Bisnis / Keuangan
Selasa, 28 April 2026 | 10:56 WIB
Pengunjung menunjukkan logam mulia Antam yang dibeli di Jakarta, Jumat (27/3/2026). [ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/wpa].
Baca 10 detik
  • Harga emas batangan PT Antam naik Rp5.000 menjadi Rp2.814.000 per gram pada perdagangan Selasa, 28 April 2026.
  • Kenaikan harga emas terjadi akibat ketidakpastian ekonomi global serta menanti hasil negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
  • Para investor tetap menjadikan emas sebagai aset lindung nilai strategis di tengah risiko utang dan ketidakpastian kebijakan moneter.

Suara.com - Harga emas batangan milik PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mencatatkan kenaikan pada perdagangan Selasa (28/4/2026).

Melansir laman resmi Logammulia.com, harga emas hari ini naik sebesar Rp5.000, dari sebelumnya Rp2.809.000 menjadi Rp2.814.000 per gram.

Sejalan dengan harga jual, harga beli kembali atau buyback oleh Antam juga mengalami peningkatan menjadi Rp2.625.000 per gram.

Kenaikan ini merespons pergerakan pasar global yang tengah menantikan kejelasan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Harga Emas Antam Berdasarkan Pecahan

Berikut adalah daftar harga emas Antam hari ini untuk berbagai ukuran gramasi:

0,5 gram: Rp1.457.000
1 gram: Rp2.814.000
5 gram: Rp13.845.000
10 gram: Rp27.635.000
25 gram: Rp68.962.000
50 gram: Rp137.845.000
100 gram: Rp275.612.000
250 gram: Rp688.765.000
500 gram: Rp1.377.320.000
1.000 gram (1 kg): Rp2.754.600.000

Di pasar internasional, harga emas spot naik tipis 0,2% ke level US$ 4.693,04 per ons, sementara kontrak berjangka emas AS menguat ke US$ 4.707,80 per ons.

Pelaku pasar terpantau sangat berhati-hati menunggu hasil pembahasan Presiden AS Donald Trump terkait proposal terbaru Iran guna mengakhiri konflik dua bulan terakhir.

Baca Juga: Purbaya Ungkap Syarat Jika Mau Targetkan Indonesia Emas 2045

Meskipun saat ini emas terjebak dalam tren sideways akibat kekhawatiran inflasi jangka pendek dan kebijakan suku bunga ketat, optimisme tetap membumbung tinggi.

Lorenzo Portelli, Head of Cross Asset Strategy di Amundi Investment Institute, memprediksi harga emas masih berpotensi menyentuh level US$ 5.000 hingga US$ 5.500 per ons dalam 12 bulan ke depan.

Portelli menilai guncangan energi akibat perang di Iran hanya berdampak sementara terhadap inflasi. Meskipun inflasi tahunan melonjak ke 3,3%, inflasi inti masih terjaga di level 2,6%, yang mengurangi urgensi bank sentral untuk bertindak lebih agresif (hawkish).

Selain itu, beberapa faktor berikut menjadi alasan kuat emas tetap menjadi aset strategis:

  • Permintaan Bank Sentral: Otoritas pasar negara berkembang terus melakukan diversifikasi cadangan devisa dengan menjauhi dolar AS.
  • Ketahanan Portofolio: Emas dianggap sebagai aset safe-haven paling efektif melawan risiko sistemik, kelemahan mata uang, dan ketidakpastian kebijakan.
  • Masalah Likuiditas: Meningkatnya tingkat utang kedaulatan mendorong investor untuk beralih ke aset keras (hard assets) seperti logam mulia.

Disclaimer: Investasi emas memiliki risiko fluktuasi harga. Seluruh data harga dan kebijakan pajak yang disajikan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti regulasi pemerintah dan kondisi pasar terkini.

Load More