Bisnis / Makro
Minggu, 17 Mei 2026 | 09:41 WIB
Nilai tukar rupiah menguat 0,30 persen ke level Rp17.475 terhadap dolar AS pada penutupan Rabu sore, 13 Mei 2026. [Antara]
Baca 10 detik
  • Pergerakan Rupiah mencatat sejarah pasang surut ekonomi sejak awal kemerdekaan.

  • Krisis moneter 1998 menjadi titik terendah dalam sejarah pergerakan Rupiah.

  • Tantangan global membayangi pergerakan Rupiah di era pemerintahan Prabowo Subianto.

Kondisi ini membuat ekonomi kacau balau dan memaksa raksasa bisnis seperti Indofood melepas Bank BCA demi bertahan hidup.

Nilai tukar rupiah menguat 0,30 persen ke level Rp17.475 terhadap dolar AS pada penutupan Rabu sore, 13 Mei 2026. [Antara]

Era Reformasi

Presiden B.J. Habibie mencatat prestasi gemilang dengan membawa Rupiah menguat signifikan dari belasan ribu kembali ke level Rp6.500 per USD pada pertengahan 1999.

Pada era-era selanjutnya, Rupiah relatif bergerak dinamis.

Gus Dur & Megawati: Stabil di kisaran Rp7.500 hingga Rp9.000.

SBY: Meski dihantam krisis finansial global 2008, Indonesia mampu bertahan di kisaran Rp9.000 - Rp10.000 per USD, sebuah capaian yang membanggakan di tengah rontoknya ekonomi AS saat itu.

Era Jokowi

Di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, Rupiah mulai menembus batas psikologis Rp15.000 pada tahun 2015.

Pandemi COVID-19 juga turut memberi tekanan besar, di mana pada Agustus 2020, nilai tukar berada di kisaran Rp14.700.

Baca Juga: Prabowo Sebut Warga Desa Gak Pakai Dolar: Benarkah Aman dari Dampak Rupiah Melemah?

Sampai akhir masa jabatannya, Rupiah terus bergerak fluktuatif di rentang Rp14.000 hingga Rp16.000 akibat sentimen ekonomi global.

Era Prabowo Subianto

Kini di era kepemimpinan Prabowo Subianto, tantangan nilai tukar Rupiah diprediksi tidak akan mudah.

Berdasarkan data historis dan proyeksi terkini, posisi Rupiah berada di tengah badai ketidakpastian pasar keuangan internasional.

Pada awal masa transisi dan kepemimpinannya (2025-2026), Rupiah diprediksi menghadapi tekanan hebat yang mendorong kurs ke kisaran Rp16.000 hingga Rp17.500 per USD.

Gejolak pasar global dan kebijakan suku bunga di Amerika Serikat menjadi faktor utama.

Load More