Bisnis / Makro
Jum'at, 01 Mei 2026 | 14:36 WIB
Ilustrasi harga minyak dunia meningkat. (Shutterstock)
Baca 10 detik
  • Harga minyak Brent tembus US$ 126/barel, rekor tertinggi 4 tahun akibat konflik AS-Iran.
  • Selat Hormuz ditutup, picu kelangkaan mi instan hingga alkes dan lonjakan inflasi di Asia.
  • Ekonom peringatkan risiko resesi global 2026 jika gangguan pasokan minyak terus berlanjut.

Suara.com - Eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran benar-benar membawa mimpi buruk bagi ekonomi global. Imbas penutupan Selat Hormuz yang masih berlanjut, harga si 'emas hitam' sempat meroket hingga melampaui angka US$ 126 per barel pada perdagangan Kamis (30/4) kemarin.

Mengutip laporan CNN, Jumat (1/5/2026), harga minyak mentah jenis Brent yang menjadi acuan global sempat menyentuh level tertinggi dalam empat tahun terakhir di angka US$ 126,41 per barel. Meski sempat melandai ke US$ 115,8 seiring menipisnya volume perdagangan, angka ini tetap menjadi sinyal bahaya bagi stabilitas ekonomi dunia.

Jika ditarik garis ke belakang, lonjakan ini tergolong ekstrem. Sebelum genderang perang bertalu, harga Brent hanya anteng di kisaran US$ 73 per barel. Artinya, sejak tensi AS-Iran memanas di awal tahun, harga minyak dunia sudah melonjak hampir dua kali lipat.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat turun tipis 0,7% ke level US$ 106 per barel. Namun, kondisi di lapangan tetap mencekam. Di Amerika Serikat, harga rata-rata bensin kini menembus US$ 4,30 atau setara Rp 19.687 per liter (asumsi kurs Rp 17.307 per dolar AS).

Kenaikan harga minyak ini tak sekadar memukul sektor transportasi. Produk turunan minyak bumi seperti plastik, karet sintetis, hingga tekstil ikut terkerek naik. Bahkan, krisis ini mulai merembet ke urusan perut dan kebutuhan medis.

Di pasar Asia, kelangkaan barang mulai terasa nyata. Stok sarung tangan medis, mi instan, hingga kosmetik dilaporkan menipis akibat tingginya biaya produksi dan gangguan rantai pasok. Kondisi ini diprediksi akan segera menjalar ke wilayah lain, mengingat Asia merupakan pusat produksi barang dunia sekaligus importir energi terbesar.

Para ekonom kini mulai menyalakan alarm peringatan. Jika gangguan pasokan di Selat Hormuz berlanjut hingga paruh kedua 2026, resesi global bukan lagi sekadar prediksi, melainkan keniscayaan. Inflasi yang gila-gilaan dan penurunan daya beli konsumen menjadi ancaman nyata di depan mata.

"Harga minyak tidak punya pilihan selain naik sampai pembukaan kembali selat secara permanen terwujud. Saat ini, bagaimana dan kapan itu akan terjadi masih menjadi tebak-tebakan siapa pun," ujar Vandana Hari, pendiri Vanda Insights.

Dunia kini hanya bisa menunggu dan berharap ketegangan di Teluk segera mereda sebelum ekonomi global benar-benar tumbang.

Baca Juga: Donald Trump Ancam Iran Pakai Gambar AI Berpistol: No More Mr Nice Guy!

Load More