Bisnis / Makro
Minggu, 28 Juni 2026 | 19:34 WIB
Pedagang beras melayani pembeli di pasar Cibubur, Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Kelangkaan beras premium di retail modern terjadi akibat tingginya harga gabah petani yang melampaui ketentuan HET pemerintah.
  • Produksi gabah nasional pada Juni 2026 mengalami penurunan signifikan sebesar 18 persen dibandingkan capaian pada bulan Mei 2026.
  • Produsen beras menghadapi dilema antara risiko kerugian finansial atau sanksi hukum akibat menjual harga di atas HET.

Suara.com - Kelangkaan komoditas pangan mulai mengancam jaringan retail modern tanah air . Sejumlah merek beras kualitas premium dilaporkan semakin sulit dijumpai oleh masyarakat di pasar swalayan. 

Kondisi mengkhawatirkan ini dipicu oleh lonjakan harga gabah di tingkat petani yang terus melesat di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) , sementara ketetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras tidak mengalami penyesuaian .

Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori, menjelaskan bahwa regulasi HET beras medium sebesar Rp13.500 per kilogram (kg) dan beras premium senilai Rp14.900 per kg untuk Wilayah Zona I diformulasikan dengan baseline HPP gabah di level Rp6.500 per kg .

Namun , situasi riil di lapangan saat ini sudah melampaui batas perhitungan tersebut .

"Ketika harga gabah makin mahal alias di atas HPP, beras hasil giling pun akan semakin mahal. Harga beras pun potensial melampaui HET. Kalau menjual di atas HET bisa berurusan dengan Satgas Pangan. Kalau mengikuti HET, produsen merugi," ungkap Khudori kepada wartawan, Minggu (28/6/2026).

Dilema Produsen: Bayang-Bayang Satgas Pangan atau Kerugian Finansial

Khudori menegaskan indikasi nyata dari ketimpangan tata niaga ini tercermin langsung dari menyusutnya ketersediaan barang di pasar.

"Beras premium aneka merek semakin terbatas didapatkan di retail modern," imbuhnya.

Menilik data komparasi Badan Pangan Nasional (Bapanas), grafik rata-rata gabah di tataran petani nasional sudah berada di angka Rp6.951 per kg per 7 Juni 2026 , dan kembali terdongkrak naik ke level Rp6.993 per kg pada 20 Juni 2026.

Baca Juga: Cabai Tembus Rp78.850, Bawang dan Beras Ikut Naik, Tekanan Harga Pangan Makin Berat

Di beberapa wilayah pemasok utama seperti Lampung dan Jawa Timur , nilai transaksi gabah bahkan dilaporkan menembus rentang Rp7.500 hingga Rp8.000 per kg.

Selain faktor harga dasar, akselerasi kenaikan ini juga dipengaruhi oleh melandainya volume panen secara nasional . Berdasarkan proyeksi mutakhir dari Badan Pusat Statistik (BPS), output gabah kering giling (GKG) pada Juni 2026 diperkirakan hanya menyentuh 4,05 juta ton.

Jumlah tersebut mencatatkan penurunan sekitar 18 persen bila dibandingkan pencapaian bulan Mei 2026 yang sempat menembus 4,94 juta ton GKG.

Kondisi pasokan yang menyusut ini kian pelik lantaran tingkat persaingan untuk memperoleh gabah petani tetap tinggi.

Di satu sisi, Perum Bulog masih gencar melakukan penyerapan gabah demi mengamankan target cadangan beras pemerintah. Di sisi lain, total kapasitas giling dari penggilingan padi nasional tercatat jauh lebih besar ketimbang volume produksi gabah yang tersedia .

"Ketika produksi kian melandai, sementara perebutan gabah tetap sengit, harga gabah akan terus naik," kata Khudori.

Load More