- Rupiah Rp18.000 picu lonjakan biaya produksi industri.
- Impor bahan baku 70% bikin sektor riil tertekan.
- Dunia usaha mulai tunda ekspansi dan investasi baru.
Suara.com - Pelemahan nilai tukar rupiah yang akhirnya menembus level Rp18.000 per dolar AS mulai memberikan tekanan serius terhadap dunia usaha.
Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani mengingatkan bahwa dampak pelemahan rupiah tidak hanya terlihat pada pasar keuangan, tetapi sudah merembet ke sektor riil melalui kenaikan biaya produksi, pembiayaan, hingga penurunan optimisme industri.
Menurut Shinta, tekanan terhadap rupiah sebenarnya sudah berlangsung sejak awal tahun. Dari posisi sekitar Rp16.800 per dolar AS pada Januari 2026, mata uang Garuda terus melemah hingga mendekati Rp17.000 pada akhir kuartal I dan kini menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
"Artinya, dunia usaha telah menghadapi tekanan nilai tukar ini secara bertahap selama beberapa bulan terakhir, sehingga dampaknya terhadap sektor riil semakin terasa," ujar Shinta dalam keterangannya, Kamis (4/6/2026).
Ketergantungan industri nasional terhadap bahan baku impor yang masih mencapai sekitar 70 persen menjadi salah satu sumber tekanan terbesar. Kondisi tersebut membuat biaya produksi atau cost of goods sold melonjak, margin usaha menyusut, dan ruang ekspansi perusahaan semakin terbatas.
Sektor yang paling merasakan dampaknya antara lain industri tekstil dan produk tekstil, kimia dan petrokimia, plastik, logam dasar, elektronik, hingga otomotif yang masih mengandalkan komponen impor dalam rantai produksinya.
Tekanan tersebut semakin berat karena pelaku usaha juga masih dibebani tingginya biaya logistik, energi, dan pembiayaan. Alhasil, dunia usaha kini menghadapi tekanan biaya berlapis yang berasal dari faktor eksternal.
Shinta menilai kondisi ini mulai tercermin dari menurunnya aktivitas industri. PMI manufaktur yang kembali masuk zona kontraksi sejak Juli 2025 serta tren pelemahan Indeks Kepercayaan Industri menjadi sinyal bahwa sektor riil sedang menghadapi masa yang tidak mudah.
"Apalagi pelemahan rupiah saat ini jauh lebih dalam dibandingkan kuartal pertama tahun ini, ketika sebagian subsektor manufaktur sudah tumbuh di bawah rata-rata ekonomi nasional dan beberapa di antaranya mengalami kontraksi," katanya.
Baca Juga: Rupiah Melemah! Wisatawan Singapura Mulai Serbu Jakarta untuk Belanja, Mulai Kemang Hingga SCBD
Untuk bertahan, banyak perusahaan mulai menerapkan langkah efisiensi seperti pembekuan rekrutmen (hiring freeze), pengendalian biaya non-esensial, penundaan investasi baru, hingga memperkuat penggunaan bahan baku lokal dan strategi lindung nilai (hedging).
Meski demikian, dunia usaha tetap berharap pemerintah dan otoritas moneter mampu menjaga kredibilitas ekonomi nasional serta kepercayaan pasar melalui koordinasi kebijakan yang kuat.
Shinta memahami keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen sebagai langkah menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan risiko inflasi. Namun, menurutnya, kebijakan stabilisasi makro perlu diimbangi dengan langkah nyata untuk menekan berbagai komponen biaya tinggi yang selama ini membebani dunia usaha.
"Dunia usaha meyakini fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Tetapi stabilitas makro harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga daya tahan sektor riil agar pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja tetap terjaga," tegasnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- 5 HP dengan Kamera Telefoto Terbaik untuk Konten Media Sosial
Pilihan
-
Wamen Imipas Silmy Karim Ditahan KPK, Terborgol Pakai Rompi Oranye Usai Drama Menyerahkan Diri
-
Mengejutkan! Ini Pesan Terakhir Wamen Imipas Silmy Karim Sebelum Dicari KPK Terkait OTT Imigrasi
-
Siasat Dadan Hindayana Cs Korupsi MBG: Pakai Yayasan Sendiri, Sedot Miliaran Rupiah Tiap Hari!
-
Momen Unik Penahanan Dadan Cs, Satu Tersangka Tertinggal Mobil Tahanan hingga 'Dikepung' Wartawan
-
Pakai Rompi Pink dan Diborgol, Kejagung Resmi Tahan Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Cs
Terkini
-
Wujud Swasembada Energi, Komisaris Pertamina Apresiasi Program TJSL Uma Palak Lestari di Denpasar
-
3 Cara Cek Kurs Rupiah ke Dolar, Bisa Dipantau Setiap Hari dari HP
-
Komitmen Pengurangan Emisi, BTN Perluas Program Bayar Angsuraanmu dengan Sampahmu hingga ke Kudus
-
Sentimen Damai Timur Tengah dan Pembatasan Wewenang Trump Redam Harga Minyak
-
Kabar Baik untuk Emak-Emak! Harga Cabai dan Bawang Merah Turun, Ini Daftar Lengkapnya
-
Rupiah Resmi Masuk Jurang ke Level Rp18.010 per Dolar AS, Pasar Menanti Langkah Bank Indonesia
-
IHSG Lanjutkan Pelemahan ke Level 5.800-an pada Kamis Pagi, Simak Saham-saham Ini
-
Rupiah Jeblok Rp18.000 per Dolar AS, Ekonomi 200 Juta WNI Dipertaruhkan
-
Harga Emas Antam Lagi Murah Dibanderol Rp 2,75 Juta per Gram
-
Rupiah Akhirnya Jebol ke Rp18.000, Purbaya Tak Mau Disalahkan