Bisnis / Inspiratif
Kamis, 23 April 2026 | 07:53 WIB
Ilustrasi Para Petani sawit perempuan yang tengah mengikuti pelatihan. [ist].
Baca 10 detik
  • Perempuan petani sawit di berbagai daerah kini bertransformasi menjadi pengelola kebun mandiri melalui peningkatan keterampilan berbasis pengetahuan agronomi.
  • PT Triputra Agro Persada Tbk melalui program PERKASA memberikan pelatihan teknis pemupukan, panen, dan perawatan tanaman bagi para petani.
  • Penerapan ilmu hasil pelatihan secara konsisten terbukti meningkatkan produktivitas kebun serta kepercayaan diri perempuan dalam mengelola pertanian sawit.

Suara.com - Profesi petani sawit kekinian bukan untuk lelaki saja. Kini perempuan juga berminat untuk menanam bahan baku minyak goreng itu.

Namun dulu, karena kurangnya terampilan perempuan hanya asal-asalan dengan memanfaatkan kebiasaan turun-temurun, menanam kelapa sawit, sehingga hasilnya tidak maksimal.

Namun, kini mereka mulai bertransformasi menjadi pengelola kebun yang lebih mandiri, terampil, dan berbasis pengetahuan.

Di berbagai wilayah sentra sawit rakyat, perempuan semakin aktif terlibat dalam pengelolaan kebun. Mereka tidak hanya membantu, tetapi juga mengambil peran penting mulai dari memilih bibit, menentukan waktu pemupukan, hingga memastikan proses panen dilakukan dengan benar.

Ilustrasi kebun kelapa sawit tampak dari atas (Unsplash/James Lo)

Transformasi ini muncul seiring meningkatnya kesadaran bahwa keberhasilan kebun tidak hanya ditentukan oleh tenaga, tetapi juga oleh pemahaman agronomi yang tepat.

Namun, perjalanan menuju perubahan tersebut tidak mudah. Banyak petani perempuan sebelumnya menghadapi keterbatasan akses informasi serta minimnya pendampingan teknis.

Hal ini yang dialami Ida Farida, petani sawit asal Desa Mendik, Paser, Kalimantan Timur. Ia mengaku sebelumnya memanen tandan buah segar (TBS) tanpa memahami tingkat kematangan yang ideal, sehingga hasil yang didapat tidak maksimal.

"Saya benar-benar baru mengetahui kalau sawit yang masih kecil itu tidak boleh dipotong dulu. Sebelumnya saya belum tahu, jadi asal panen saja. Sekarang jadi tahu ilmunya, jadi lebih paham mana yang sudah layak dipanen dan mana yang belum, supaya hasilnya juga bisa lebih bagus," ujarnya seperti dikutip, Kamis (23/4/2026).

Perubahan cara pandang tersebut mulai terjadi setelah Ida mengikuti pelatihan PERKASA (Petani Berkualitas dan Sejahtera) yang digagas oleh PT Triputra Agro Persada Tbk melalui unit usahanya.

Baca Juga: WFH Diangap Tak Ganggu Produktivitas, Begini Penjelasan Pengamat

Melalui pelatihan berbasis praktik di lapangan, Ida tidak hanya memahami kriteria panen, tetapi juga aspek perawatan kebun yang sebelumnya kerap terabaikan.

"Saya juga baru tahu kalau pohon sawit yang sudah mati tidak boleh dibiarkan. Dulu saya biarkan saja karena tidak tahu. Setelah dijelaskan, ternyata itu bisa jadi sumber penyakit dan menular ke tanaman lain, jadi sekarang langsung ditebang," ungkapnya.

Program PERKASA sendiri dirancang dengan komposisi 40 persen teori dan 60 persen praktik lapangan selama tiga hari. Pendekatan ini membuat para petani dapat langsung menerapkan ilmu yang didapat secara presisi di kebun mereka.

Syarifah, peserta pelatihan sekaligus Sekretaris Desa Sembuluh Dua, juga merasakan dampak serupa. Ia menyebut selama ini banyak petani, termasuk perempuan, mengelola kebun seadanya karena keterbatasan pengetahuan.

"Masyarakat sebelumnya tidak mengetahui bagaimana cara pemupukan, panen, dan perawatan tanaman yang benar sehingga hasil yang didapat tidak maksimal. Setelah ikut pelatihan PERKASA kami jadi tahu waktu yang tepat, cara yang benar, dan alasan di balik setiap tindakan di kebun. PERKASA telah membuka wawasan kami dan membuat kami lebih yakin dalam mengelola kebun sendiri," ungkapnya.

Tak berhenti pada pelatihan, perusahaan juga melakukan monitoring secara berkala untuk memastikan ilmu yang diberikan benar-benar diterapkan. Pendampingan berkelanjutan ini menjadi kunci agar perubahan tidak hanya sesaat, melainkan menjadi standar baru dalam bertani.

Load More