- Harga bahan baku plastik melonjak 70%, bebani biaya produksi kemasan UMKM secara signifikan.
- Wamendag Dyah Roro Esti imbau UMKM kreatif cari alternatif bahan pengganti plastik yang mahal.
- Pemerintah cari sumber pasokan nafta baru dari luar negeri demi stabilkan harga plastik nasional.
Suara.com - Lonjakan harga bahan baku plastik yang mencapai 70 persen kini menjadi momok menakutkan bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kenaikan ini langsung menghantam biaya produksi, mengingat plastik merupakan komponen vital untuk kemasan dan pembungkus produk.
Menanggapi keluhan tersebut, Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti meminta para pengusaha tidak terpaku pada satu jenis material. Ia mendorong pelaku usaha untuk lebih kreatif mencari alternatif bahan pembungkus lain guna menekan biaya.
"Tapi selebihnya, tentunya banyak sekali hal-hal alternatif lainnya yang bisa dipergunakan, dan semoga dalam hal ini kita juga bisa kreatif begitu," ujar Roro di Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Roro menjelaskan bahwa biang kerok di balik mahalnya harga plastik adalah lonjakan harga bahan baku utamanya, yakni nafta. Saat ini, permintaan global terhadap nafta sedang meningkat drastis, sehingga ketersediaannya menipis dan harganya melambung.
"Salah satu hal yang membuat plastik itu menjadi lebih mahal itu dikarenakan ada bahan yang terkandung di dalamnya, misalnya nafta, yang di mana lebih dibutuhkan," jelasnya.
Pemerintah tidak tinggal diam melihat margin keuntungan UMKM yang kian tergerus. Roro menegaskan pihaknya tengah mengupayakan sinergi lintas kementerian untuk menjaga stabilitas pasokan.
Selain itu, Kementerian Perdagangan juga sedang berburu sumber pasokan baru (sourcing) dari berbagai wilayah di dunia agar ketergantungan pada satu sumber bisa dihindari.
"Pak Menteri juga sudah memberikan statement, dari wilayah mana saja agar bahan baku nafta tersebut bisa terpenuhi sehingga harga plastik bisa semakin stabil. Mudah-mudahan itu bisa berdampak secara positif," pungkas Roro.
Baca Juga: PPN Naik, UMKM Diuji: Disuruh Kuat atau Dibiarkan Sekarat?
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
- 7 Rekomendasi Lipstik Terbaik untuk Kondangan, Tetap On Point Dibawa Makan dan Minum
- Cari Mobil Bekas untuk Wanita? Ini 3 City Car Irit dan Nyaman untuk Harian
Pilihan
-
Heboh! Gara-gara Putar Balik, Sopir Truk Ini Kena Tilang Polisi Rp 22 Juta
-
Bukan Hoaks! 9 Warga Papua Termasuk Balita Tewas Ditembak saat Operasi Militer TNI
-
Harga Pangan Hari Ini Naik, Cabai dan Minyak Goreng Meroket
-
Perang AS vs Iran: Trump Perpanjang Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
Terkini
-
Bedah Saham SIDO, Emiten Tanpa Hutang: Bakal Meroket atau Stagnan?
-
Cerita Purbaya Tolak Bantuan Utang IMF & World Bank 30 Miliar USD, Klaim APBN Kuat Berlapis-lapis
-
IHSG Masih Tengkurep di Level 7.544, Sentimen Global Jadi Beban
-
Purbaya Curhat Bobrok Birokrasi Kemenkeu: Tugas Tak Dikerjakan, Digeser Baru Nangis
-
Purbaya Ungkap Syarat Jika Mau Targetkan Indonesia Emas 2045
-
Transformasi Digital Hutama Karya: Command Center & Aplikasi Baru Percepat Penanganan Insiden Tol
-
Tiru Selat Hormuz, Purbaya Mau Kapal Lewat Selat Malaka Bayar ke RI
-
Tindakan Nyata di Hari Bumi, Pegadaian Luncurkan PURE Movement: Ajak Karyawan Daur Ulang Seragam
-
TelkomGroup Borong Tiga Penghargaan Apresiasi Konektivitas Digital 2026: Komitmen Akses Merata
-
Kokoh sebagai Mitra Strategis Pemerintah, Bank Mandiri Capai Laba Bersih Rp15,4 T di Kuartal I 2026