- Pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,61 persen pada kuartal pertama 2026 terhambat kemacetan kapal di pelabuhan utama Tanjung Perak dan Tanjung Emas.
- Lonjakan permintaan bongkar muat yang melampaui kapasitas menyebabkan pembengkakan biaya logistik, kerugian operasional, serta keterlambatan jadwal pengiriman barang.
- PT Pelindo melakukan percepatan operasional dengan menambah alat bongkar muat dan memperbaiki sistem jadwal sandar untuk mengurai antrean kapal.
Suara.com - Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen pada kuartal pertama 2026 ternyata belum sepenuhnya dirasakan sektor riil.
Di balik angka pertumbuhan ekonomi itu, dunia logistik nasional justru menghadapi tekanan berat akibat antrean kapal yang semakin parah di sejumlah pelabuhan utama.
Kemacetan pelabuhan kini mulai berdampak langsung pada biaya logistik nasional. Kapal yang tertahan berhari-hari di area anchorage membuat konsumsi bahan bakar membengkak, jadwal pengiriman berantakan, hingga memicu kerugian berlapis bagi pelaku usaha.
Di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya misalnya, waktu tunggu kapal untuk sandar di Terminal Peti Kemas (TPK) Berlian rata-rata mencapai 30 jam. Kondisi itu terjadi karena lonjakan permintaan layanan belum mampu diimbangi kapasitas bongkar muat.
Sementara di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, situasinya bahkan sempat lebih parah. Menjelang dan setelah Lebaran 2026, antrean kapal di anchorage mencapai sembilan unit sekaligus dengan waktu tunggu hingga 4-6 hari. Yard Occupancy Ratio (YOR) terminal juga melonjak hingga 90 persen, jauh di atas batas aman 65 persen.
Wakil Direktur Operasi PT Pelayaran Tresnamuda Sejati, H. Sunarno HS, mengungkapkan dampak antrean kapal tersebut sangat besar bagi pelaku usaha pelayaran maupun pemilik barang.
"Biayanya tidak kehitung. Kapal tujuan Jakarta, Surabaya, Semarang, kalau harus menunggu, jadwal seluruh rute berantakan. Shipping cost itu hitungannya dolar. Kita juga banyak dikomplain sama pemilik barang. Bahan baku ditunggu di pabrik. Ruginya double-double, dapat rugi, dapat komplain," ujar Sunarno di Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Menurut dia, kerugian bukan hanya berasal dari pemborosan bahan bakar kapal selama menunggu sandar. Efek domino juga merembet ke distribusi logistik darat dan rantai pasok industri.
Akibat kepadatan di Semarang, sejumlah pengusaha di Kawasan Industri Kendal bahkan memilih mengalihkan ekspor melalui Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta atau Tanjung Perak Surabaya. Namun solusi tersebut justru memunculkan biaya tambahan yang tidak kecil.
Baca Juga: Belanja Negara Melonjak Rp 1.082 T April 2026, Purbaya Bantah Ekonomi Tumbuh karena Dana Pemerintah
Ketua DPW ALFI Jawa Tengah, Teguh Arif Handoko, menyebut ongkos distribusi darat menjadi jauh lebih mahal karena pengalihan rute tersebut.
"Ngapain kita kirim ke Surabaya, ngapain ke Jakarta, kalau ongkos truknya saja sudah plus-minus Rp 8 juta? Ini menambah cost logistik mereka," kata Teguh.
Ia mengingatkan kapasitas pelabuhan harus segera diperluas karena pertumbuhan volume peti kemas diperkirakan terus meningkat tahun ini.
"Tahun ini minimal naik 10% lagi, bisa 1,1–1,2 juta TEUs. Kawasan industri Jawa Tengah baru berproduksi 30 persen dari kapasitas penuh. Kalau sudah penuh semua, volume akan jauh lebih besar lagi," ujar Teguh.
Senior Manager Hukum dan Humas PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 3, Wahyu Jatmiko, mengakui kapasitas TPK Berlian Surabaya saat ini memang belum mampu mengimbangi lonjakan permintaan.
"Masih terdapat waktu tunggu kapal untuk bertambat di TPK Berlian dengan waktu rata-rata 30 jam. Kapasitas terminal saat ini hanya sanggup melayani 53 call kapal per minggu, sementara permintaan telah melonjak hingga 70 call per minggu,” kata Wahyu.
Untuk mengatasi persoalan itu, Pelindo tengah menyiapkan sejumlah langkah percepatan operasional. Salah satunya dengan menambah dua unit Quay Container Crane (QCC) yang ditargetkan mulai beroperasi penuh pada akhir Juni 2026.
Selain itu, pengelola terminal juga menyiapkan sistem berthing window dan booking priority untuk meningkatkan kepastian jadwal sandar kapal serta mempercepat arus bongkar muat peti kemas.
Berita Terkait
Terpopuler
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
Pilihan
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
Terkini
-
Strategi Prabowo Wujudkan Kedaulatan Pangan
-
Bank Himbara hingga Bank Asing Kebanjiran Dana BI, Total Likuiditas Tembus Rp424,7 Triliun
-
Genjot Digitalisasi, Penyaluran Pupuk Subsidi Melonjak 34%
-
SetiabudiInvest Gandeng Bahana Sekuritas, Investor Kini Punya Akses Reksa Dana Lebih Luas
-
Harga Emas Kompak Anjlok di Pegadaian: Antam, UBS, dan Galeri24 Turun Harga!
-
Krom Bank Tahan Seluruh Laba Rp143 Miliar untuk Ekspansi, Kredit Melonjak 103%
-
Potongan Driver Ojol Gojek dan Grab Resmi Turun, Ada Penyesuaian Tarif Baru
-
Wall Street Langsung Meroket Setelah Harga Minyak Anjlok
-
SIG Gandeng BRIN Kembangkan Semen Hijau, Bidik Pasar Material Ramah Lingkungan
-
Dana Nganggur Perbankan Tembus Rp2.551 Triliun, Bank Indoensia Ungkap Penyebabnya