Bisnis / Energi
Selasa, 02 Juni 2026 | 16:23 WIB
Amerika Serikat kembali melancarkan serangan militer ke wilayah Iran dengan menargetkan sebuah lokasi militer di Bandar Abbas, kota pelabuhan strategis yang berada di dekat Selat Hormuz. [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Pemerintah Iran sedang mengkaji usulan kesepakatan damai dengan Amerika Serikat namun belum memberikan tanggapan resmi kepada Washington.
  • Ketidakpastian politik di Timur Tengah pascaoperasi militer menyebabkan harga minyak mentah dunia tertahan di angka yang tinggi.
  • Teheran menuntut penghentian operasi militer di seluruh front pertempuran sebagai syarat utama untuk mewujudkan perdamaian regional permanen.

Suara.com - Pemerintah Iran dilaporkan masih melakukan pengkajian mendalam terhadap teks final dari usulan kesepakatan damai dengan Amerika Serikat (AS).

Hingga saat ini, pihak Teheran ditegaskan belum mengirimkan formal tanggapan apa pun ke Washington. Laporan tersebut divalidasi oleh kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, berdasarkan informasi dari sumber internal yang sangat memahami jalannya diplomasi tersebut.

Sumber tersebut mengungkapkan bahwa Iran tidak ingin terjebak dalam retorika politik dan berkomitmen penuh untuk mengamankan keuntungan yang bersifat "nyata dan konkret" sebelum menandatangani dokumen perdamaian.

"Sejarah ketidakpatuhan Amerika Serikat dan ketidakpercayaan yang telah berlangsung lama membuat Teheran memandang persoalan ini dengan sangat hati-hati," urai sumber tersebut mengenai sikap skeptis pertahanan Iran, dikutip via Anadolu.

Harga Minyak Mentah Global Tertahan di Level Tinggi

Lambatnya progres pemulihan stabilitas politik di Timur Tengah ini membuat pergerakan pasar komoditas energi dunia terus bergejolak.

Berdasarkan data perdagangan terbaru, harga minyak mentah dunia (crude oil) masih tertahan kuat di kisaran USD 90,3 per barel. Sementara itu, minyak mentah jenis Brent bertengger kokoh di zona USD 92,0 per barel.

Tingginya harga minyak ini merupakan imbas langsung dari kecemasan para spekulen dan pelaku pasar energi terhadap masa depan jalur logistik minyak mentah di Teluk Persia jika perundingan kedua negara berujung jalan buntu.

Krisis keamanan di kawasan strategis ini awalnya meledak setelah militer Amerika Serikat bersama Israel meluncurkan operasi serangan udara gabungan berskala besar ke wilayah teritorial Iran pada 28 Februari lalu.

Baca Juga: Khianati Gencatan Senjata AS, Penjajah Israel Minta Restu Bom Ibu Kota Lebanon

Merespon agresi tersebut, Teheran langsung melancarkan serangan balasan taktis yang menargetkan wilayah Israel serta melumpuhkan basis militer sekutu-sekutu AS di sepanjang kawasan Teluk, termasuk memblokade total Selat Hormuz.

Upaya meredam perang sebenarnya sempat membuahkan hasil ketika kesepakatan gencatan senjata sementara resmi diberlakukan pada 8 April, berkat mediasi intensif dari pemerintah Pakistan.

Namun sayangnya, rangkaian konferensi perundingan lanjutan yang digelar pasca-gencatan senjata di kota Islamabad gagal total dalam merumuskan klausul perdamaian yang bersifat permanen. Meskipun demikian, poros diplomatik internasional dilaporkan masih berupaya mencari jalan keluar terbaik.

Guna menyudahi peperangan ini secara total, Iran mengajukan syarat kaku yang wajib dipenuhi oleh Washington dan sekutunya.

Teheran menuntut penghentian operasi militer di seluruh front pertempuran secara serentak, termasuk di wilayah Libanon. Sebagaimana diketahui, rentetan serangan darat dan udara Israel ke Libanon masih gencar berkecamuk sejak awal Maret lalu.

Di sisi lain, dinamika politik internal Gedung Putih ikut bergolak. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Senin menyatakan bahwa dirinya telah berkomunikasi langsung dan meminta Kepala Otoritas Israel, Benjamin Netanyahu, untuk segera menarik mundur seluruh barisan pasukannya dari ibu kota Beirut demi membuka koridor damai regional.

Load More