- Pemerintah Iran sedang mengkaji usulan kesepakatan damai dengan Amerika Serikat namun belum memberikan tanggapan resmi kepada Washington.
- Ketidakpastian politik di Timur Tengah pascaoperasi militer menyebabkan harga minyak mentah dunia tertahan di angka yang tinggi.
- Teheran menuntut penghentian operasi militer di seluruh front pertempuran sebagai syarat utama untuk mewujudkan perdamaian regional permanen.
Suara.com - Pemerintah Iran dilaporkan masih melakukan pengkajian mendalam terhadap teks final dari usulan kesepakatan damai dengan Amerika Serikat (AS).
Hingga saat ini, pihak Teheran ditegaskan belum mengirimkan formal tanggapan apa pun ke Washington. Laporan tersebut divalidasi oleh kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, berdasarkan informasi dari sumber internal yang sangat memahami jalannya diplomasi tersebut.
Sumber tersebut mengungkapkan bahwa Iran tidak ingin terjebak dalam retorika politik dan berkomitmen penuh untuk mengamankan keuntungan yang bersifat "nyata dan konkret" sebelum menandatangani dokumen perdamaian.
"Sejarah ketidakpatuhan Amerika Serikat dan ketidakpercayaan yang telah berlangsung lama membuat Teheran memandang persoalan ini dengan sangat hati-hati," urai sumber tersebut mengenai sikap skeptis pertahanan Iran, dikutip via Anadolu.
Harga Minyak Mentah Global Tertahan di Level Tinggi
Lambatnya progres pemulihan stabilitas politik di Timur Tengah ini membuat pergerakan pasar komoditas energi dunia terus bergejolak.
Berdasarkan data perdagangan terbaru, harga minyak mentah dunia (crude oil) masih tertahan kuat di kisaran USD 90,3 per barel. Sementara itu, minyak mentah jenis Brent bertengger kokoh di zona USD 92,0 per barel.
Tingginya harga minyak ini merupakan imbas langsung dari kecemasan para spekulen dan pelaku pasar energi terhadap masa depan jalur logistik minyak mentah di Teluk Persia jika perundingan kedua negara berujung jalan buntu.
Krisis keamanan di kawasan strategis ini awalnya meledak setelah militer Amerika Serikat bersama Israel meluncurkan operasi serangan udara gabungan berskala besar ke wilayah teritorial Iran pada 28 Februari lalu.
Baca Juga: Khianati Gencatan Senjata AS, Penjajah Israel Minta Restu Bom Ibu Kota Lebanon
Merespon agresi tersebut, Teheran langsung melancarkan serangan balasan taktis yang menargetkan wilayah Israel serta melumpuhkan basis militer sekutu-sekutu AS di sepanjang kawasan Teluk, termasuk memblokade total Selat Hormuz.
Upaya meredam perang sebenarnya sempat membuahkan hasil ketika kesepakatan gencatan senjata sementara resmi diberlakukan pada 8 April, berkat mediasi intensif dari pemerintah Pakistan.
Namun sayangnya, rangkaian konferensi perundingan lanjutan yang digelar pasca-gencatan senjata di kota Islamabad gagal total dalam merumuskan klausul perdamaian yang bersifat permanen. Meskipun demikian, poros diplomatik internasional dilaporkan masih berupaya mencari jalan keluar terbaik.
Guna menyudahi peperangan ini secara total, Iran mengajukan syarat kaku yang wajib dipenuhi oleh Washington dan sekutunya.
Teheran menuntut penghentian operasi militer di seluruh front pertempuran secara serentak, termasuk di wilayah Libanon. Sebagaimana diketahui, rentetan serangan darat dan udara Israel ke Libanon masih gencar berkecamuk sejak awal Maret lalu.
Di sisi lain, dinamika politik internal Gedung Putih ikut bergolak. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Senin menyatakan bahwa dirinya telah berkomunikasi langsung dan meminta Kepala Otoritas Israel, Benjamin Netanyahu, untuk segera menarik mundur seluruh barisan pasukannya dari ibu kota Beirut demi membuka koridor damai regional.
Berita Terkait
-
Iran Tak Sertakan Eks Striker AS Roma ke Piala Dunia 2026
-
Serangan Siber Pentagon, Propaganda Pro-Iran Susup VIP Militer AS Lewat Instagram
-
Takut Negosiasi Iran Gagal, Trump Tegur Netanyahu: Tanpa Saya Kau Sudah Masuk Penjara!
-
Negosiasi Iran Terancam, Donald Trump Gunakan Kata Kasar Tegur Rencana Militer Netanyahu ke Lebanon
-
Timnas Iran Piala Dunia 2026, Sardar Azmoun Dicoret Akibat Kritik Politik di Media Sosial
Terpopuler
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- Akhir Dilema PCX vs Vario: Skutik Baru Honda Hadir Bawa Kamera Dashcam dan Mesin Lebih Buas
Pilihan
-
674 Korban Kebakaran Kemayoran Mengungsi, Posko Bantuan dan Layanan Kesehatan Disiagakan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
Terkini
-
Pintu PHK 20 Persen Karyawan, Industri Kripto RI Mulai Goyang?
-
Danantara Mau Merger Asuransi BUMN, AAJI Buka Suara
-
BPS: Harga Beras Naik per Mei 2026, Dari Penggilingan hingga Eceran
-
Rupiah Makin Terpuruk! Tembus Rp17.839 per Dolar AS, Ini Penyebabnya
-
BPS Ungkap Harga Emas Perhiasan per Mei 2026 Alami Deflasi Tiga Bulan Beruntun
-
Adu LHKPN Seskab Teddy Indra Wijaya dan Dino Patti Djalal, Siapa yang Lebih Kaya?
-
Gencar Ekspansi Jadi Modal TMAS Bidik Pendapatan Rp 5,53 Triliun di 2026
-
Full Surcharge Resmi Naik hingga 50%, Warganet Mulai Menangis Lihat Harg Tiket Pesawat
-
Saham Wilmar di Singapura Anjlok, Usai Pemerintah RI Bidik Dugaan Manipulasi Ekspor Sawit
-
Rupiah Terus Melemah: Pengusaha MBG Protes, Harga Sabun hingga Popok Naik