- BPI Danantara yakin pasar modal Indonesia tetap stabil saat pengumuman rebalancing MSCI pada 12 Mei 2026.
- Pandu Sjahrir menyatakan pasar modal Indonesia tidak akan turun kasta dari emerging market menjadi frontier market.
- Rebalancing MSCI berpotensi menciptakan volatilitas jangka pendek akibat pergeseran bobot saham pada perusahaan berkapitalisasi besar.
Suara.com - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) merasa yakin pasar modal Indonesia akan baik-baik saja dalam pengumuman rebalancing MSCI pada Selasa, 12 Mei 2026 besok.
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, melihat pasar modal Indonesia mulai menunjukkan perbaikan setelah reformasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
"Saya udah lihat perkembangannya bursa bagus kok dari sisi penerapan yang sedang dilakukan. Insyaallah besok, baik lah," ujarnya di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Senin (11/5/2026).
Bahkan, Pandu merasa percaya diri, pasar modal Indonesia tidak turun kasta dari emerging market menjadi frontier maket dalam rebalancing MSCI tersebut.
Dengan turun kasta, pasar modal Indonesia menjadi tidak menarik dan kurang likuid untuk berinvestasi saham.
"Hari ini kan lihat kan ada perubahan juga. Saya rasa bukan menyangkut soal MSCI kok hari ini, lebih banyak soal rupiah dan segala macam," ucapnya.
Sebelumnya, PT Indo Premier Sekuritas (Ipot) mengungkapkan perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini akan diwarnai pengumumuman rebalancing MSCI Index. Rencananya, rebalancing MSCI Index tersebut akan diumumkan pada 12 Mei 2026 besok.
Adapun, pada pekan ini perdagangan IHSG hanya berlangsung selama 3 hari, setelah ada libur nasional dan cuti bersama Kenaikan Yesus Kristus (14-15 Mei 2026).
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Hari Rachmansyah, mengatakan rebalancing MSCI berpotensi memicu rotasi portofolio yang dapat menciptakan volatilitas jangka pendek pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Baca Juga: IHSG Semakin Tenggelam di Sesi I ke Level 6.800, 462 Saham Anjlok
"Rebalancing MSCI Indonesia yang dijadwalkan pada 12 Mei 2026 kemungkinan tidak menghadirkan pendatang baru, namun tetap berpotensi memicu pergeseran bobot saham yang dapat mempengaruhi arah pergerakan pasar secara keseluruhan," ujarnya dalam riset hariannya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Pengakuan Lengkap Santriwati Korban Pencabulan Kiai Ashari di Lingkungan Pesantren Pati
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 7 Sepatu Lari Lokal untuk Jalan Jauh dan Daily Run Mulai Rp100 Ribuan, Tak Kalah dari Hoka
- 5 HP Terbaru 2026 untuk Budget di Bawah Rp3 Juta, Ada yang Support 5G dan NFC
Pilihan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
Terkini
-
Pegadaian dan SMBC Indonesia Kembangkan Sustainable Financing Framework 2026 Berbasis ESG
-
Menkeu Purbaya Batal Aktifkan BSF: Kita Enggak Krisis
-
Sah! Menteri Bahlil Tunda Kenaikan Royalti Tambang Demi Jaga Iklim Investasi
-
Kenaikan Ongkos Kirim di Marketplace Tak Bisa Dibendung
-
Rupiah Masih Melemah, Bank Mulai Jual Dolar AS di kisaran Rp17.700
-
Viral Video Menkeu Bagi-bagi Dana Hibah di Tiktok, BRI Klarifikasi: HOAKS!
-
PT Pertamina Training and Consulting Gelar RUPS Tahun Buku 2025, Bertransformasi di Tengah Fluktuasi
-
Purbaya Hapus Kebijakan Tax Amnesty Sri Mulyani, Bahaya untuk Pegawai Pajak
-
Cara Membuat QRIS All Payment untuk UMKM: Syarat, Biaya, dan Keuntungannya
-
Mengapa Strategi Purbaya Kuatkan Rupiah Justru Berbahaya?