- Investasi hilirisasi Triwulan I-2026 capai Rp147,5 T, naik 8,2%.
- Investor asing dominasi 66,7% proyek hilirisasi, nikel jadi primadona.
- Pemerataan sukses, 75,5% modal hilirisasi mengalir deras ke luar Jawa.
Suara.com - Kebijakan hilirisasi yang menjadi warisan fundamental era Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), terbukti masih memiliki daya pikat luar biasa di mata dunia. Memasuki awal tahun 2026, arus modal asing justru semakin deras mengalir ke sektor-sektor bernilai tambah, membuktikan bahwa strategi transformasi ekonomi Indonesia bukan sekadar tren sesaat.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, membeberkan data yang mencengangkan. Sepanjang Triwulan I-2026, realisasi investasi di sektor hilirisasi sukses menembus angka Rp147,5 triliun. Angka ini menyumbang hampir 30 persen dari total investasi nasional yang masuk.
"Realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp147,5 triliun atau 29,6 persen dari total realisasi investasi Triwulan I 2026. Ini tumbuh 8,2 persen secara year-on-year," ujar Rosan dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Yang menarik, geliat ekonomi ini dipacu kuat oleh investor asing. Dari total investasi hilirisasi tersebut, kontribusi Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp98,4 triliun atau setara 66,7 persen. Sementara, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mengantongi porsi 33,3 persen atau Rp49,1 triliun.
Secara sektoral, mineral masih menjadi primadona utama. Nikel, yang selama ini menjadi tulang punggung narasi hilirisasi Jokowi, kembali menunjukkan tajinya dengan sumbangan Rp41,5 triliun. Di belakangnya, mengekor komoditas tembaga senilai Rp20,7 triliun dan besi baja sebesar Rp17,0 triliun.
Tak hanya mineral, sektor perkebunan dan kehutanan yang didominasi kelapa sawit juga mulai menunjukkan "taringnya" dengan kontribusi Rp29,8 triliun.
Ambisi pemerintah untuk melakukan pemerataan ekonomi melalui hilirisasi perlahan membuahkan hasil. Tercatat, 75,5 persen atau senilai Rp111,4 triliun investasi mengalir ke luar Pulau Jawa. Sulawesi Tengah menjadi bintang utama dengan raihan Rp24,1 triliun, disusul Maluku Utara dan Nusa Tenggara Barat.
Siapa saja pemain besarnya? Rosan menyebut trio "Macan Asia" masih mendominasi. "Singapura, Hong Kong, dan Tiongkok tetap menjadi negara asal FDI (Foreign Direct Investment) terbesar di sektor hilirisasi," jelasnya.
Secara kumulatif, realisasi investasi nasional pada periode ini telah mencapai Rp498,8 triliun. Angka ini setara dengan 24,4 persen dari target ambisius tahun 2026 yang dipatok di angka Rp2.041,3 triliun.
Baca Juga: Blak-blakan Airlangga: 40 Persen Investasi di RI Belum Untung
Dengan performa yang tetap "panas" di awal tahun ini, masa depan hilirisasi Indonesia tampaknya masih akan terus menjadi primadona bagi para pemodal global yang berburu nilai tambah di tanah air.
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
- 4 HP realme dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- HP Rp1,5 Jutaan yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik David GadgetIn
- Berapa Harga Sepatu Lari Ortuseight Ori? Ini 5 Pilihan Bagus untuk Daily Run
Pilihan
Terkini
-
Dorong Kenyamanan Wisata Bali, BTN Ekspansif Dorong Bale Untuk Permudah Transaksi
-
RUPS PT Telkom Setujui Dividen Rp21,9 Triliun dan Buyback Saham Rp4 Triliun
-
Hak Ekspor CPO Milik Eksportir Masih Berlaku, Tak Direbut PT DSI
-
OJK dan CFX Dorong Inovasi dan Regulasi Adaptif di Industri Aset Kripto
-
CFX Gandeng Sejumlah Perguruan Tinggi Perkuat Literasi Aset Kripto dan Blockchain Nasional
-
IDRX: Stablecoin Rupiah Penting untuk Menjaga Kedaulatan Digital Indonesia
-
Regulasi Kripto Sudah di Level UU, DPR Sebut Indonesia Selangkah Lebih Maju
-
OJK Siapkan Tiga Kebijakan Strategis, Dorong Tokenisasi Aset dan Stablecoin Nasional
-
Masuk Tahun Ketiga, CFX Fokus Perkuat Pilar Kepercayaan Industri Kripto Nasional
-
Sepakat Bayar Denda Rp 97,49 M, Purbaya Buka Lagi Gerai Tiffany & Co Usai Disegel Bea Cukai