- Pemerintah Indonesia membahas potensi ekspor pupuk urea ke Australia guna merespons tingginya permintaan global akibat disrupsi rantai pasok.
- Indonesia memiliki kapasitas produksi pupuk yang kuat dengan potensi ekspor mencapai 1,5 juta ton pada tahun 2026.
- Pemenuhan kebutuhan pupuk bagi petani dalam negeri tetap menjadi prioritas utama pemerintah sebelum melakukan alokasi untuk ekspor.
Suara.com - Pemerintah membuka peluang ekspor pupuk urea ke Australia di tengah meningkatnya kebutuhan global akibat gangguan rantai pasok. Namun, pemenuhan kebutuhan dalam negeri tetap menjadi prioritas utama.
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, sudah membahas kemungkinan kerja sama ini dengan Duta Besar Australia. Pertemuan tersebut berlangsung di tengah dinamika global yang memengaruhi distribusi pupuk dunia, termasuk gangguan jalur logistik internasional.
“Dengan adanya disrupsi ini, banyak negara membutuhkan urea. Indonesia memiliki keunggulan karena mampu memproduksi urea dari gas alam domestik, sehingga kita tidak bergantung pada impor untuk komoditas tersebut,” ujar Sudaryono dalam keterangannya, Kamis (16/4/2026).
Ia menjelaskan, gangguan distribusi pupuk global salah satunya dipicu kondisi geopolitik, termasuk penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan pupuk dunia.
Sekitar sepertiga pasokan pupuk global diketahui melewati jalur tersebut, sehingga gangguan yang terjadi berdampak pada ketersediaan pupuk di pasar internasional.
Dalam kondisi tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang ekspor karena kapasitas produksi yang relatif kuat. Produksi pupuk urea nasional yang dikelola PT Pupuk Indonesia mencapai sekitar 9,36 juta ton hingga 9,4 juta ton per tahun.
Pada 2026, produksi urea ditargetkan mencapai 7,8 juta ton, dengan kebutuhan subsidi dalam negeri sebesar 6,3 juta ton. Dari angka tersebut, terdapat potensi ekspor sekitar 1,5 juta ton.
Namun demikian, pemerintah menilai kebutuhan petani dalam negeri tetap menjadi prioritas.
“Kebutuhan pupuk untuk petani Indonesia adalah super prioritas. Setelah itu terpenuhi, baru sisa produksi dapat dialokasikan untuk ekspor,” jelasnya.
Baca Juga: Harga Bahan Baku Melonjak, Pelaku Usaha Ritel Minta Impor Dipermudah
Menurut Sudaryono, minat terhadap pupuk urea Indonesia tidak hanya datang dari Australia, tetapi juga dari negara lain seperti India, Filipina, dan Brasil.
Meski begitu, pemerintah tetap berhati-hati dalam membuka ekspor agar tidak mengganggu ketersediaan dalam negeri.
Ia juga menyinggung hubungan dagang antara Indonesia dan Australia yang bersifat timbal balik di sektor pupuk.
“Ini hubungan yang resiprokal. Kita saling membutuhkan. Yang penting adalah bagaimana kita mengamankan kepentingan nasional sekaligus menjaga hubungan dagang yang sehat,” ucapnya.
Di sisi lain, pemerintah memastikan stok pupuk nasional, terutama pupuk subsidi, dalam kondisi aman seiring meningkatnya aktivitas tanam petani.
“Kalau ada petani yang tidak menemukan pupuk di kios, itu lebih kepada distribusi yang sedang berjalan cepat. Dalam 1–2 hari biasanya sudah tersedia kembali. Artinya pupuk ada dan cukup,” pungkasnya.
Berita Terkait
-
Akses Selat Hormuz Bakal Dibuka, Harga Minyak Dunia Melemah
-
China Mengakui Analisis IMF: Dunia Global Terancam Krisis Lebih Buruk
-
Iran Tertawakan Blokade AS di Selat Hormuz, Sindir Trump: Warga Amerika akan Rindu Bensin Murah
-
Kapal Tanker China Gagal Tembus Blokade AS di Teluk Persia
-
Apa Itu Nafta? Yang Bikin Harga Plastik Makin Mahal
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
Pilihan
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
Terkini
-
Begini Kesiapan Pos Indonesia Jelang BUMN Logistik Dijadikan Satu
-
Siapa Hery Susanto: Ketua Ombudsman dengan Gaji Selangit, 6 Hari Kerja Sudah Ditangkap
-
Harga Bahan Baku Melonjak, Pelaku Usaha Ritel Minta Impor Dipermudah
-
IHSG Terkoreksi di Sesi I, 344 Saham Anjlok
-
Menilik Labirin Penarikan Dana Trading: Mengapa Transfer Internasional Tak Pernah Instan?
-
Sengketa Rp119 Triliun, Emiten Milik Jusuf Hamka Tangkis Kabar Miring Ini
-
Link Lowongan Kerja Manajer Kopdes Merah Putih 2026: Ada 30.000 Formasi
-
Apa Penyebab Plastik Makin Mahal? Ini Bahan Pokok yang Harganya Ikut Naik
-
OJK Jawa Tengah Konsolidasikan BPR, Target Industri Lebih Sehat dan Efisien
-
BRI Consumer Expo 2026 Surabaya: Promo Rumah dengan Bunga 1,75%, Liburan Impian Cashback Rp8 Juta