- Harga minyak mentah dunia anjlok ke titik terendah dalam dua minggu terakhir pada perdagangan hari Senin lalu.
- Penurunan harga dipicu optimisme pasar atas potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran mengenai Selat Hormuz.
- Proses normalisasi ekspor minyak dunia diperkirakan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk memperbaiki infrastruktur dan arus lalu lintas tanker.
Suara.com - Harga minyak mentah dunia meluncur bebas hingga menyentuh level terendah dalam dua minggu terakhir pada perdagangan hari Senin.
Tekanan jual masif ini dipicu oleh munculnya gelombang optimisme di kalangan pelaku pasar menyusul indikasi bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran tengah bergerak mendekati kesepakatan damai.
Kendati demikian, kedua belah pihak dilaporkan masih terlibat silang pendapat yang sengit mengenai sejumlah isu krusial. Salah satu poin perdebatan utama adalah masalah blokade di Selat Hormuz, yang hingga saat ini masih membatasi volume ekspor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah ke pasar global.
Pergerakan instrumen kontrak berjangka komoditas energi mencatatkan koreksi yang cukup dalam:
- Minyak Mentah Brent: Kontrak berjangka Brent merosot tajam sebesar USD 4,71 atau terkoreksi sekitar 4,55%, sehingga mendarat di posisi USD 98,83 per barel pada pukul 22.34 GMT.
- Minyak Mentah West Texas Intermediate (WTI): Produk minyak mentah standar AS ini jatuh sebesar USD 4,57 atau ambles 4,73% ke level USD 92,03 per barel.
Penurunan tajam pada awal sesi perdagangan tersebut membawa kedua tolok ukur harga minyak internasional ini menyentuh titik terendah mereka sejak tanggal 7 Mei lalu.
Sentimen positif meruyak setelah Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan resmi yang menyebutkan bahwa Washington dan Teheran telah berhasil "menyelesaikan sebagian besar negosiasi" terkait nota kesepahaman (memorandum of understanding).
Dikutip dari Reuters, dokumen kesepakatan tersebut dirancang untuk membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz secara penuh. Sebelum konflik pecah, jalur perairan strategis ini memegang peran vital dengan mengakomodasi seperlima dari total pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG) di seluruh dunia.
Meskipun cetak biru perdamaian mulai terlihat, proses diplomasi ini diprediksi tidak akan berjalan mulus. Melalui pernyataannya, Trump menegaskan bahwa dirinya telah menginstruksikan tim delegasi AS di meja perundingan untuk tidak terburu-buru dalam menandatangani kesepakatan akhir dengan Iran, mengingat masih adanya sejumlah poin sensitif yang belum mencapai titik temu.
Merespons dinamika geopolitik ini, Saul Kavonic selaku analis senior dari lembaga riset MST Marquee mengungkapkan bahwa situasi ini memberikan angin segar jangka pendek bagi stabilitas harga energi dunia.
Baca Juga: Usai Bertemu Xi Jinping, AS akan Berunding Damai dengan Iran usai Idul Adha
"Terlepas dari semua catatan teknis serta risiko yang masih membayangi perjanjian damai dan kepastian di Selat Hormuz, saat ini mulai terlihat titik terang di ujung terowongan. Faktor inilah yang membawa kelegaan sementara terhadap pergerakan harga minyak dalam jangka pendek," ujar Saul Kavonic, dilansir dari Reuters.
Meski demikian, para pengamat komoditas dan industri energi memperkirakan bahwa proses normalisasi rantai pasok tidak dapat terjadi dalam sekejap.
Diperlukan waktu hingga berbulan-bulan agar arus lalu lintas kapal tanker yang melewati selat tersebut kembali ke volume normal.
Selain itu, diperlukan waktu yang cukup lama untuk merenovasi serta memperbaiki berbagai fasilitas infrastruktur minyak dan gas bumi yang mengalami kerusakan fisik selama konflik berlangsung.
Berita Terkait
-
Netanyahu Sebut Donald Trump Sepakat Iran Tak Boleh Punya Senjata Nuklir
-
AS Roma Finis di Peringkat Ketiga usai Sikat Hellas Verona, Kunci Tiket Liga Champions
-
Harga Minyak DIproyeksi Bergejolak dalam 60 Hari ke Depan Usai Sanksi Iran Dicabut
-
Timnas Iran Pindah Markas Piala Dunia 2026 ke Meksiko demi Hindari Masalah Visa AS
-
Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran Hampir Rampung, Harga Minyak Melandai
Terpopuler
- 50 Orang Berambut Cepak 'Serbu' Polda Metro Jaya: 'Mau Ambil Saksi Kasus Jampidsus'
- Mencekam! 50 Pria diduga Tentara Datangi Polda Metro Jaya Usai Penggeledahan Rumah Febrie Adriansyah
- Rumah Jampidsus Febrie Adriansyah Dijaga Ketat Tentara Usai Polisi Geledah Kafe deClan Signature
- Gibran Bukan Panglima! Pakar UGM: Keamanan Papua Tetap Tanggung Jawab TNI dan Polri
- 3 Sabun Muka Rekomendasi Dokter Estetika yang Ampuh Jaga Skin Barrier
Pilihan
-
Pertemuan di Rumah Presiden, Jampidsus Febrie Adriansyah Diminta Jentelmen Mundur
-
Mobil Dinas TNI Tabrak Tiang Rambu di Depan DPR, Polisi Duga Pengemudi Microsleep
-
Bantah Isu TNI 'Serbu' Polda Metro Usai Ramai Kasus Jampidsus, Kapuspen: Waspada Provokator!
-
Penampakan 50 Pria Baju Loreng Geruduk Polda Metro Jaya Usai Penggeledahan Febrie Adriansyah
-
Mencekam! 50 Pria diduga Tentara Datangi Polda Metro Jaya Usai Penggeledahan Rumah Febrie Adriansyah
Terkini
-
Status Pekerja Outsourcing Diubah, Ini Penjelasan Lengkap dari Kemnaker
-
Profil Sunaryanto, Direktur Utama Pertamina Hulu Migas yang Baru
-
8 Bank Resmi Merger, OJK Ungkap Alasannya
-
Ekonom Wanti-wanti Defisit APBN Bisa Lebihi 3% Jika Harga Minyak Dunia Tembus Segini
-
OKX Masuk Bisnis AI, Bidik Ekonomi Agen Otonom Bernilai Triliunan Dolar
-
70 Tahun Danamon, Perkuat Komitmen Tumbuh Bersama Nasabah di Setiap Langkah
-
Aset Properti Jampidsus Febrie Adriansyah Tersebar di Jabar, Didominasi Lokasi Elit
-
INDEF Ungkap Kelas Menengah RI Tertekan, 10 Juta Orang Turun Kelas dalam Waktu Sedekade
-
Saham-saham IPO Rontok ke Zona Merah, Emiten Punya Raffi Ahmad Apa Kabar?
-
IHSG Berbalik ke Zona Hijau: Ini Saham-saham Paling Banyak Dibeli Investor