Suara.com - Kepemilikan Selat Malaka kembali menjadi sorotan setelah muncul pernyataan dari Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yang menyinggung potensi penerapan tarif bagi kapal internasional.
Ide tersebut langsung memicu diskusi luas bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga di kawasan Asia Tenggara yang selama ini bergantung pada jalur pelayaran tersebut. Dampaknya, Malaysia dan Singapura protes keras atas pernyataan Menkeu Purbaya tersebut.
Banyak publik kemudian bertanya-tanya, sebenarnya Selat Malaka itu milik siapa? Apakah Indonesia bisa secara sepihak menarik biaya dari kapal yang melintas, atau ada aturan internasional yang mengaturnya?
Pertanyaan ini menjadi penting mengingat posisi selat tersebut sebagai salah satu jalur perdagangan paling vital di dunia. Lantas bagaimana penjelasan lengkapnya?
Selat Malaka Punya Siapa?
Secara sederhana, Selat Malaka tidak dimiliki oleh satu negara saja. Selat ini berada di antara tiga negara pesisir utama, yaitu Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Ketiganya memiliki wilayah kedaulatan masing-masing di sepanjang perairan tersebut.
Namun, meskipun berbatasan langsung dengan tiga negara, status Selat Malaka adalah jalur pelayaran internasional. Artinya kapal dari berbagai negara memiliki hak untuk melintas tanpa hambatan sesuai dengan aturan hukum laut global.
Pengaturan ini merujuk pada United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS), yang menjamin prinsip “hak lintas transit” bagi kapal-kapal internasional. Dalam prinsip ini, jalur seperti Selat Malaka harus tetap terbuka dan tidak boleh dibatasi secara sepihak oleh negara tertentu.
Selain ketiga negara tersebut, Thailand juga memiliki peran dan wilayah teritorial di bagian utara Selat Malaka. Thailand berbatasan dengan perairan itu tetapi fokus utama pengelolaan keamanan dan navigasi berada di tangan tiga negara littoral.
Bahkan Thailand berencana membangun Kanal Kra (terusan darat) untuk memotong rute tanpa harus melalui Selat Malaka, yang berpotensi memangkas jarak 1.200 kilometer.
Baca Juga: Isi Lengkap Candaan Menkeu Purbaya soal Selat Malaka yang Bikin Malaysia dan Singapura Berang
Peran Tiga Negara Pesisir
Meski bukan “milik” satu negara, ketiga negara pesisir tetap memiliki peran besar dalam pengelolaan selat ini.
- Indonesia memiliki garis pantai terpanjang di sisi barat selat, terutama sepanjang Pulau Sumatera. Posisi ini membuat Indonesia memegang peran penting dalam aspek keamanan dan pengawasan maritim.
- Malaysia menguasai sisi Semenanjung Malaya dan aktif dalam kerja sama regional terkait keselamatan pelayaran.
- Singapura, meskipun wilayahnya kecil, justru menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan secara ekonomi karena posisinya sebagai hub perdagangan global.
Ketiga negara ini bekerja sama dalam berbagai mekanisme, termasuk patroli keamanan dan pengaturan lalu lintas kapal, guna menjaga stabilitas di salah satu jalur tersibuk dunia tersebut.
Kenapa Selat Malaka Sangat Strategis?
Selat Malaka bukan jalur biasa. Setiap hari, ratusan kapal melintasi perairan ini. Dalam setahun, jumlahnya bisa mencapai lebih dari 90.000 kapal, membawa sekitar seperempat total perdagangan dunia.
Berita Terkait
-
Thailand Siapkan Mega Proyek Rp4000 Triliun, Bikin Jembatan Darat Saingi Selat Malaka
-
7 Bulan Menjabat, Harta Kekayaan Menkeu Purbaya Naik Rp18,2 M dan Tak Memiliki Utang
-
Isi Lengkap Candaan Menkeu Purbaya soal Selat Malaka yang Bikin Malaysia dan Singapura Berang
-
Siapa Penguasa Selat Malaka? Malaysia-Singapura Tolak Ide Purbaya Pajaki Kapal
-
Usai Copot Febrio dan Luky, Purbaya Tunjuk Dua Nama Ini Sebagai Penggantinya
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
- Tak Terima Dideportasi, WNA Cina di Sumsel Bongkar Dugaan Kejanggalan Proses Imigrasi
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- 5 Rekomendasi HP All Rounder 2026, Spek Canggih, Harga Mulai 2 Jutaan
Pilihan
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
Terkini
-
Alasan IHSG Ambruk 3% dan 701 Saham Merah Hari Ini
-
Menkeu Purbaya Bongkar Alasan Copot Febrio dan Luky: Ada 'Noise' Internal!
-
BTN Tak Bagikan Dividen, Laba Bersih Ditahan untuk Perkuat Modal
-
Babah Alun Rayakan Kemenangan Gugatan CMNP Terhadap Hary Tanoe dan MNC
-
Berkat Bantuan BI Rupiah Akhirnya Bangkit, Ditutup ke Level Rp 17.228
-
Pemerintah Tangguhkan Ekspor Minyak Mentah, Fokus Kebutuhan Dalam Negeri
-
BRI Consumer Expo 2026 Tawarkan Bunga KPR 1,75% dan Hiburan Meriah
-
Potret Horor Ketimpangan Ekonomi: Harta 50 Triliuner RI Bertambah Rp13,48 Miliar Setiap hari
-
Hari Bumi 2026, Telkom Pertegas Langkah Strategis Menuju Masa Depan Berkelanjutan
-
Kisah Nasabah PNM Mekaar, Ibu Anastasia: Membangun Salon Inklusif dan Gratis untuk ODGJ