- Laba bersih PTBA 2025 anjlok 42,5% ke Rp2,93 triliun akibat jatuhnya harga batu bara global.
- Meski produksi naik 9%, profit PTBA tergerus dalam karena indeks Newcastle merosot 22%.
- Dirut PTBA klaim efisiensi, namun pasar soroti penurunan tajam laba bersih emiten pelat merah.
Suara.com - Rapor merah membayangi PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sepanjang tahun buku 2025. Emiten pertambangan batu bara pelat merah ini terpaksa gigit jari setelah mencatatkan kejatuhan laba bersih yang cukup signifikan di tengah fluktuasi pasar komoditas global.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, PTBA hanya mampu membukukan laba bersih sebesar Rp2,93 triliun. Angka ini merosot tajam hingga 42,5 persen jika dibandingkan dengan perolehan tahun 2024 yang masih perkasa di angka Rp5,10 triliun.
Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, berdalih bahwa merosotnya profitabilitas perusahaan tak lepas dari koreksi harga jual rata-rata akibat indeks Newcastle yang anjlok hingga 22 persen.
"Meski harga jual rata-rata terkoreksi, PTBA mampu menjawab tantangan tersebut dengan peningkatan efisiensi operasional," ujar Arsal dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (6/4/2026).
Namun, klaim efisiensi tersebut tampaknya kontras dengan realitas laba yang tergerus hampir separuh dari tahun sebelumnya. Meskipun EBITDA tercatat sebesar Rp6,08 triliun, pasar tetap menyoroti ketidakmampuan perseroan membentengi profit dari hantaman harga global.
Di tengah penurunan laba, PTBA justru terus memacu volume produksi hingga 47,2 juta ton (naik 9 persen) dan volume penjualan 45,4 juta ton. Namun, kenaikan volume ini tidak mengompensasi hilangnya pendapatan akibat jatuhnya harga pasar.
Perseroan juga terlihat jor-joran dalam belanja modal (capex) senilai Rp4,55 triliun yang dialokasikan untuk infrastruktur jangka panjang. Disisi lain PTBA mengalokasikan 54 persen total penjualannya untuk kebutuhan domestik demi menjaga ketahanan energi nasional. Untuk porsi ekspor tercatat sebesar 46 persen sebagai hasil dari langkah ekspansi dan diversifikasi pasar global perusahaan.
Untuk tahun 2026, PTBA mematok target produksi dan penjualan yang lebih tinggi, yakni 49,5 juta ton. Arsal menyatakan pihaknya akan menerapkan strategi penambangan selektif untuk menjaga daya saing.
"PTBA optimis dapat menjaga kinerja positif yang berkelanjutan untuk berkontribusi pada perekonomian bangsa serta menjaga ketahanan energi nasional,” ujarnya.
Baca Juga: Emiten MPMX Cetak Laba Bersih Rp 462 M Sepanjang 2025
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Bedak yang Mengandung Niacinamide, Bantu Cerahkan Wajah dan Kontrol Sebum
- 5 HP Snapdragon untuk Budget Rp2 Juta, Multitasking Stabil dan Hemat Baterai
- Mitsubishi Destinator dan XForce Lagi Promo di Bulan Mei, Harga Jadi Segini
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
Pilihan
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
Terkini
-
Menteri PU Jelaskan Kasus Dugaan Korupsi di Dirjen SDA
-
Inovasi Baru PGTC 2026: Energy AdSport Challenge Jadi Wadah Mahasiswa Berprestasi Jalur Non-Akademis
-
BRI Consumer Expo Jakarta 2026 Hadir di JICC: Banjir Promo Hunian, Kendaraan, Sampai Tiket Pesawat
-
Harga Aspal Jadi Mahal Gegara Rupiah Lemah, Kementerian PU Ganti Pakai Beton
-
DPR Soroti PSN 1 Juta Hektare, Begini Katanya
-
PLN Sedang Selidiki Penyebab Mati Lampu di Sumatra Bagian Utara
-
GMFI Kejar Laba Bersih 35,1 Juta Dolar AS di 2026, Begini Strateginya
-
Kementerian PU Butuh Rp30 Triliun untuk Bereskan 136 Perlintasan Sebidang
-
BI Minta Publik Tak Borong Dolar, saat Masyarakat Ramai-ramai Timbun Valas di Bank
-
Sumatra Gelap Gulita, Ini Penjelasan PLN