Bisnis / Ekopol
Jum'at, 08 Mei 2026 | 07:39 WIB
Kapal perusak kelas Arleigh Burke (DDG 51) milik AL Amerika Serikat [Naval Technology]
Baca 10 detik
  • Militer Iran menyerang armada AS di Teluk Oman pada 7 Mei 2026 sebagai balasan atas pelumpuhan kapal tanker mereka.
  • Serangan udara AS menargetkan infrastruktur militer Iran di Qeshm dan Bandar Abbas, memicu kekhawatiran berakhirnya gencatan senjata bilateral.
  • Gangguan di Selat Hormuz menyebabkan harga minyak dunia melonjak dan mengancam stabilitas ekonomi global serta inflasi di berbagai negara.

Minyak Brent: Kembali menembus angka psikologis US$102,7 per barel.

Kenaikan ini menghapus stigma positif pasar yang sebelumnya berharap harga minyak tetap stabil di bawah US$100. Disrupsi ini diprediksi akan memicu tekanan inflasi di berbagai negara, termasuk memberikan beban tambahan bagi stabilitas ekonomi Indonesia.

Meski demikian, media Rusia, Sputnik menyebut, Selat Hormuz dan kota-kota pesisir Iran telah kembali normal setelah terjadi baku tembak antara Iran dan Amerika Serikat, menurut laporan Press TV pada Jumat.

Sebelumnya pada Kamis malam, Ebrahim Zolfaghari, juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, mengatakan bahwa AS melanggar gencatan senjata dengan menyerang beberapa wilayah Iran, termasuk pantai pelabuhan Khamir, kota Sirik dan Pulau Qeshm, serta dua kapal Iran.

Angkatan bersenjata Iran segera membalas, menyerang kapal perang Amerika di sebelah timur Selat Hormuz dan selatan pelabuhan Chabahar, menyebabkan kerusakan yang signifikan, tambahnya.

Sebagai tanggapan, Komando Pusat AS mengatakan bahwa militer AS "menghilangkan ancaman yang masuk dan menargetkan fasilitas militer Iran tempat serangan dilakukan terhadap pasukan AS."

Load More