- Saham PT Bank Central Asia Tbk mengalami kenaikan harga menjadi Rp6.175 per lembar pada Selasa, 7 Juli 2026.
- Analis Philip Sekuritas memperingatkan potensi aksi ambil untung karena harga belum menembus level resistance di Rp6.550.
- Investor disarankan menunggu konfirmasi penguatan melalui level breakout agar tren kenaikan harga saham dapat berlanjut secara berkelanjutan.
Suara.com - Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dinilai masih dibayangi potensi aksi ambil untung (taking profit) setelah mengalami kenaikan dalam beberapa hari terakhir.
Pelaku pasar pun disarankan menunggu sinyal penguatan yang lebih meyakinkan sebelum kembali masuk ke saham perbankan berkapitalisasi jumbo tersebut.
Analis Philip Sekuritas menilai, pergerakan saham BBCA saat ini belum cukup kuat untuk mengonfirmasi tren kenaikan yang berkelanjutan. Pasalnya, kenaikan harga belum diikuti dengan keberhasilan menembus level resistance Rp6.550.
Adapun, pada pukul 11.32 WIB hari ini, saham BBCA naik 50 poin atau 0,82 persen di level Rp6.175 per saham.
"Saham BCA hari ini cenderung adanya aksi taking profit, makanya belakangan memang kita masih belum begitu bullish untuk saham perbankan karena penaikan yang terjadi ini yang tetang di 5090, ini belum diikuti dengan adanya resisten yang ditembus di Rp6.550," ujar analis Philip Sekuritas dalam Philip Morning Call yang dikutip, Selasa (7/7/2026).
Analis juga berpandangan saham BBCA baru akan berubah menjadi lebih positif apabila harga mampu menembus level Rp6.550. Jika level tersebut berhasil dilewati, saham BBCA berpotensi melanjutkan penguatan menuju area gap di atasnya.
"Kita akan berubah pandangan jadi menarik kembali jika dia bisa melewati level Rp6.550. Untuk higher high ada potensi dia melanjutkan kenaikan ke level yang gap ini," katanya.
Sebelum terjadi breakout, investor disarankan tetap berhati-hati karena masih terdapat risiko saham BBCA kembali bergerak melemah.
Sebagai informasi saja, breakout adalah kondisi ketika harga saham berhasil menembus level penting, seperti resistance (batas atas) atau support (batas bawah) yang biasanya disertai peningkatan volume transaksi.
Baca Juga: BBCA Diborong, BMRI Dilepas Asing Saat IHSG Ditutup Menguat
"Kita tunggu dia bisa lewati Rp6.550 baru menarik jujur untuk BCA. Sekarang saya masih potensi dulu khawatir dia akan mengulang potensi daripada pergerakannya yang cenderung turun. Kemudian kita juga mau lanjut, kalau BCA kita nunggu ada momen dia breakout," kata Analis Philip Sekuritas.
Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
Pilihan
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
Terkini
-
Usai IPO, Saham JELI Langsung ARA
-
BI Tak Agresif Stabilkan Rupiah, Cadangan Devisa Naik Hingga Akhir Juni Jadi Rp2.606 T
-
Produksi Listrik PLN Nusantara Power Capai 66.919 GWh pada 2025
-
Resmi IPO, Saham JECX Langsung Terbang 24,8%
-
Rupiah Menguat Tipis, Dolar AS Masih di Level Rp17.990
-
Bisa Borong, Harga Emas Antam Turun Jadi Rp2.655.000/Gram
-
Bergerak Dua Arah, IHSG Masih Bertengger di Level 5.900
-
Harga Minyak Naik Tipis di Tengah Bayang-Bayang Melimpahnya Pasokan
-
SMGR Catat Penjualan Semen Tumbuh 4,4% hingga Mei 2026
-
Home Credit Genjot Pembiayaan Usai Penyaluran Kredit Tumbuh 14% pada Kuartal I 2026