- Ketua Umum Perhapi Sudirman Widhy Hartono mengeluhkan keterlambatan persetujuan RKAB 2026 oleh Kementerian ESDM di Jakarta pada April 2026.
- Keterlambatan proses RKAB batu bara dan nikel menghambat operasional perusahaan tambang di tengah krisis energi akibat konflik global.
- Penerapan biodiesel B50 dikhawatirkan meningkatkan biaya produksi dan menurunkan performa alat berat di area tambang yang jauh.
Suara.com - Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), Sudirman Widhy Hartono mengeluhkan lambannya penetapan rencana kerja dan anggaran biaya atau RKAB 2026 oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)
Sudirman, dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (11/4/2026) menyatakan leletnya proses persetujuan RKAB batu bara dan nikel dari Kementerian ESDM memantik masalah tambahan bagi industri setelah adanya krisis energi akibat konflik di Timur Tengah.
"Banyak sekali perusahaan yang tidak dapat berfungsi di awal tahun karena keterlambatan proses persetujuan RKAB,” kata Widhy dalam diskusi Peran RKAB dan Peningkatan Produksi Dalam Strategi Menyikapi Tantangan Global.
Menurut dia, Perhapi sebetulnya sudah menyampaikan kekhawatiran terhadap rencana perubahan persetujuan RKAB dari tiga tahun kembali ke setiap tahun. Walaupun ada aplikasi yang bisa membantu proses persetujuan RKAB, realitasnya persetujuan RKAB terlambat hingga di Maret 2026.
“Alhamdulillahnya, ada semacam relaksasi untuk menggunakan 25 persen dari kegiatan yang masih berlaku,” katanya.
Sementara itu, terhadap rencana untuk pengendalian produksi, Widhy mengungkap fakta bahwa sudah banyak perusahaan di sektor pertambangan batu bara yang menyesuaikan operasional tambang, karena khawatir adanya rencana pembatasan produksi.
Di sisi lain, Widhy juga menyoroti tantangan penggunaan biodiesel B50 untuk bahan bakar pertambangan yang membuat biaya produksi meningkat.
Ia menilai pengalaman memakai B20 hingga B40 sudah terbukti menurunkan performa alat dan meningkatkan biaya perawatan, apalagi di remote area dengan umur simpan bahan bakar yang lebih singkat.
Meski B50 diklaim mampu menghemat subsidi solar hingga Rp48 triliun, para ahli mendesak agar kebijakan ini tidak terburu-buru mengingat risiko operasional dan dampak sosial yang masif bagi pekerja tambang.
Baca Juga: ESDM Pastikan RKAB Batu Bara yang Beredar Hoaks
Ade Candra, Direktur Business Development perusahaan kontraktor tambang Pamapersada, mengakui gejolak geopolitik yang terjadi saat ini mau tidak mau berdampak bagi perusahaan kontraktor jasa tambang.
Kondisi geopolitik saat ini diakui berpengaruh terhadap kenaikan harga komoditas, termasuk batu bara yang kenaikan harganya bisa mencapai hingga 25 persen.
Namun, harga bahan bakar minyak global juga naik, bahkan lebih signifikan. Pada Januari-Maret 2026, kenaikannya bahkan bisa mencapai 155 persen.
Selain itu, ada sumber-sumber bahan produksi yang mengalami kendala pasokan, seperti kebutuhan bahan bakar untuk menjalankan alat-alat tambang serta komponen-komponen yang masih banyak tergantung dari luar negeri, ujar Ade Candra menambahkan.
Berita Terkait
-
Kendaraan Listrik Jadi Fokus Transisi Energi, Benarkah Sudah Sepenuhnya Bersih?
-
RKAB Batubara 2026 Hampir Rampung, Dekati Angka 600 Juta Ton
-
Emiten PPRE Raih Kontrak Proyek Infrastruktur Penunjang Hilirisasi Nikel
-
Pembangunan Pabrik DME PTBA Butuh 3 Tahun, Pendanaan Masih Menunggu Danantara
-
Laba PTBA Anjlok 42,5 Persen
Terpopuler
- 50 Orang Berambut Cepak 'Serbu' Polda Metro Jaya: 'Mau Ambil Saksi Kasus Jampidsus'
- Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
- Surat Edaran Rahasia Kejagung Bocor, Jaksa Diminta Waspada dan Dilarang Berkomentar soal Perkara
- Gibran Bukan Panglima! Pakar UGM: Keamanan Papua Tetap Tanggung Jawab TNI dan Polri
- JK Jadi Tersangka Korupsi Ekspor Logam Tanah Jarang, Langsung Ditahan Kejagung
Pilihan
-
Jampdisus Febrie Adriansyah Akhirnya Mundur
-
Tangan Terborgol, Mulut Bungkam: Raut Wajah Bupati Sukoharjo Pakai Rompi Oranye KPK Tengah Malam
-
Ironi Hukum: Menuju Indonesia Emas, Ternyata Emasnya Ada di Rumah Febrie!
-
Bikin Melongo! Polri Pamerkan 74 Kg Emas hingga Ratusan Miliar Hasil Sitaan Kasus Jampidsus
-
Jampidsus Febrie Adriansyah: Saya Tidak Mundur! Masih Terima Perintah Usut Kasus Korupsi
Terkini
-
IHSG Terkoreksi, BEI Sebut Justru Jadi Peluang Investasi Jangka Panjang
-
Panasonic Tampilkan Solusi Modern Living & Building Terintegrasi di IndoBuildTech Expo 2026
-
Tabel Pinjaman KUR BRI Juli 2026 Terbaru, Simulasi Angsuran Rp1 Juta hingga Rp100 Juta
-
Liburan Lebih Hemat dengan Diskon Rp125.000 di tiket.com Pakai BRI Kartu Kredit
-
Harga Emas Antam Berbalik Naik ke Rp2,655 Juta per Gram, Buyback Ikut Menguat
-
Asing Masih Genjar Jual Saham, IHSG Menguat Tipis Pekan Ini
-
Vietjet Bidik Wisatawan Muslim Indonesia
-
Harga Cabai Rawit Naik Lagi, Telur Ayam Rp28.950 per Kg, Cek Daftar Harga Pangan Terbaru
-
128 Juta Penumpang Transportasi Pilih Kereta dalam Tiga Bulan
-
Bangun Kepercayaan Investor, OJK Perkuat Governance Industri Keuangan melalui RGS 2026