- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memprediksi defisit APBN 2026 mencapai Rp 734,3 triliun atau 2,85 persen terhadap PDB.
- Proyeksi defisit muncul karena outlook belanja negara sebesar Rp 3.942,4 triliun melampaui estimasi pendapatan negara sebesar Rp 3.208,1 triliun.
- Pemerintah berupaya menekan defisit anggaran melalui optimalisasi pendapatan perpajakan serta pengaturan belanja prioritas pembangunan dan kewajiban subsidi.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memprediksi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2026 mencapai Rp 734,3 triliun atau setara 2,85 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Jika dibandingkan dengan target awal defisit APBN 2026, angka ini melonjak dari Rp 689,1 triliun atau 2,68 persen terhadap PDB. Namun Menkeu Purbaya yakin kalau defisit APBN masih bisa ditekan.
"Outlook defisit APBN tercatat sebesar Rp 734,3 triliun dengan presentasi sebesar 2,85% terhadap PDB. Dengan demikian, outlook pembiayaan anggaran menjadi sebesar Rp734,3 triliun. Saya yakin kita masih bisa menekan defisit ini ke bawah," katanya dalam Rapat Kerja dengan Badan Anggaran DPR RI, dikutip Senin (13/7/2026).
Proyeksi defisit APBN 2026 ini terjadi setelah Purbaya menghitung kemungkinan belanja Pemerintah lebih besar dibanding pendapatan negara.
Dalam paparannya, outlook pendapatan negara diperkirakan mencapai Rp 3.208,1 triliun atau mencapai 101,7 persen dari target APBN 2026. Angka ini juga tumbuh 16 persen yoy jika terealisasi.
Outlook tersebut didasari dari Penerimaan Perpajakan sebesar Rp 2.631,4 triliun, atau tumbuh 18,6 persen. Angka ini meliputi penerimaan pajak Rp 2.310,8 triliun atau naik 20,5 persen, Kepabeanan dan Cukai Rp 320,6 triliun atau naik 6,8 persen.
Kemudian ada Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dengan proyeksi sebesar Rp 575,1 triliun atau tumbuh 6,2 persen. Purbaya juga yakin kalau Kementerian Keuangan (Kemenkeu) bakal menaikkan penerimaan pajak hingga 23 persen sampai akhir tahun.
Sementara itu outlook Belanja Negara diproyeksikan tembus Rp 3.942,4 triliun atau 102,6 persen dari pagu APBN atau tumbuh 14,8 persen yoy.
Pengeluaran ini meliputi Belanja Pemerintah Pusat Rp 3.245,5 triliun atau tumbuh 25,5 persen yoy. Lalu anggaran Transfer ke Daerah (TKD) Rp 696,9 triliun atau 100,6 persen dari pagu APBN atau tumbuh 14,8 persen yoy.
Baca Juga: Biaya Haji 2027 Diusulkan Naik, Mengapa DPR Menolak APBN Menanggung Ongkos Jemaah?
"Outlook belanja ditunjukkan untuk mendukung program prioritas pembangunan menjaga stabilitas harga pangan dan daya beli masyarakat, serta untuk mendukung penyelenggaraan pemerintahan daerah penanggulangan bencana dan tambahan otsus. Selain itu, outlook belanja tersebut sudah memperhitungkan tambahan sebesar Rp132 triliun untuk pembayaran kewajiban pemerintah, subsidi dan kompensasi," jelas Purbaya.
Berita Terkait
-
Biaya Haji 2027 Diusulkan Naik, Mengapa DPR Menolak APBN Menanggung Ongkos Jemaah?
-
Belanja Subsidi & Kompensasi Naik 44% ke Rp 233 T, Purbaya Akui Gegara BBM hingga Pelemahan Rupiah
-
Purbaya Kenang Tragedi Montara 2009, Janjikan Ganti Rugi ke Warga NTT
-
Purbaya: APBN Tak Bisa Ciptakan Pertumbuhan Ekonomi dan Kesejahteraan
-
Purbaya Akan Minta Penjelasan Kemenhan soal Anggaran Rudal Brahmos India
Terpopuler
- Bedak Tabur atau Bedak Padat Dulu? Panduan Makeup Flawless Tahan Lama
- 4 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Sesuai Review Pembeli
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- Aisyah Zakkiyah, Komisaris Baru PTPP yang Viral Punya Gaji dan Tunjangan Miliaran
- Bedak Tabur Apa yang Bikin Glowing dan Tahan Lama? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan
-
Jadi Tersangka Bareng Eks Jampidsus Febrie, Don Ritto Sudah Ditahan di Rutan Polda Metro Jaya
-
Polri Tetapkan Febrie Adriansyah dan DR Tersangka Kasus Dugaan Korupsi serta TPPU
Terkini
-
Meski Labanya Ribuan Persen, Saham GGRM Belum Layak Dibeli
-
Prabowo Minta yang Pesimistis Tinggalkan Indonesia, IKK Turun hingga IHSG Anjlok 32% YTD
-
Skandal KUR BNI, Kejati Ungkap Korupsi Rp41,48 Miliar Libatkan 900 Petani Fiktif
-
Alasan PT KAI Rombak Stasiun Bogor Secara Besar-besaran
-
Kementan Tambah Anggaran Pertanian Papua, Total Alokasi 2026 Capai Rp3,2 Triliun
-
Jakarta Fair Kemayoran 2026 Catat Transaksi Lebih dari Rp8 Triliun, Dikunjungi 6 Juta Orang
-
Rupiah Terus Anjlok, Dolar AS Naik ke Level Rp18.116
-
IHSG Mulai Menguat Lagi Pagi ini, Saham RANS Diburu Investor
-
Jakarta Fair 2026 Ditutup, Transaksi Tembus Rp8,2 Triliun dan Dikunjungi 6,1 Juta Orang
-
Garuda Indonesia Ubah Aturan Bagasi, Bisa Bawa Hingga 64 Kg