Bisnis / Keuangan
Kamis, 09 Juli 2026 | 18:09 WIB
Fundamental ekonomi dan kondisi fiskal Indonesia yang tetap kuat belum mampu mengembalikan kepercayaan investor di pasar modal. Foto Antara.
Baca 10 detik
  • MSCI freeze picu dana asing Rp75 triliun keluar dari pasar saham RI.
  • APBN kuat, tetapi pasar modal masih kehilangan kepercayaan investor asing.
  • Samuel: Masuknya dana baru bergantung pencabutan freeze review MSCI.

Suara.com - Fundamental ekonomi dan kondisi fiskal Indonesia yang tetap kuat belum mampu mengembalikan kepercayaan investor di pasar modal. Di tengah pertumbuhan ekonomi yang tetap berada di atas 5% dan realisasi APBN semester I-2026 yang menunjukkan perbaikan, pasar saham domestik masih dibayangi derasnya arus keluar dana asing akibat pembekuan (freeze) review saham Indonesia oleh MSCI.

Deputi Presiden Direktur PT Samuel Sekuritas, Suria Dharma, mengungkapkan hingga pertengahan 2026 dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia telah mencapai sekitar Rp75 triliun. Nilai tersebut jauh lebih besar dibandingkan kondisi normal pada tahun-tahun sebelumnya.

"Angka ini sangat besar. Dulu foreign outflow Rp30 triliun dalam satu tahun saja sudah dianggap besar. Sekarang, dalam tujuh bulan sudah mencapai Rp75 triliun," ujar Suria dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (9/7/2026).

Menurut Suria, tekanan di pasar saham bukan disebabkan oleh melemahnya fundamental ekonomi nasional, melainkan ketidakpastian terkait status review saham Indonesia oleh MSCI. Meski Indonesia tetap dipertahankan sebagai negara dengan status emerging market, pembekuan review membuat tidak ada penambahan emiten baru ke dalam indeks MSCI maupun penyesuaian free float.

Ia menjelaskan, selama status pembekuan belum dicabut, investor institusi global akan cenderung menahan alokasi investasi baru ke pasar saham Indonesia.

"Yang menjadi persoalan saat ini bukan lagi status emerging market, tetapi kapan status freeze itu dibuka. Selama review saham Indonesia masih dibekukan, dana asing yang baru tidak akan masuk ke pasar modal kita," katanya.

Samuel Sekuritas mencatat regulator sebenarnya telah melakukan berbagai pembenahan untuk memenuhi masukan MSCI, mulai dari meningkatkan transparansi kepemilikan saham dari batas 5% menjadi 1% hingga memperluas keterbukaan informasi mengenai ultimate beneficial ownership (UBO).

Namun, evaluasi MSCI pada April 2026 belum membuka pembekuan tersebut. Bahkan perubahan metodologi perhitungan free float membuat sejumlah emiten Indonesia mengalami penurunan kapitalisasi pasar berbasis free float, sehingga berpotensi keluar dari indeks MSCI.

Meski demikian, Suria menilai secara keseluruhan aliran modal asing ke Indonesia sebenarnya masih positif. Berdasarkan paparan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dana asing yang masuk melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) telah mencapai sekitar Rp170 triliun.

Baca Juga: INDEF Ungkap Kelas Menengah RI Tertekan, 10 Juta Orang Turun Kelas dalam Waktu Sedekade

Selain itu, kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) juga mulai mencatat arus masuk setelah sebelumnya mengalami tekanan, dengan posisi surplus sekitar Rp7 triliun.

"Secara overall sebenarnya masih positif. Isunya memang ada di pasar modal," ujarnya.

Di sisi lain, kondisi fiskal Indonesia dinilai tetap memberikan sentimen positif bagi investor. Realisasi pendapatan negara pada semester I-2026 mencapai Rp1.459,4 triliun atau 46,3% dari target APBN, tumbuh 21,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kinerja tersebut ditopang penerimaan perpajakan sebesar Rp1.187,8 triliun atau 44,1% dari target APBN. Suria menilai kekhawatiran terhadap implementasi sistem Coretax mulai mereda setelah penerimaan pajak menunjukkan perbaikan dalam beberapa bulan terakhir.

Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) juga mencatat pertumbuhan 21,6% menjadi Rp271 triliun atau 59% dari target, meski pemerintah tidak lagi memperoleh dividen BUMN seperti tahun-tahun sebelumnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufiqurrahman, mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61% pada kuartal I-2026 menunjukkan fondasi ekonomi nasional masih kokoh.

Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II masih berpotensi mencapai sekitar 5,4% seiring efektivitas stimulus fiskal senilai Rp26,84 triliun yang dikucurkan pemerintah untuk menjaga konsumsi masyarakat.

Meski demikian, Rizal mengingatkan pemerintah tidak boleh lengah. Pelemahan daya beli kelas menengah, inflasi yang belum sepenuhnya didorong oleh peningkatan konsumsi, serta sikap wait and see investor global masih menjadi tantangan yang harus diantisipasi.

Menurutnya, keberhasilan menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5% harus diikuti dengan kebijakan yang mampu meningkatkan kepercayaan investor, memperkuat pasar modal, serta melanjutkan reformasi struktural agar Indonesia tetap menjadi salah satu tujuan investasi utama di kawasan.

Load More