- Industri tekstil Indonesia menghadapi lonjakan biaya produksi hingga 50 persen akibat kenaikan harga bahan baku yang signifikan.
- Asosiasi Pertekstilan Indonesia menyatakan kenaikan harga produk tekstil bagi konsumen sulit dihindari pada triwulan kedua tahun 2026.
- Pelaku industri berupaya menahan kenaikan harga produk guna menjaga daya beli masyarakat dengan mengharapkan stabilitas harga energi pemerintah.
Suara.com - Pelaku industri tekstil mulai pusing menghadapi lonjakan biaya produksi, karena harga bahan baku yang meroket. Pelaku industri menyebut kenaikan biaya produksi bisa mencapai 50 persen.
Direktur Eksekutif Asosiasi Pertekstilan, Indonesia (API) Danang Girindrawardana menyebut tekanan terhadap biaya produksi saat ini sudah berada di level yang mengkhawatirkan, terutama dari sisi bahan baku.
"Karena itu kurang lebih di antara 22 sampai 28 persen biaya produksi, maka kenaikannya bisa separuh lebih. Lebih ya. Itu berarti pada akhirnya pengusaha akan menaikkan biaya produksi," ujar Danan kepada wartawan, Jumat (17/4/2026).
Menurutnya, kenaikan tersebut tidak bisa dihindari karena komponen bahan baku menyumbang porsi besar dalam struktur biaya industri tekstil.
Kondisi ini pada akhirnya akan berdampak langsung kepada konsumen. Harga produk tekstil dan garmen dipastikan akan mengalami penyesuaian jika tekanan biaya terus berlanjut.
"Pada akhirnya konsumen dalam negeri kita yang akan mengalami kenaikan harga tekstil dan produk tekstil di ujung," tuturnya.
Meski demikian, pelaku industri mengaku masih berupaya menahan kenaikan harga dalam waktu dekat. Langkah ini dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat yang masih dalam tahap pemulihan.
"Pasti akan naik, tapi kita tidak berharap tahun ini ya. Kita lihat perkembangannya karena," jelasnya.
Upaya penahanan harga ini juga menjadi bagian dari strategi industri agar pasar domestik tidak terguncang dalam jangka pendek.
Baca Juga: Harga Plastik Melonjak, Industri Mulai Beralih ke Kemasan Daur Ulang
Namun, kemampuan industri untuk menahan harga dinilai sangat bergantung pada kebijakan pemerintah, khususnya terkait stabilitas harga energi.
"Hanya, hanya kami sangat membutuhkan ketegasan pemerintah untuk benar-benar memastikan tidak mengalami kenaikan harga energi dan BBM sampai tahun 2026. Itu sangat membantu," ungkapnya.
Danang menjelaskan, keputusan untuk belum menaikkan harga saat ini masih ditopang oleh ketersediaan bahan baku yang dibeli pada periode sebelumnya.
Kendati demikian, kondisi tersebut diperkirakan tidak akan bertahan lama. Memasuki triwulan kedua 2026, industri harus kembali melakukan impor bahan baku dengan harga yang lebih tinggi.
"Tapi triwulan kedua, which is bulan Mei sampai ke depan ini kan sudah harus impor lagi," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
Terkini
-
Rute Transjakarta Dialihkan Imbas Kebakaran Kemayoran, Cek Jalur Alternatifnya
-
Jangan Asal Investasi! Pahami 3 Hal Ini Sebelum Uang Anda Ludes di Pasar Berjangka
-
Perkuat PT GMM, Bulog Fokus Jaga Kepercayaan dan Kemitraan dengan Petani Tebu Blora
-
Influencer Tak Lagi Dapat PPh UMKM 0,5 Persen, Purbaya: Tak Ada Lapangan Kerja
-
PT GMM Pastikan Penyampaian Aspirasi Petani Tebu di Blora Berjalan Tertib dan Kondusif
-
Profil PT MMS, Perusahaan yang Dianggap Bandel di Industri Sawit
-
5 Asosiasi Pengusaha Buka Suara soal DSI, Ingatkan Risiko Ganggu Ekspor SDA RI
-
Tak Miliki Bisnis Sawit, Ini Profil PT MMSGI
-
Danantara Bongkar Borok BUMN, Catat Penurunan Aset Hampir Rp100 Triliun
-
Jelang DSI Beroperasi, Pengusaha Kompak Minta Jaminan Kontrak Ekspor Tetap Aman