Bisnis / Inspiratif
Selasa, 02 Juni 2026 | 16:44 WIB
Pengrajin tahu dan tempe tertekan oleh naiknya harga kedelai yang diimpor dari luar negeri. Harga kedelai naik akibat melemahnya rupiah. Foto: Pekerja menyelesaikan pembuatan tahu di salah satu sentra produksi, Kelurahan Jambula, Ternate, Maluku Utara, Rabu (20/5/2026). [Antara]
Baca 10 detik
  • Perajin tahu dan tempe di Kabupaten Lebak terancam gulung tikar akibat kenaikan harga kedelai impor yang signifikan.
  • Lonjakan biaya produksi menyebabkan penurunan omzet serta memaksa para perajin memperkecil ukuran produk demi keberlangsungan usaha.
  • Ketua perajin meminta pemerintah segera menstabilkan harga kedelai untuk menyelamatkan 550 pelaku usaha di wilayah Lebak.

Suara.com - Sejumlah perajin tahu dan tempe di Kabupaten Lebak, Banten terancam gulung tikar akibat semakin mahalnya harga kedelai yang menjadi bahan baku dua sumber protein sejuta umat tersebut.

Para pengrajin tahu dan tempe di Lebak mengatakan harga kedelai, yang mayoritas diimpor dari luar negeri, kini naik menjadi Rp545.000 per 50 kilogram dari sebelumnya hanya Rp300.000.

"Jika harga kedelai tidak dikendalikan, (kami) dipastikan menghentikan produksi, " kata Ujang (50), pengrajin tahu di Rangkasbitung, Lebak pada akhir pekan kemarin.

Sementara menurut Mad Soleh (58), pengrajin tahu lain di Rangkasbitung, mengatakan bukan hanya harga kedelai. Naiknya harga minyak goreng dan kayu bakar juga menambah biaya produksi mereka.

"Kami sekarang terpaksa mengurangi ukuran menjadi lebih kecil agar bisa bertahan, karena harga kedelai melambung," kata Mad Soleh dilansir dari Antara.

Dalam dua pekan terakhir ini, kata dia, terhitung hampir setiap hari terjadi kenaikan dan dipastikan berdampak terhadap omzet. Akibat kenaikan kedelai itu, kata dia, produksi tahu menurun hingga 50 kilogram (kg) dari sebelumnya 100 kg.

"Kita sekarang dari produksi 50 kg bisa meraup kebersihan sekitar Rp110.000 dari sebelumnya Rp220.000 per hari," katanya menjelaskan.

Begitu juga perajin tempe Yanto mengatakan pihaknya tidak bisa menaikkan harga satuan tempe ke pelangganya, meski ada kenaikan harga kedelai.

"Kami memperkecil ukuran agar produksi tetap berjalan dan pekerja sebanyak tiga orang tidak dirumahkan," katanya menjelaskan.

Baca Juga: Hasto Soroti Pelemahan Rupiah dan Defisit Fiskal: Utang Dibayar dengan Utang

Menurut Ketua Perajin Tahu Tempe Kabupaten Lebak, Liri saat ini harga kedelai impor melambung dan perlu pemerintah turun tangan untuk mengatasi lonjakan harga kedelai. Ia mengatakan ada sekitar 550 pengrajin tahu dan tempe di Lebak yang terancam gulung tikar jika harga kedelai terus melambung.

"Kami ingin harga kedelai kembali normal dan mereka perajin bisa tumbuh dan berkembang juga menyerap tenaga kerja," katanya.

Load More