Bisnis / Makro
Jum'at, 17 April 2026 | 17:48 WIB
Harga pakaian akan mengalami kenaikan setelah biaya produksi tekstil melonjak. (dok. UNIQLO)
Baca 10 detik
  • Industri tekstil Indonesia menghadapi lonjakan biaya produksi hingga 50 persen akibat kenaikan harga bahan baku yang signifikan.
  • Asosiasi Pertekstilan Indonesia menyatakan kenaikan harga produk tekstil bagi konsumen sulit dihindari pada triwulan kedua tahun 2026.
  • Pelaku industri berupaya menahan kenaikan harga produk guna menjaga daya beli masyarakat dengan mengharapkan stabilitas harga energi pemerintah.

Suara.com - Pelaku industri tekstil mulai pusing menghadapi lonjakan biaya produksi, karena harga bahan baku yang meroket. Pelaku industri menyebut kenaikan biaya produksi bisa mencapai 50 persen.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertekstilan, Indonesia (API) Danang Girindrawardana menyebut tekanan terhadap biaya produksi saat ini sudah berada di level yang mengkhawatirkan, terutama dari sisi bahan baku.

"Karena itu kurang lebih di antara 22 sampai 28 persen biaya produksi, maka kenaikannya bisa separuh lebih. Lebih ya. Itu berarti pada akhirnya pengusaha akan menaikkan biaya produksi," ujar Danan kepada wartawan, Jumat (17/4/2026).

Menurutnya, kenaikan tersebut tidak bisa dihindari karena komponen bahan baku menyumbang porsi besar dalam struktur biaya industri tekstil.

Pelaku Industri Tekstil mengeluhkan bahan baku yang alami kenaikan, sehingga membuat biaya poduksi naik dan berimbas pada harga pakaian. [Suara.com/Alfian Winanto]

Kondisi ini pada akhirnya akan berdampak langsung kepada konsumen. Harga produk tekstil dan garmen dipastikan akan mengalami penyesuaian jika tekanan biaya terus berlanjut.

"Pada akhirnya konsumen dalam negeri kita yang akan mengalami kenaikan harga tekstil dan produk tekstil di ujung," tuturnya.

Meski demikian, pelaku industri mengaku masih berupaya menahan kenaikan harga dalam waktu dekat. Langkah ini dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat yang masih dalam tahap pemulihan.

"Pasti akan naik, tapi kita tidak berharap tahun ini ya. Kita lihat perkembangannya karena," jelasnya.

Upaya penahanan harga ini juga menjadi bagian dari strategi industri agar pasar domestik tidak terguncang dalam jangka pendek.

Baca Juga: Harga Plastik Melonjak, Industri Mulai Beralih ke Kemasan Daur Ulang

Namun, kemampuan industri untuk menahan harga dinilai sangat bergantung pada kebijakan pemerintah, khususnya terkait stabilitas harga energi.

"Hanya, hanya kami sangat membutuhkan ketegasan pemerintah untuk benar-benar memastikan tidak mengalami kenaikan harga energi dan BBM sampai tahun 2026. Itu sangat membantu," ungkapnya.

Danang menjelaskan, keputusan untuk belum menaikkan harga saat ini masih ditopang oleh ketersediaan bahan baku yang dibeli pada periode sebelumnya.

Kendati demikian, kondisi tersebut diperkirakan tidak akan bertahan lama. Memasuki triwulan kedua 2026, industri harus kembali melakukan impor bahan baku dengan harga yang lebih tinggi.

"Tapi triwulan kedua, which is bulan Mei sampai ke depan ini kan sudah harus impor lagi," pungkasnya. 

Load More