Bisnis / Energi
Minggu, 05 Juli 2026 | 17:51 WIB
IIustrasi Kilang Minyak [Pexels].
Baca 10 detik
  • OPEC+ menyepakati kenaikan kuota produksi sebesar 188.000 barel per hari mulai Agustus 2026 guna menambah pasokan global.
  • Keputusan tersebut diambil dalam pertemuan daring hari Minggu untuk merespons pembukaan kembali jalur ekspor Selat Hormuz.
  • Harga minyak dunia kini menurun menjadi USD 72 per barel akibat pemulihan pasokan dan melemahnya permintaan global.

Suara.com - Kelompok negara produsen minyak yang tergabung dalam OPEC+ dilaporkan bersiap menyepakati kenaikan target produksi mulai Agustus 2026.

Langkah ini diambil guna menambah pasokan ke pasar global di tengah tren penurunan harga minyak dunia, menyusul dibukanya kembali Selat Hormuz secara bertahap untuk aktivitas ekspor komoditas energi tersebut.

Seorang sumber internal OPEC+ membocorkan kepada Reuters bahwa kelompok tersebut secara prinsip telah menyetujui peningkatan kuota produksi sebesar 188.000 barel per hari (bpd) mulai Agustus mendatang. Kebijakan ini melanjutkan tren kenaikan serupa yang sebelumnya telah diterapkan pada Juni dan Juli.

Dua sumber lain juga mengonfirmasi bahwa penambahan volume produksi dengan besaran tersebut menjadi keputusan yang paling berpotensi disahkan dalam pertemuan daring OPEC+ yang digelar hari ini, Minggu (5/7/2026).

Sebelumnya, tujuh anggota inti OPEC+ (gabungan negara OPEC dan produsen sekutu termasuk Rusia) tercatat telah menaikkan kuota produksi mereka hingga hampir 800.000 bpd sepanjang periode April-Juli.

Saat artikel ini ditulis, harga minyak dunia terpantau berada di angka USD 68 sementara Brent bertahan di USD 72 per barel.

Produksi Minyak Global Mulai Pulih

Kendati kuota produksi sempat dinaikkan dalam beberapa bulan terakhir, realisasi penambahan pasokan tersebut sebelumnya dinilai hanya terjadi di atas kertas.

Mandeknya distribusi ini dipicu oleh pecahnya perang AS-Israel melawan Iran yang menyebabkan penutupan Selat Hormuz, jalur krusial bagi kapal-kapal tanker dari produsen utama OPEC+ seperti Arab Saudi, Kuwait, dan Irak.

Baca Juga: Iran Tolak Temui Utusan AS, Harga Minyak Dunia Merangkak Naik

Berdasarkan data resmi OPEC, volume produksi merosot tajam menjadi 33,13 juta bpd pada Mei, merosot jauh dari posisi Februari yang sempat menyentuh 42,77 juta bpd.

Meskipun mulai menunjukkan pemulihan pada Juni berkat bantuan AS yang memfasilitasi Uni Emirat Arab (UEA) dan anggota OPEC+ lainnya untuk menggenjot ekspor, total produksi saat ini terpantau masih berada di bawah level sebelum pecahnya perang.

Tekanan pada Harga Minyak Mentah

Menariknya, meski gangguan pasokan dari Timur Tengah belum sepenuhnya normal, harga minyak mentah global justru dilaporkan telah menyusut kembali ke level sebelum perang. Penurunan harga ini dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor makro:

  • Penyusutan volume impor dari China selaku konsumen energi raksasa.
  • Lonjakan ekspor minyak dari negara-negara produsen di luar kawasan Timur Tengah.
  • Langkah pelepasan cadangan strategis global (strategic stock release) dalam rekor terbesar yang dikoordinasikan oleh Badan Energi Internasional (IEA).

Selain itu, kesepakatan nota kesepahaman (memorandum of understanding) untuk mengakhiri perang terbukti ampuh meyakinkan para pelaku pasar bahwa rantai pasok minyak dunia akan segera kembali ke kapasitas normal.

Pada penutupan perdagangan Jumat lalu, minyak mentah berjangka jenis Brent bertengger di kisaran USD 72 per barel. Nilai ini melandai drastis dari puncak tertingginya selama masa konflik yang sempat menembus angka USD 120 per barel.

Load More