Bisnis / Keuangan
Selasa, 05 Mei 2026 | 21:01 WIB
Pemerintah dan Bank Indonesia memperkuat kerja sama pertukaran mata uang (currency swap) dengan China, Jepang, serta Korea demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. [Antara]
Baca 10 detik
  • Pemerintah dan Bank Indonesia memperkuat kerja sama pertukaran mata uang (currency swap) dengan China, Jepang, serta Korea demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
  • Pemerintah menerbitkan surat berharga dalam berbagai mata uang asing guna menekan ketergantungan serta permintaan terhadap dolar Amerika Serikat.
  • Strategi ini dilakukan di Jakarta pada Mei 2026 sebagai mitigasi dampak ketegangan geopolitik serta faktor musiman terhadap ekonomi.

Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan penguatan kerja sama pertukaran mata uang antarnegara atau currency swap serta diversifikasi instrumen pembiayaan negara akan menjadi bagian strategi pemerintah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan dinamika global.

“Kita sudah mempersiapkan dengan Bank Indonesia terkait swap currency dengan China, Jepang, Korea, dan negara lain,” kata Airlangga di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Ia menjelaskan pemerintah juga menyiapkan strategi pembiayaan melalui penerbitan surat berharga dalam berbagai mata uang. Menurutnya, langkah tersebut bertujuan memperkuat likuiditas dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Ke depan kita juga akan terus mempersiapkan komposisi terkait dengan tingkat hutang yang kita bisa, surat berharga yang kita bisa terbitkan yang sifatnya seperti dari China, ataupun dari Yen (Jepang) itu untuk menjaga tekanan terhadap dolar AS,” ujarnya.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah pada Selasa pagi tercatat melemah 11 poin atau 0,07 persen menjadi Rp17.405 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.394 per dolar AS.

Ia menilai pelemahan tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dialami sejumlah negara lain.

“Berbagai negara memang mengalami pelemahan terhadap dolar AS,” ungkap dia.

Airlangga menjelaskan peningkatan permintaan dolar turut dipengaruhi faktor musiman seperti kebutuhan ibadah haji dan pembayaran dividen pada kuartal kedua 2026.

Selain itu, tekanan eksternal juga dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong penguatan dolar AS serta meningkatkan permintaan aset aman (safe haven) di pasar global.

Baca Juga: Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah RI Berdiri, BI Tunjuk Biang Keroknya

"Biasanya juga pada saat ibadah Haji, dan juga biasanya di kuartal kedua itu juga ada pembayaran dividen, jadi demand terhadap Dolar AS tinggi," tuturnya.

Airlangga menegaskan kebijakan yang diambil pemerintah bersifat dinamis dan disesuaikan dengan perkembangan kondisi global.

Ia mengatakan pemerintah juga akan terus melakukan mitigasi terhadap potensi risiko eksternal.

Lebih lanjut, ia berharap koordinasi kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia dapat terus memperkuat stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika global ke depan.

Load More