- Ekonom INDEF M. Rizal Taufiqurahman menyatakan sepuluh juta masyarakat kelas menengah Indonesia mengalami penurunan kesejahteraan dalam sepuluh tahun terakhir.
- Tekanan inflasi dan melambatnya sektor manufaktur menyebabkan daya beli masyarakat serta permintaan agregat nasional mengalami penurunan yang signifikan.
- Pemerintah perlu memastikan efektivitas stimulus fiskal sebesar Rp24-26 triliun guna menjaga stabilitas ekonomi serta menciptakan lapangan kerja baru.
Suara.com - Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengungkapkan kalau kondisi ekonomi domestik Indonesia tengah mengirimkan sinyal peringatan yang serius.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufiqurahman mengungkapkan bahwa motor utama penggerak ekonomi nasional, yaitu kelompok masyarakat kelas menengah, kini dalam kondisi tertekan hebat.
Pasalnya, tekanan berlapis dari lonjakan harga hingga rentetan kebijakan membuat sekitar 10 juta orang dari kelompok ini terlempar ke bawah dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.
"Kelompok menengah itu sekarang sedang ampun-ampunan. Mereka menabung inflasi, menahan beban harga, dan beban kebijakan. Wajar kalau dalam 10 tahun terakhir jumlah rumah tangga menengah itu turun atau hilang 10 jutaan," ujar Taufiq dalam acara Investortrust Discussion Forum yang digelar di Habitate Jakarta, Kamis (9/7/2026).
Ia menerangkan, fenomena susutnya kelas menengah ini menjadi alarm keras bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pasalnya, struktur ekonomi nasional selama ini sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga, di mana kelompok menengah menyumbang sekitar 80 persen hingga 85 persen dari total konsumsi.
Ketika kantong kelas menengah kempis, agregat permintaan nasional secara otomatis ikut melorot. Rizal menjelaskan, kenaikan angka inflasi yang terjadi belakangan ini bukan mencerminkan gairah daya beli masyarakat yang menguat.
Sebaliknya, inflasi dipicu oleh faktor eksternal dan kebijakan harga yang diatur pemerintah, atau dikenal sebagai imported inflation. Kenaikan harga minyak dunia dan energi inilah yang paling besar memberikan tekanan pada pengeluaran rumah tangga.
Kondisi ini diperparah oleh melambatnya kinerja sektor manufaktur, yang melengkapi ancaman deindustrialisasi di dalam negeri. Indikator Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia dalam dua bulan terakhir menunjukkan tren mengkhawatirkan karena berada di bawah level 50, yang berarti aktivitas industri sedang berkerut alias kontraktif, bukan ekspansif.
Akibatnya, mesin ekonomi di sektor riil belum bisa bergerak optimal. Sektor manufaktur yang terganggu membuat penyerapan tenaga kerja tersendat, ditambah lagi dengan sektor pertanian yang nilai tambahnya bahkan tidak sampai 1 persen.
Baca Juga: Inovasi Water-Based Dipamerkan untuk Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan
Padahal, kedua sektor inilah yang menjadi tumpuan hidup sebagian besar pekerja di Indonesia. Di sisi lain pelemahan nilai tukar Rupiah membuat bahan baku impor semakin mahal, memicu kenaikan biaya produksi yang ujung-ujungnya dibebankan lagi kepada konsumen.
Meskipun pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2026 sempat terdongkrak ke angka 5,11 persen karena momentum Ramadan dan Lebaran, INDEF mengingatkan agar pemerintah tidak terlena dengan angka tersebut.
Pemerintah memang telah menyiapkan stimulus fiskal sekitar Rp24 triliun hingga Rp26 triliun untuk pangan dan program vokasi, namun ketepatan sasaran dari anggaran ini harus terus dikawal ketat agar benar-benar berdampak langsung pada kantong masyarakat.
"Disiplin fiskal tidak cukup, belanja harus berdampak. Pemerintah saya kira selayaknya mengevaluasi, memonitor seluruh program-program belanja itu supaya berdampak, memberikan multiplier effect dan juga produktivitas untuk memperbaiki daya beli masyarakat dan penciptaan lapangan kerja," pungkas Taufiq.
Berita Terkait
-
Inovasi Water-Based Dipamerkan untuk Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan
-
Kementerian Ekonomi Kreatif Susun Rindekraf Perkuat Talenta dan Daya Saing
-
Transaksi Olein Tembus Rp7,3 Triliun dan Timah Rp2,6 Triliun di Tengah Gejolak Global
-
Fondasi SDM Masa Depan, Kualitas Pendidikan Anak Sejak Dini Jadi Sorotan
-
Dilema Anak Muda RI: Tetap Ingin Menikah tapi Tercekik Beban Ekonomi dan Rumah Mahal
Terpopuler
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- Mulai Besok Kendaraan Nunggak Pajak Dilarang Isi BBM Bersubsidi
- 3 Rekomendasi Air Cooler 50 Watt yang Dingin Maksimal dan Suaranya Senyap
- 3 Sepatu Running Brodo Terlaris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Durian Musang King dan Black Thorn Jadi Komoditas Baru Andalan Sulsel
Pilihan
-
Bantah Isu TNI 'Serbu' Polda Metro Usai Ramai Kasus Jampidsus, Kapuspen: Waspada Provokator!
-
Penampakan 50 Pria Baju Loreng Geruduk Polda Metro Jaya Usai Penggeledahan Febrie Adriansyah
-
Mencekam! 50 Pria diduga Tentara Datangi Polda Metro Jaya Usai Penggeledahan Rumah Febrie Adriansyah
-
50 Orang Berambut Cepak 'Serbu' Polda Metro Jaya: 'Mau Ambil Saksi Kasus Jampidsus'
-
Resmi! Muktamar NU ke-35 akan Digelar di Ponpes Bahrul Ulum Jombang
Terkini
-
Saham-saham IPO Rontok ke Zona Merah, Emiten Punya Raffi Ahmad Apa Kabar?
-
IHSG Berbalik ke Zona Hijau: Ini Saham-saham Paling Banyak Dibeli Investor
-
Beda Jauh LHKPN Jampidsus Febrie Adriansyah dengan 'Harta' yang Ditemukan Polisi
-
Trump Sebut Kesepakatan Gencatan Senjata Selesai, AS dan Iran Kembali Berperang
-
Rumah Estetik Saja Tidak Cukup, Pahami Standar Keamanan Listrik Modern
-
Cheers..! Happy Hapsoro Suami Puan Maharani Borong Saham Emiten Diskotik SCBD
-
Daftar Harga Pangan Terbaru: Cabai Rawit Paling Mahal!
-
Target Operasi 2030, PGE Tajak Sumur Eksplorasi Pertama PLTP Lumut Balai Unit 3
-
Pos Indonesia Tingkatkan Pemahaman Tata Kelola Perusahaan dan Mitigasi Risiko Hukum
-
Kapal Tanker Pertamina Lolos, Selat Hormuz Dipastikan Aman?