi APBN di Kementerian PU
-
Ketahanan Energi RI Naik Jadi Hampir 30 Hari, Bahlil: Target 1 Bulan Segera Tercapai
-
Pasar Global Makin Ketat, KKP Dorong Transparansi Rantai Pasok Ikan
-
JK Ngotot Harga BBM Naik, Wihadi DPR: Jangan Bikin Pemerintah dan Rakyat Jadi Sulit
-
Selat Hormuz Masih Tertutup, Ranjau Laut Iran Ganggu Pasokan Energi Global