Suara.com - Di tengah tantangan industri perbankan yang diwarnai tekanan daya beli masyarakat, tingginya suku bunga kredit dalam beberapa tahun terakhir, serta kebutuhan penguatan kualitas aset pascapandemi, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) terus memperkuat fondasi manajemen risiko dan kualitas kredit melalui berbagai transformasi proses bisnis dan digitalisasi kredit yang masif.
Langkah strategis tersebut membuahkan hasil yang sangat positif. Per 31 Maret 2026, rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) BTN menunjukkan tren penurunan dan perbaikan yang signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Begitu pula pada bisnis inti pembiayaan perumahan, di mana rasio NPL Mortgage BTN sukses ditekan ke level yang lebih rendah dan semakin sehat.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, perbaikan kualitas aset tersebut merupakan hasil nyata dari berbagai inisiatif transformasi yang dilakukan Perseroan dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari penguatan proses underwriting, peningkatan kualitas verifikasi, digitalisasi proses kredit, hingga penguatan pengelolaan portofolio pascapencairan kredit.
“BTN tidak hanya berfokus pada pertumbuhan kredit, tetapi juga memastikan kualitas pertumbuhan tersebut tetap terjaga secara optimal. Karena itu, kami terus memperkuat proses bisnis dari hulu hingga hilir agar pertumbuhan yang dicapai jauh lebih sehat, aman, dan berkelanjutan,” ujar Nixon akhir pekan lalu.
Salah satu transformasi utama yang dijalankan BTN adalah implementasi Loan Factory, pusat pemrosesan kredit terintegrasi yang mengonsolidasikan proses kredit konsumer secara nasional melalui pemanfaatan teknologi digital, data analytics, decision engine, dan workflow automation.
Transformasi tersebut mendapat apresiasi positif dari analis pasar modal. Dalam laporan hasil site visit yang diterbitkan pada April 2026, Analis Bahana Sekuritas Razqi M. Kurniawan menyebut perbaikan kualitas aset pada kredit baru sebagai salah satu pencapaian paling menonjol dari implementasi Loan Factory BTN.
Berdasarkan kajian Bahana Sekuritas, rasio kredit bermasalah berdasarkan tahun pembukuan menunjukkan pemulihan dan kualitas yang sangat prima. Kredit yang dibukukan dalam beberapa tahun terakhir hingga April 2026 menunjukkan tingkat risiko yang terus menyusut tajam hingga mendekati nol persen, membuktikan bahwa portofolio kredit baru BTN saat ini berada dalam kondisi yang sangat sehat.
Selain meningkatkan kualitas kredit baru secara drastis, implementasi Loan Factory juga berhasil mempercepat efisiensi operasional secara signifikan seperti waktu pemrosesan kredit yang sebelumnya berkisar 10–14 hari berhasil dipangkas menjadi hanya 4–7 hari. Kemudian, tingkat straight-through processing melesat menuju kisaran 70%. Dan terakhir tingkat rework (proses ulang) berhasil ditekan hingga di bawah 15%.
BTN juga memperkuat pengelolaan portofolio melalui pendekatan Cluster Collection, yakni model penanganan kredit berbasis segmentasi risiko dan karakteristik debitur. Melalui pendekatan ini, proses monitoring, restrukturisasi, hingga pemulihan kredit dilakukan secara lebih fokus dan efektif sehingga mampu meningkatkan kualitas pengelolaan aset secara keseluruhan.
Baca Juga: BTN JAKIM 2026 Buka Race Expo, Dorong Perputaran Ekonomi dan UMKM Jakarta
“Perbaikan kualitas aset yang kami capai saat ini merupakan hasil dari transformasi menyeluruh yang dilakukan BTN, baik pada proses akuisisi kredit baru maupun pengelolaan portofolio eksisting. Kami akan terus memperkuat disiplin risiko dan tata kelola agar kualitas kredit tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi yang berkembang,” tambah Nixon.
Menatap masa depan, BTN optimis rasio NPL Perseroan pada akhir tahun 2026 dapat terus ditekan ke level yang jauh lebih rendah, sejalan dengan strategi pertumbuhan yang mengedepankan prinsip kehati-hatian, kualitas aset, dan keberlanjutan bisnis.
Perseroan meyakini transformasi proses kredit yang sedang dijalankan akan semakin memperkuat daya tahan bisnis BTN sekaligus mengukuhkan posisi Perseroan sebagai pemimpin pasar pembiayaan perumahan nasional dengan kualitas pertumbuhan yang jauh lebih sehat, kokoh, dan berkelanjutan.***
Berita Terkait
-
BTN JAKIM 2026 Buka Race Expo, Dorong Perputaran Ekonomi dan UMKM Jakarta
-
BTN Percepat Transformasi Ecosystem Banking untuk Dorong Pertumbuhan CASA dan Pendapatan Transaksi
-
BTN Kucurkan Kredit Rp1,5 Triliun ke Pindad, Sokong Produksi Maung MV3 Hingga Amunisi
-
Ini Cara Miliki Rumah Lelang BTN, Harga Bisa 40% di Bawah Pasar
-
BTN Akuisisi Portofolio Kredit SMBCI Rp20 Triliun untuk Perkuat Transformasi Beyond Mortgage
Terpopuler
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
- Mathew Baker Masih Dianggap Milik Australia meski Dipanggil Timnas Indonesia Senior
- Sinyal Penggulingan '98 Jilid 2' Menguat, Cuma PDIP dan Habib Rizieq yang Bisa Selamatkan Prabowo?
- 5 Bedak Padat Mengandung SPF, Praktis untuk Touch Up Sekaligus Lindungi Kulit dari Matahari
Pilihan
-
Lucky Hakim Dinobatkan Sebagai Bupati Terbaik, Wakilnya Malah Jadi Tersangka
-
Dasco Pagi-pagi Kumpulkan Menkeu Purbaya dan Gubernur BI di DPR, Evaluasi Ekonomi
-
Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
-
Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
-
Tersangka Korupsi MBG Sony Sonjaya Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator, Siap Ungkap Pihak Lain
Terkini
-
Berawal dari Keterbatasan, Kini Omzet UMKM Ini Meroket Berlipat
-
Transaksi Syariah Bank Mega Syariah Melonjak 89 Persen, Ini Pendorongnya
-
Purbaya Targetkan Penerimaan Pajak Tumbuh 20,5 Persen di 2026
-
Purbaya Bingung Ekonomi RI Dibilang Masuk Masa Resesi
-
8 Pinjol Masuk Pengawasan Khusus, Izin Usaha Terancam Dicabut
-
Analis: Isu Pergantian Gubernur BI Picu Kekhawatiran Investor Global, Risikonya Besar
-
Isu Reshuffle Menkeu-Gubernur BI, INDEF Ingatkan Risiko Ekonomi RI Terguncang
-
DC Solusiku Gunakan Intimidasi? OJK Turun Tangan Selidiki Dugaan Pelanggaran
-
Rupiah Masih Tertekan, Pengamat Anggap Dua Jurus BI-Kemenkeu Kurang Jitu
-
Emiten PGEO Bukukan Laba Bersih Tumbuh 40% pada Kuartal I-2026