- Pemerintah Indonesia tetap menjalankan kontrak impor minyak mentah jangka panjang dengan mitra negara saat ini.
- Menteri ESDM menegaskan bahwa stabilitas pasokan energi domestik menjadi prioritas utama meski ketegangan geopolitik mulai mereda.
- Indonesia berpotensi kembali mengimpor minyak dari Timur Tengah jika harga pasar dinilai lebih kompetitif dan rasional.
Suara.com - Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk tetap konsisten menjalankan kontrak jangka panjang terkait impor minyak mentah (crude oil) dari sejumlah negara mitra.
Kebijakan ini akan terus berjalan sesuai kesepakatan awal, tanpa terpengaruh oleh draf rencana pembukaan kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz pasca-meredanya ketegangan geopolitik global.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa stabilitas pasokan energi dalam negeri merupakan prioritas utama.
Dengan demikian, jaminan pasokan yang telah diamankan lewat perjanjian kerja sama sebelumnya tidak akan serta-merta diubah secara mendadak.
"Kalau persilat impor crude (minyak mentah), sekalipun Selat Hormuz-nya sudah dibuka, tetap kita sudah melakukan kontrak jangka panjang dengan negara-negara lain," tegas Bahlil saat memberikan keterangan kepada awak media di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (15/6).
Sebagaimana diketahui, meletusnya konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran beberapa waktu lalu sempat melumpuhkan aktivitas maritim dengan ditutupnya Selat Hormuz.
Mengingat kawasan tersebut merupakan urat nadi logistik minyak dunia, blokade tersebut memaksa Indonesia melakukan langkah draf mitigasi cepat dengan mengalihkan sumber pasokan minyak dari Timur Tengah ke beberapa negara alternatif seperti Rusia, Angola, Amerika Serikat, hingga Australia.
Meskipun saat ini Indonesia telah mengamankan rantai pasok baru, Bahlil tidak menampik adanya kemungkinan bagi Indonesia untuk kembali mendatangkan komoditas minyak mentah dari kawasan Timur Tengah di masa mendatang.
Pengaktifan kembali jalur perdagangan tersebut sangat bergantung pada kalkulasi nilai keekonomian yang rasional.
Baca Juga: AS dan Iran Sepakati Gencatan Senjata, Donald Trump: Biarkan Minyak Mengalir!
"Tapi kalau harganya lebih kompetitif, maka tidak menutup kemungkinan juga untuk kita mencoba untuk membuka akses pasar di Middle East (Timur Tengah)," urai Mantan Kepala BKPM tersebut.
Sinyal berakhirnya ketegangan militer antara Washington dan Teheran mengemuka menyusul adanya pernyataan resmi dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump beserta Wakil Menteri Luar Negeri Iran.
Kedua belah pihak mengonfirmasi telah tercapainya draf kesepakatan awal demi menyudahi perselisihan, yang dibarengi dengan rencana normalisasi akses pelayaran di Selat Hormuz.
Perdana Menteri Pakistan, yang bertindak sebagai mediator utama dalam konflik ini, mengumumkan bahwa draf penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan bakal melangsungkan prosesi resmi di Swiss pada hari Jumat mendatang.
Dalam keterangannya, Presiden Trump memastikan bahwa Selat Hormuz nantinya dapat diakses kembali secara bebas tanpa dikenakan biaya retribusi tambahan. Kebijakan ini berjalan simultan dengan draf instruksi penarikan mundur blokade angkatan laut AS yang sebelumnya mengisolasi sejumlah pelabuhan dagang milik Iran.
Di sisi lain, sebagaimana dilansir oleh kantor berita resmi Iran, Mehr, draf kesepakatan bilateral tersebut mengamanatkan bahwa proses pemulihan operasional penuh di Selat Hormuz ditargetkan rampung dalam kurun waktu 30 hari ke depan, di mana kendali pengawasan navigasi tetap berada di bawah otoritas kedaulatan pemerintah Iran.
Berita Terkait
-
Bahlil Ungkap Kontrak Batu Bara PLN Kurang 20 Juta Ton, Listrik Bisa Terganggu?
-
Asumsi ICP 2027 Dinaikkan Mas Bahlil, Paling Tinggi 95 Dolar AS/Barel
-
Program Kompor Listrik Masih Digeber Mas Bahlil di 2027, Anggarannya Rp 815 M
-
Rupiah Menguat dan IHSG Terbang, Apakah Damai AS-Iran Jadi Titik Balik Ekonomi RI?
-
Apakah Harga Minyak Dunia Kembali Normal Setelah AS - Iran Damai?
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
- Motor Mirip Harley-Davidson Harga Rasa Matic: Mending Morbidelli C252V atau QJ Motor SRV250?
Pilihan
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari TKD Satu Kabupaten di NTB
Terkini
-
Bahlil Ungkap Kontrak Batu Bara PLN Kurang 20 Juta Ton, Listrik Bisa Terganggu?
-
Dukung Program 3 Juta Rumah, BRI Salurkan Pembiayaan Rp340 Miliar untuk 867 Debitur
-
Biaya Kuliah Meroket, Mahasiswa Minta Dana Pendidikan Tak Dipakai untuk MBG
-
BRI Hadirkan Cara Baru Menabung Emas Otomatis Saat Transfer di BRImo
-
Asumsi ICP 2027 Dinaikkan Mas Bahlil, Paling Tinggi 95 Dolar AS/Barel
-
Indonesia Bidik Turis Tajir, Seaplane Resmi Beroperasi dari Banyuwangi
-
Program Kompor Listrik Masih Digeber Mas Bahlil di 2027, Anggarannya Rp 815 M
-
Tembus Rp1,4 Triiun, Gaji ke-13 untuk TNI-Polri Telah Cair
-
Obral Pamer Danantara, Global Bond Laris Manis
-
CEO Danantara Sebut Pelemahan IHSG 'Berkah' bagi Investor