- Iran-Oman pungut biaya transit Selat Hormuz untuk dana rekonstruksi pasca-perang.
- Gencatan senjata AS-Iran buka kembali jalur minyak global dengan syarat komersial.
- Donald Trump sebut proposal 10 poin Iran jadi kunci perdamaian di Selat Hormuz.
Suara.com - Iran dan Oman dilaporkan berencana memungut biaya transit bagi setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz selama masa gencatan senjata dua pekan dengan Amerika Serikat (AS).
Melansir laporan Kantor Berita Tasnim yang dikutip CNN, Kamis (9/4/2026), dana hasil pungutan tersebut nantinya akan dialokasikan khusus untuk biaya rekonstruksi pasca-konflik. Langkah ini menandai babak baru dalam pengelolaan jalur distribusi energi paling vital di dunia tersebut.
Selama ini, Selat Hormuz yang memiliki lebar 34 kilometer dianggap sebagai jalur air internasional bebas hambatan, meski secara geografis berada di perairan teritorial Oman dan Iran. Namun, eskalasi militer sejak serangan Israel yang didukung AS pada 28 Februari lalu telah mengubah peta kekuatan di wilayah tersebut.
"Kami sedang menyusun protokol dengan Oman terkait hal ini," ujar Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi. Ia menegaskan bahwa langkah ini bukan untuk membatasi pergerakan logistik, melainkan untuk memfasilitasi transit yang lebih aman di bawah pengawasan mereka.
Rencana ini muncul tepat saat AS dan Iran menyepakati gencatan senjata selama 40 hari untuk mengakhiri konflik berdarah. Presiden AS Donald Trump menyebut proposal 10 poin dari Iran sebagai "dasar yang layak" untuk negosiasi lebih lanjut yang akan digelar di Islamabad, Jumat (10/4/2026).
Berdasarkan data pelacakan maritim, sejak perang meletus volume pengiriman turun drastis hingga tersisa 5%, harga minyak global melonjak tajam akibat penutupan jalur, Iran dilaporkan sempat memungut biaya hingga US$2 juta per kapal secara informal.
Besaran biaya transit yang akan diberlakukan secara resmi ini kabarnya akan bervariasi, tergantung pada jenis kapal muatan dan nilai komoditas yang dibawa dan protokol keamanan tambahan yang diterapkan selama masa transisi.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
Pilihan
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
Terkini
-
BRI Jadi Merek Paling Bernilai di Indonesia Versi Brand Finance Global 500 2026
-
Akui Harga Plastik Naik, Industri Mulai Cari Bahan Baku Lain di Luar Timur Tengah
-
Harga Avtur Terbang 70 Persen, Tarif Kargo Udara Ikut Melambung 40 Persen
-
Permata Bank Bagi Dividen Rp1,226 Triliun hingga Romba Direksi
-
Harga Plastik Melonjak, Komisi XII DPR Koordinasi dengan Kemenperin
-
Harga Pangan Bergerak Liar, Bawang Naik Tajam, Cabai Ambruk
-
Bahlil Jamin LPG Tak Langka, Stok Sudah di Atas 10 Hari
-
Kurs Rupiah Hari Ini : Melemah ke Rp17.043 per Dolar AS
-
Harga Emas Antam Turun Drastis, Kembali Dibanderol Rp 2,85 Juta/Gram
-
Harga Minyak Dunia Mendidih Lagi, Tapi di Bawah USD 100/Barel