- Presiden Donald Trump dan Xi Jinping bertemu di Beijing pada Mei 2026 untuk membahas hubungan bilateral kedua negara.
- Pertemuan tersebut hanya menghasilkan kesepakatan moderat dan gagal mencapai terobosan signifikan dalam isu ekonomi maupun geopolitik global.
- Gencatan senjata dagang ini memberikan stabilitas bagi China di tengah upaya Beijing memperkuat ekonomi dan teknologi domestik mereka.
Suara.com - Kunjungan resmi Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Beijing pekan ini dinilai hanya menghasilkan kesepakatan yang moderat menurut standar pertemuan puncak (KTT) dua kekuatan ekonomi terbesar dunia.
Kendati demikian, pertemuan ini membawa keuntungan tersendiri bagi China. Setelah tensi tinggi perang dagang yang ekstrem pada tahun lalu, kedua negara kini tampak kembali ke pola lama mereka: kebuntuan ekonomi dan strategi yang sudah akrab terjalin (standoff).
Dialog selama dua hari antara Donald Trump dan Pemimpin China Xi Jinping menegaskan bahwa meskipun AS sempat menerapkan tarif "Hari Pembebasan" (Liberation Day) yang diikuti dengan gencatan senjata dagang pada akhir tahun lalu, Washington dan Beijing tetap terjebak dalam kompetisi warisan yang sama saat Trump memulai masa jabatan keduanya.
Bagi Xi Jinping, stabilitas rapuh ini memberikan ruang bernapas dan mengembalikan bentuk tantangan ke ranah yang lebih dapat diprediksi. Xi menggambarkan perubahan atmosfer ini dengan memperkenalkan kerangka kerja hubungan baru yang ia sebut sebagai "stabilitas strategis yang konstruktif."
Gencatan Senjata Perang Dagang yang Menguntungkan Beijing
Pakar China dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington, Scott Kennedy, menilai China berada dalam posisi yang lebih diuntungkan mengingat mundurnya pendekatan agresif yang sempat diterapkan pemerintahan Trump pada awal tahun 2025.
"Jika dibandingkan dengan posisi kita setahun lalu, di mana tarif bea masuk menyentuh 145% dan AS benar-benar mendesak China serta dunia untuk berubah secara fundamental, saat ini telah terjadi revolusi balik dan kita kembali ke titik stabilitas," ujar Kennedy, dikutip dari Reuters pada Minggu (17/5/2026).
Meskipun Trump memboyong sejumlah pemimpin korporasi papan atas AS dalam KTT Kamis-Jumat tersebut—termasuk CEO Tesla Elon Musk dan CEO Nvidia Jensen Huang—sebagian besar dari mereka pulang tanpa membawa kesepakatan besar, di luar jamuan makan malam yang mewah.
Pertemuan tingkat tinggi ini juga gagal mengamankan komitmen terbuka dari pihak China untuk membantu AS meredakan konflik perang di Iran, sebuah isu geopolitik panas yang belakangan ini mengacaukan pasar global dan menggerus tingkat kepuasan publik (approval rating) terhadap pemerintahan Trump.
Baca Juga: Jerit Pemilik Hotel Jelang Piala Dunia 2026: Sepi Pengunjung Gegara Kebijakan Trump
"KTT ini memproyeksikan stabilitas, tetapi membiarkan jalan buntu tetap utuh," kata Craig Singleton, pakar China di Foundation for Defense of Democracies. "Pertemuan ini hanya menghasilkan output yang moderat, mudah dipasarkan, dan dapat dikelola, yang mana memang hanya sejauh itu kapasitas yang bisa ditampung oleh hubungan AS-China saat ini."
Menanggapi penilaian tersebut, seorang pejabat Gedung Putih menyatakan pembelaannya. "Presiden Trump memanfaatkan hubungan positifnya dengan Presiden Xi guna membawa pulang hasil nyata bagi rakyat Amerika," ungkapnya, sembari mencontohkan rencana pembelian pesawat Boeing serta komitmen perjanjian agrikultur untuk memperluas ekspor AS.
Sementara itu, juru bicara Kedutaan Besar China di Washington menyebut pertemuan antara Xi dan Trump berlangsung secara "jujur, mendalam, konstruktif, dan strategis," serta menjadi ruang untuk "mengeksplorasi cara yang tepat bagi dua negara besar untuk saling berdampingan."
Sejumlah analis menilai bahwa dalam perang dagang tahun lalu, Trump tampak terlalu melebih-lebihkan kekuatan tarif untuk memaksa China melakukan konsesi sepihak. Beijing membalasnya dengan menaikkan tarif internal mereka sendiri dan mengancam akan menghentikan pasokan mineral kritis yang sangat dibutuhkan oleh industri manufaktur AS, sebuah langkah yang memaksa kedua negara berada dalam posisi seimbang yang tidak nyaman.
Sejak saat itu, Gedung Putih menunjukkan keengganan untuk menanggung risiko ekonomi yang lebih besar jika mereka menggunakan instrumen pengaruh finansial dan teknologi AS lainnya, seperti menjatuhkan sanksi pada bank-bank besar milik China.
Refleksi dari melunaknya tensi ini terlihat dari absennya pembahasan publik mengenai tuntutan lama AS selama pekan ini, salah satunya adalah desakan agar China mengatasi kelebihan kapasitas industri (overcapacity) yang dinilai oleh mitra dagang barat sengaja membanjiri pasar global dengan barang-barang murah.
Berita Terkait
-
Percepat Akselerasi KEK di Indonesia, Wahyu Agung Group Jalani MOU dengan Perusahaan China
-
Polemik Laut China Selatan Kini Jadi Perang Dingin Digital, Bagaimana Nasib Natuna?
-
AS Takut Disadap? Rombongan Trump Buang Semua Barang China Sebelum Naik Air Force One
-
Cek Fakta: Donald Trump Intip Dokumen Rahasia Xi Jinping, Benarkah?
-
Jerit Pemilik Hotel Jelang Piala Dunia 2026: Sepi Pengunjung Gegara Kebijakan Trump
Terpopuler
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- 5 HP Xiaomi RAM Besar Termurah, Baterai Awet untuk Multitasking Harian
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
Terkini
-
IHSG Libur 4 Hari, Senin Besok Dihantui Pelemahan Rupiah dan Aksi Jual Investor
-
Percepat Akselerasi KEK di Indonesia, Wahyu Agung Group Jalani MOU dengan Perusahaan China
-
Nasabah PNM Mekaar Buktikan Pemberdayaan Perempuan Bisa Menguatkan Ekonomi Keluarga
-
Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Pakar Prediksi Harga BBM Nonsubsidi dan Bahan Baku Impor Naik!
-
Rupiah Tembus Rp17.600, Prabowo: Yang Pusing Pengusaha!
-
Permintaan Emas Batangan di Indonesia Melonjak 47%, Warga Ogah Lirik Saham?
-
Menjelang Bitcoin Pizza Day, Member Indodax Hampir Tembus 10 Juta Pengguna
-
Kesabaran Trump ke Iran Habis, Harga Minyak Naik Lagi
-
IPC TPK Area Panjang Datangkan Crane Raksasa Post Panamax dari China
-
Bagi-bagi Jabatan! Trump Tunjuk Sahabat Dekat Untuk Jadi Bos The Fed