Bisnis / Makro
Selasa, 14 Juli 2026 | 14:26 WIB
Suasana gedung bertingkat perkantoran di Jakarta, Kamis (7-3-2024). [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Pemerintah: Ketidakpastian ekonomi global kini menjadi "new normal".
  • Konflik Timur Tengah picu lonjakan komoditas dan ancaman suku bunga naik.
  • Indonesia terancam terdampak karena rentan terhadap gejolak ekonomi global.

Suara.com - Pemerintah mengakui ketidakpastian ekonomi global kini bukan lagi sekadar gejolak sementara. Konflik geopolitik yang terus memanas, lonjakan harga komoditas, hingga potensi kenaikan suku bunga global dinilai telah berubah menjadi "new normal", sehingga memperbesar risiko terhadap perekonomian Indonesia.

Peringatan tersebut disampaikan Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ferry Irawan, saat membacakan sambutan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dalam Risk and Governance Summit (RGS) 2026 di Jakarta, Selasa (14/7/2026).

Menurut Ferry, dinamika global saat ini menunjukkan bahwa dunia memasuki era penuh ketidakpastian yang berkepanjangan. Kondisi tersebut membuat risiko ekonomi semakin sulit diprediksi dan berpotensi menekan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Sebagaimana yang kita sama-sama monitor, kita hidup di tengah berbagai ketidakpastian yang mungkin dengan melihat perkembangan yang ada, ini bukan lagi kita bisa bilang sementara, tapi kondisi yang mungkin new normal," ujar Ferry.

Ia menjelaskan, konflik geopolitik, gejolak pasar keuangan, hingga terganggunya rantai pasok global kini saling berkaitan dan menciptakan tekanan berlapis terhadap perekonomian dunia.

Ferry mencontohkan situasi di Timur Tengah yang kembali memanas. Meski sebelumnya sempat muncul harapan perdamaian, eskalasi konflik kembali terjadi sehingga memicu kekhawatiran baru di pasar global.

"Kalau sebelumnya Iran dan US telah menandatangani MoU untuk mereka sepakat untuk damai, hari ini masih saling lempar rudal," katanya.

Menurut dia, memanasnya konflik tersebut telah mendorong harga berbagai komoditas kembali naik. Dampaknya tidak berhenti di situ. Lonjakan harga komoditas juga meningkatkan ekspektasi bahwa bank-bank sentral dunia akan mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga lebih lama dari perkiraan.

"Kenaikan harga komoditas menyebabkan ekspektasi suku bunga yang sebelumnya diperkirakan turun, sekarang malah akan naik," ujarnya.

Baca Juga: S&P Pertahankan Rating Indonesia, Pemerintah Sebut Jadi Sinyal Positif bagi Ekonomi

Situasi tersebut menjadi ancaman serius bagi Indonesia yang memiliki karakteristik small open economy, karena sangat bergantung pada perdagangan internasional, arus investasi, dan stabilitas pasar keuangan global.

Kenaikan suku bunga global berpotensi memperketat likuiditas, menekan nilai tukar rupiah, meningkatkan biaya pendanaan, hingga memperlambat investasi dan pertumbuhan ekonomi domestik apabila tekanan eksternal terus berlanjut.

Karena itu, Ferry menilai pemerintah dan pelaku usaha harus memperkuat manajemen risiko serta tata kelola agar mampu menghadapi tekanan global yang diperkirakan akan berlangsung dalam jangka panjang.

"Dengan konteks risiko ini, manajemen risiko yang efektif dan tata kelola yang kuat itu tentu menjadi satu hal esensial yang perlu kita sama-sama bangun," pungkasnya.

Load More