- Nilai tukar rupiah menguat ke level Rp18.018 per dolar AS pada perdagangan Jumat, 5 Juni 2026 pagi.
- Penguatan rupiah diprediksi bersifat sementara karena terhambat ketidakpastian geopolitik global serta sentimen regulasi ekonomi domestik terbaru.
- Mayoritas mata uang di kawasan Asia turut mengalami volatilitas serupa dengan kecenderungan melemah terhadap dolar AS pagi ini.
Suara.com - Nilai tukar rupiah hari ini mencatatkan riak positif pada pembukaan perdagangan menjelang akhir pekan.
Mata uang Garuda berhasil bangkit dari tekanan intervensi pasar global, meskipun posisinya terpantau masih tertahan di zona psikologis yang cukup rawan, yakni pada kisaran level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Mengacu pada data kompilasi pasar spot Bloomberg pada Jumat (5/6/2026) pagi, rupiah dibuka menguat ke posisi Rp18.018 per dolar AS. Catatan ini merefleksikan kenaikan tipis sebesar 31 poin atau setara 0,17 persen jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada perdagangan hari sebelumnya yang sempat tertahan di level Rp18.049 per dolar AS.
Kendati menunjukkan tanda-tanda rebound, para pelaku pasar di kota-kota besar diimbau untuk tetap mencermati volatilitas yang ada.
Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memberikan proyeksi bahwa apresiasi yang terjadi pada mata uang domestik ini cenderung berdurasi pendek karena minimnya sentimen pendukung yang solid dari sektor geopolitik.
"Rupiah menguat masih sementara dan akan berpotensi melemah namun terbatas terhadap dolar AS," katanya saat dihubungi Suara.com.
Menurut analisis makroekonomi saat ini, pergerakan indeks dolar AS sedang berada dalam fase konsolidasi yang datar akibat respons pasar terhadap dinamika global. Terdapat beberapa faktor utama yang menahan penguatan rupiah lebih lanjut:
- Ketidakpastian Global: Tekanan geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda deeskalasi total, membuat investor global bersikap hati-hati.
- Sikap Wait and See: Para pelaku pasar internasional tengah mengalihkan fokus dan menanti rilis data ketenagakerjaan resmi dari Amerika Serikat yang akan menjadi kompas kebijakan suku bunga The Fed.
- Sentimen Regulasi Domestik: Pemberlakuan regulasi baru di dalam negeri turut memengaruhi persepsi risiko dari para investor asing.
" Pengesahan UU P2SK juga dipandang akan semakin menghilangkan indepensi BI dan menekan sentimen investor, Range 18000-18100," jelasnya.
Melonjaknya nilai tukar greenback terhadap mata uang lokal hingga menembus angka psikologis baru memicu pertanyaan besar di kalangan generasi muda dan investor ritel terkait strategi alokasi aset. Konversi portofolio ke dalam mata uang asing kini mulai dilirik sebagai langkah lindung nilai (hedging).
Baca Juga: Dolar AS Mahal, RI Pakai Skema 'Barter' Dagang dengan Filipina
Melihat tren pergerakan modal saat ini, keputusan untuk mengoleksi mata uang dolar AS di level harga sekarang dinilai cukup rasional oleh sebagian pelaku pasar, mengingat adanya potensi pelemahan lanjutan pada mata uang lokal.
" Sentimen sudah masuk kemana-mana hingga masyarakat, dari pantauan memang banyak yang membeli dolar," jelasnya.
Fluktuasi yang melanda rupiah nyatanya juga dialami oleh mayoritas mata uang di kawasan regional Asia yang bergerak bervariasi cenderung melemah terhadap dolar AS pagi ini.
Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan koreksi paling dalam setelah anjlok signifikan sebesar 1,04 persen. Pelemahan ini diikuti oleh ringgit Malaysia yang ambles 0,48 persen, baht Thailand yang tertekan 0,1 persen, serta dolar Taiwan dan dolar Singapura yang kompak tergelincir masing-masing sebesar 0,07 persen. Di sisi lain, yuan China juga terpantau melemah tipis 0,03 persen.
Sebaliknya, beberapa mata uang Asia berhasil menunjukkan perlawanan. Peso Filipina memimpin penguatan di Asia dengan kenaikan 0,12 persen, disusul oleh yen Jepang yang menguat 0,04 persen, dan dolar Hong Kong yang merangkak naik tipis sekitar 0,02 persen pada perdagangan pagi.
Berita Terkait
-
Dolar AS Tembus Rp18.000, Kemenkeu, BI, dan OJK Kompak Jaga Stabilitas Pasar
-
DSI Berpotensi Dongkrak Devisa dan Stabilkan Rupiah, Tapi Ada Risiko Tumpang Tindih Lembaga
-
Andhika Pratama Kritik Kebijakan Pemerintah di Tengah Rupiah Anjlok, Postingannya Langsung Viral
-
Purbaya Bantah Kabar Akan Dicopot dari Kursi Menteri Keuangan
-
Dolar AS Mahal, RI Pakai Skema 'Barter' Dagang dengan Filipina
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
- 3 HP Murah dengan Kamera Underwater Rp2 Jutaan, Cocok Buat Foto dan Video dalam Air
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Bikin Cemas! Penampilan Terbaru Salman Khan yang Tampak Lemah dan Menua Jadi Sorotan
-
Bahlil Optimistis Hidrogen Bakal Jadi Pesaing Kuat Kendaraan Listrik Berbasis Baterai
-
Di Balik Layar Kesuksesan UMKM, Sosok Mantri BRI yang Tak Lelah Mendampingi
-
Efisiensi Pabrik Isuzu Karawang Melahirkan Unit Traga dan Elf Setiap Tujuh Menit
-
Tinggalkan Keluarga 3 Tahun, Ini Alasan Emosional Darije Kalezic Kembali ke PSM Makassar
-
Megawati Singgung Wajah Baru TIM: Dulu Milik Rakyat, Kini Terasa Borjuis
-
Instagram Cristiano Ronaldo Diduga Menyukai Unggahan FIFA Soal 'Bantu' Argentina
-
3 Zodiak yang Diprediksi Menarik Kekayaan Besok 22 Juli 2026, Pintu Rezeki Terbuka
-
Pindar Samir Tumbuh 84% di Semester Pertama 2026
-
Mulai 2027 Bensin Wajib Dicampur Etanol, Demi Kurangi Impor BBM