- Ketua Umum HIPPINDO Budiharjo Iduansjah meminta pemerintah mempermudah perizinan impor guna menjaga ketersediaan barang dan menahan harga.
- Pelaku usaha ritel di Jakarta mengalami kenaikan harga bahan baku dan kesulitan impor barang jadi sejak April 2026.
- Kemudahan impor diharapkan menjaga konsumsi domestik agar masyarakat tidak beralih belanja ke luar negeri saat kondisi geopolitik memanas.
Suara.com - Pelaku usaha ritel meminta pemerintah mempermudah perizinan impor di tengah kenaikan harga bahan baku yang mulai dirasakan dalam beberapa waktu terakhir. Kebijakan ini dinilai penting untuk menjaga ketersediaan barang sekaligus menahan tekanan harga di pasar domestik.
Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) Budiharjo Iduansjah mengatakan, kenaikan harga bahan baku sudah terjadi dan berdampak pada berbagai produk, terutama yang berbasis plastik.
"Ya, saat ini kami di ritel sudah terima kenaikan harga dari supplier. Jadi dari dua minggu lalu, atau minggu lalu juga udah masuk, dalam proses kami menegosiasi harga, harga lama. Tapi kalau nggak bisa ya kami nego harganya naik bertahap," ujar Budiharjo di Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Ia menyebut kenaikan tersebut berdampak pada harga jual produk di tingkat ritel, meski sebagian pelaku usaha masih berupaya menahan kenaikan melalui negosiasi dengan pemasok.
Di sisi lain, pelaku usaha juga menghadapi kendala dalam impor barang jadi yang tidak diproduksi di dalam negeri. Kondisi ini dinilai memperberat tekanan di sektor ritel.
"Kalau ritel sih masih yang kesulitan kami impor ya. Justru dengan kondisi bahan baku ini, harusnya kemudahan impor untuk barang jadi yang tidak diproduksi di Indonesia harus cepatnya diberikan kemudahan oleh kementerian terkait," jelasnya.
Budi menilai, kemudahan impor diperlukan untuk menjaga pasokan barang di dalam negeri, terutama untuk produk tertentu yang memiliki segmen pasar tersendiri.
"Ya misalnya kami ada tekstil yang branded ya. Uh itu kan nggak mungkin mematikan UMKM. Misalnya kalau barang-barang di mal tuh kan ada tas mahal, nah itu daripada situasinya semua apa kurang, ya yang memang masih kelas menengah atas mau daripada belanja ke Malaysia, ya mendingan dia belanja di Indonesia kan," ungkapnya.
Menurut dia, kebijakan tersebut juga dapat membantu menjaga konsumsi domestik agar tidak bergeser ke luar negeri.
Baca Juga: PHK di Industri Kendaraan Niaga Indonesia Segera Terjadi Jika Impor Truk China Tak Dibatasi
"Pesawat juga naik, nanti ya mendingan ditahan belanja di Indonesia, impornya dipermudah, dipercepat, diperbanyak kalau perlu supaya orang nggak belanja ke luar negeri bahkan orang luar negeri belanja di Indonesia," kata Budiharjo.
Ia menambahkan, pelaku usaha tetap siap memenuhi kewajiban perpajakan jika kemudahan impor diterapkan. Dengan demikian, negara juga akan tetap mendapat pemasukan dari barang kiriman luar negeri.
"Iya itu kan kemudahan, ya. Jadi orang mau bayar pajak kok, kita bayar pajak kok, kasih kemudahan. Setor negara uang. Itu kita bayar kok pajaknya," lanjutnya.
Selain itu, pelaku usaha juga mendorong pemerintah untuk memberikan kemudahan berusaha secara umum, termasuk tidak menambah regulasi baru yang dinilai berpotensi menghambat aktivitas bisnis di tengah kesulitan yang muncul imbas memanasnya situasi geopolitik.
"Jadi jangan dipersulit lagi, jangan bikin izin-izin peraturan lagi. Nggak usah bikin peraturan apa-apa dulu sekarang. Kasih kemudahan berusaha dulu, ya," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Inabuyer B2B2G Bisa Jadi Jembatan UMKM Ikut Serta Program MBG
-
Pemerintah Jamin Ketersediaan Energi Terjaga dan Terjangkau bagi Masyarakat
-
Ternyata Masalah Ini yang Bikin Investor Ritel Boncos di Pasar Saham
-
Diwarnai Kericuhan, Massa Pendemo Desak DPR Bentuk Pansus Agrinas Gate
-
Purbaya Pernah Ancam Potong Anggaran Kemendag Gegara Lambat Urus Regulasi Impor
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
Pilihan
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
Terkini
-
IHSG Terkoreksi di Sesi I, 344 Saham Anjlok
-
Menilik Labirin Penarikan Dana Trading: Mengapa Transfer Internasional Tak Pernah Instan?
-
Sengketa Rp119 Triliun, Emiten Milik Jusuf Hamka Tangkis Kabar Miring Ini
-
Link Lowongan Kerja Manajer Kopdes Merah Putih 2026: Ada 30.000 Formasi
-
Apa Penyebab Plastik Makin Mahal? Ini Bahan Pokok yang Harganya Ikut Naik
-
OJK Jawa Tengah Konsolidasikan BPR, Target Industri Lebih Sehat dan Efisien
-
BRI Consumer Expo 2026 Surabaya: Promo Rumah dengan Bunga 1,75%, Liburan Impian Cashback Rp8 Juta
-
Trump Bakal Pecat Jerome Powell dari Bos The Fed
-
Harga Pangan Hari Ini Naik Tajam, Cabai Tembus Rp101 Ribu, Telur dan Beras Ikut Merangkak
-
Rupiah Hari Ini Menguat ke Rp17.134 per Dolar AS, Simak Prediksi Pergerakannya