Bisnis / Makro
Selasa, 28 April 2026 | 11:58 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. [Dok. Kemenko Perekonomian]
Baca 10 detik
  • Airlangga Hartarto menyebut peluang resesi Indonesia di tengah ketidakpastian global kurang dari 5% dan lebih rendah dibanding negara maju.
  • Fundamental ekonomi Indonesia dinilai kuat dengan pertumbuhan stabil, inflasi terkendali, konsumsi tinggi, serta neraca perdagangan surplus.
  • Lembaga internasional seperti International Monetary Fund dan Asian Development Bank juga menilai ekonomi Indonesia tetap tangguh dan prospektif.

Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kalau di tengah ketidakpastian global akibat perang Amerika Serikat vs Iran saat ini, peluang resesi Indonesia berada di bawah 5 persen.

Menko Perekonomian bahkan mengklaim kalau risiko resesi ekonomi RI bahkan masih aman ketimbang negara maju seperti AS, Kanada, dan Jepang.

“Probability resesi Indonesia di bawah 5 persen. Ini lebih rendah dari negara lain seperti Amerika Serikat, Jepang, atau Kanada,” katanya dalam Kick Off Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI) Tahun 2026 di Jakarta, Senin (27/4/2026). 

Airlangga menuturkan, fundamental ekonomi RI saat ini terjaga. Pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2025 tercatat mencapai 5,11 persen.

Sedangkan di tahun 2026, Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,4 persen. Bahkan di triwulan pertama (Q1) 2026, ia meyakini ekonomi RI bisa 5,5 persen.

Kemudian inflasi juga terkendali di angka 3,48 persen. Sementara Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) masih tinggi di level 122,9.

Airlangga melanjutkan, neraca perdagangan RI juga surplus dalam 70 bulan beruntun sebesar 148,2 miliar Dolar AS.

Bukti lain, ia menuturkan konsumsi dalam negeri masih kuat dengan kontribusi sebesar 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). 

Rasio utang luar negeri Indonesia juga masih aman di level 29,9 persen terhadap PDB. Selain itu, kepemilikan surat berharga negara (SBN) didominasi investor domestik hingga 87,4 persen, sementara porsi asing 12,6 persen.

Baca Juga: Resmi Diluncurkan, Program PINISI 2026 Jadi Senjata Bank Indonesia dan Pemerintah Genjot Ekonomi

Airlangga turut mengatakan sejumlah lembaga pemeringkat internasional masih memandang ekonomi Indonesia cukup kuat.

Contohnya Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) menilai Indonesia sebagai salah satu bright spot di Asia. Sedangkan Asian Development Bank (ADB) memperkirakan pertumbuhan PDB Indonesia pada 2026 mencapai 5,2 persen.

Airlangga lalu menyinggung laporan JP Morgan Asset Management yang menempatkan Indonesia di peringkat kedua sebagai negara paling resilien terhadap gejolak energi.

Lebih lanjut ia menjelaskan, ketergantungan sejumlah negara Asia terhadap pasokan energi dari Timur Tengah dan Selat Hormuz bisa mencapai sekitar 70%. Sementara Indonesia hanya sekitar 20% karena bauran energi listrik masih didominasi batu bara dan gas.

“Dunia masih melihat Indonesia sebagai salah satu ekonomi yang cukup kuat,” pungkasnya.

Load More